Muhammad Shalih Umar

sudanMuhammad Shalih Umar adalah seorang pemimpin pergerakan Islam di Sudan, perintis utama Revolusi Oktober 1964, dan menteri di Pemerintahan Revolusi. Beliau dibesarkan dalam asuhan dakwah Islam. Sejak masih di bangku sekolah, beliau sudah menjadi da’i dengan wawaan yang luas dan menjadi penentang pernyataan orang-orang komunis dan kaum sekuler di setiap seminar dan dialog yang diselenggarakan di perguruan tinggi.

Saat dipilih sebagai pemimpin pergerakan Islam di Sudan, tampaklah kepiawaiannya dan kelayakannya sebagai pemimpin dan keluwesannya dalam menangani masalah. Di akhir 1960-an, anggota pergerakan Islam Sudan ikut serta dalam penyerangan Israel di perbatasan. Mereka memasuki peperangan sengit dengan Yahudi. Beberapa Ikhwan mati syahid dan banyak pula yang terluka. Namun, mereka berhasil memberi pukulan telak kepada Yahudi.

Bersamaan dengan pertempuran di Palestina, pemerintah diktator Sudan berlaku zalim kepada masyarakatnya. Rumah-rumah beserta penghuninya dihancurkan dan kantong-kantong Islam dibombardir dengan pesawat tempur. Mendapat kabar demikian, Muhammad Shalih Umar beserta rekan-rekan izin pulang ke Sudan untuk memerangi thagut. Mereka memasuki kancah pertempuran di Pulau Aba. Di sana, Muhammad Shalih Umar menemui syahidnya.

Muhammad Shalih Umar adalah tokoh berbudi halus, lembut, berpendirian kokoh, tegar di pertempuran, cerdik di permainan politik, dan tidak mudah tertipu kata-kata indah dari para politikus. Beliau memburu syahid di Palestina, tetapi Allah mengkaruniakan syahid di Sudan.

 

***

Diringkas dari buku Mereka yang Telah Pergi, Abdullah Al ‘Aqil.

Advertisements

Dr. Muhammad Natsir (1)

Sebuah ringkasan…

natsir

Tempat, tanggal lahir, dan masa kecil Muhammad Natsir

Muhammad Natsir bin Idris Sutan Saripado adalah seorang ulama yang piawai, politikus cekatan, dan pendidik utama. Beliau lahir tanggal 16 Juli 1908 di Maninjau, Sumatera Barat, dilahirkan di keluarga yang agamis. Ayahnya adlah seorang ulama yang terkenal di Indonesia. Muhammad Natsir mendapat ijazah perguruan tinggi di Fakultas Tarbiyah Bandung. Selain itu, beliau menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Libanon dalam bidang sastra, dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Saint Teknologi Malaysia dalam bidang pemikiran Islam.

Tahun 1945, Dr. Moh. Hatta, Wapres RI setelah kemerdekaan memintanya membantu melawan penjajah, kemudian menjadi anggota MPRS. Tahun 1946 mendirikan partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dan menjabat sebagai Menteri Penerangan selama 4 tahun.

Perjuangan M. Natsir

Ketika Belanda hendak menjadikan Indonesia menjadi negara serikat, M. Natsir menentangnya dan mengajukan pembentukan NKRI. Usulan itu disetujui oleh 90% anggota menterinya. Pada tahun 1950, beliau diminta membentuk kabinet sekaligus menjadi Perdana Menterinya. Namun, belum genap satu tahun menjabat, M. Natsir dipecat karena dianggap berseberangan dengan Presiden Soekarno. Beliau tetap menjadi pemimpin Masyumi dan menjadi anggota parlemen sampai tahun 1957.

M. Natsir adalah tokoh kontemporer dunia Islam, mujahid yang menerjuni pertarungan sengit di setiap jenjang, dan politikus piawai, serta memegang jabatan penting di Indonesia. Beliau juga mencurahkan segenap kemampuannya untuk menjadikan Islam sebagai sistem pemerintahan Indonesia. M. Natsir senantiasa melawan orang-orang yang menghalangi tegaknya Islam. Beliau juga menyerukan bahwa Islam sebagai titik tolak kemerdekaan dan kedaulatan.

