Tafsir QS. Al Hujurat: 14

Resume Kajian Mushala Al Mushlihin 1 April 2014

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menurut Ibnu Katsir, Allah mengingkari keimanan orang-orang Arab Badui tersebut karena mereka baru masuk Islam, sedang keimanan belum bertambah mantap dalam hati mereka. Dalam ayat ini terlihat perbedaan antara predikat mukmin dan muslim. Keimanan sendiri lebih khusus daripada keislaman, sebagaimana yang dipegang oleh mahzab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal ini ditunjukkan pula dalam hadits Malaikat Jibril ‘alaihissalam yang bertanya perihal islam, iman, dan ihsan (Hadits Arba’in ke-2), yang membedakan tingkatan antara muslim, mukmin, dan muhsin.

Kepada siapakah ayat ini diturunkan?

  • Mujahid rahimahullah: Bani Asad bin Khuzaimah
  • Imam Qurthubi rahimahullah: Bani Asad, karena mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika paceklik. Bani Asad sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi hatinya belum beriman karena mereka telah melakukan perusakan.
  • Qatadah rahimahullah: kepada kaum yang berharap dengan keimanannya akan mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Al Sudi rahimahullah: ayat ini turun berkenaan dengan Juhainah, Muzainah, Asyja’, dan Ghifar

Menurut para ulama, ketika kata iman dan islam disebutkan dalam satu ayat yang sama, keduanya memiliki arti yang berbeda. Namun, ketika keduanya disebutkan dalam ayat-ayat yang berbeda (kata islam di ayat yang satu dan iman di ayat lainnya), itu berarti keduanya memiliki makna yang sama (bermakna umum). Contohnya pada QS. Al Baqarah: 183 yang menyebutkan “Ya ayyuhal ladzina amanu”. Maksud dari ayat tersebut adalah menyeru orang muslim secara keseluruhan, bahwa puasa adalah kewajiban seorang muslim.

Allahua’lam bish shawab.

Advertisements

Tafsir Al Qur’an Surat Nuh: 13-20

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (١٣
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
Kata waqaara ditafsirkan sebagai keagungan Allah ta’ala. Ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Adh Dhahhak.
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (١٤
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
Kata athwaaraa di sini ditafsirkan sebagai:
  • Proses penciptaan manusia (Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Yahya bin Rafi, As Suddi, dan Ibnu Zaid)

Pada ayat lain,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu… (QS. Ghafir: 67)

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Nuthfah; Wahai Rabbku! Segumpal darah; wahai Rabbku! Segumpal daging