Pada masa Demokrasi Terpimpin pada tahun 1958, M. Natsir menentang sikap politik pemerintah. Keadaan ini mendorongnya bergabung dengan para penentang lainnya dan membentuk PRRI, suatu pemerintahan tandingan di pedalaman Sumatera. Tokoh PRRI menyatakan bahwa pemerintah di bawah Presiden Soekarno saat itu secara garis besar telah menyeleweng dari UUD 1945. Akibatnya, M. Natsir dan tokoh PRRI lainnya yang didominasi anggota Masyumi, mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Manhaj Dakwah Muhammad Natsir

M. Natsir dibebaskan pada bulan Juli 1966 setelah pemerintahan Orde Lama digantikan oleh pemerintahan Orde Baru. Keluar dari penjara, beliau dan kawan-kawan mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) yang memusatkan aktivitasnya untuk membina masyarakat, mengerahkan para pemuda dan menyiapkan da’i, mendirikan pusat kegiatan Islam dan masjid, menyebarkan buku-buku Islam, membentuk ikatan pelajar Islam, dan lain-lain. Tahun 1967, M. Natsir dipilih menjadi Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional di Pakistan.

…bersambung

Sekilas Penoreh Sejarah: Abdul Qadir Audah

Abdul Qadir Audah adalah seorang ahli perundang-undangan dan hukum Islam. Pada tahun 1930, beliau lulus dari Fakultas Hukum dengan peringkat terbaik dan menjadi satu-satunya lulusan yang diangkat langsung sebagai anggota parlemen Mesir, tanah kelahirannya. Selain menjadi anggota parlemen, beliau merangkap sebagai hakim di pemerintahan Mesir.

Di parlemen, beliau bertemu dengan Imam Hasan Al Banna dan merasa sepemikiran dengannya. Hingga suatu ketika ada usaha dari pemerintah untuk menjatuhkan Hasan Al Banna bahkan usaha agar beliau tidak terpilih lagi menjadi anggota parlemen. Mengetahui hal ini, Abdul Qadir Audah tidak tinggal diam. Beliau pergi ke Ismailiyah untuk mengobarkan semangat rakyat agar dapat melakukan pemilihan secara bebas. Beliau juga menyampaikan akan memberikan perlindungan bila ada pihak yang mengganggu, sekalipun dari pemerintah.

Beliau berperan penting dalam perjalanan peristiwa di Mesir setelah syahidnya Imam Hasan al Banna. Karena kiprahnya yang luar biasa, beliau kemudian diamanahi untuk menjadi Wakil Ketua Pimpinan Ikhwanul Muslimin, mendampingi Hasan Al Hudhaibi, Mursyid Am kedua.

Di masa pemerintahan Jenderal Muhammad Najib, beliau diangkat menjadi anggota perancang undang-undang nasional Mesir. Kesempatan ini beliau gunakan untuk menjadikan Al Qur’an sebagai sebenar-benar dasar hukum negara.

Dan pada tahun 1953, beliau diminta oleh pemerintah Libia untuk menyusun undang-undang negara Libia berdasarkan nash-nash Al Qur’an.

Pada tahun 1954, pemimpin Mesir kala itu, Gamal Abdul Nasser, ingin membubarkan Ikhwanul Muslimin. Namun, hal ini mendapat perlawanan dari Abdul Qadir Audah. Sebagai bentuk protesnya, beliau mendesak para jenderal dan beberapa menteri untuk mengangkat kembali Jenderal Muhammad Najib sebagai Presiden Mesir.

Beliau juga mengorganisasi ribuan orang untuk melakukan demonstrasi yang bertujuan mendesak Jenderal Muhammad Najib agar bersedia menghapus kezaliman, membebaskan para tahanan yang tidak bersalah, dan mengadili orang-orang yang benar-benar bersalah. Keinginan tersebut akhirnya disetujui oleh Jenderal Muhammad Najib.

Karena besarnya pengaruh Adul Qadir Audah, petang hari itu juga, beliau ditangkap dan diseret ke penjara perang. Beliau divonis hukuman mati yang diterimanya dengan penuh gembira dan tawakkal. Kata terakhir yang beliau ucapkan adalah, “Darahku menjadi laknat atas peminpin-pemimpin revolusi.”

Allah lalu mengabulkan doanya. Orang-orang yang menzaliminya mendapatkan siksaan dari Allah.

***

sumber:

  1. Republika.co.id (1), (2), (3)
  2. Sekolah Kehidupan
  3. Spirit Islam Inside
  4. Kajian Qur’an dan Dunia Islam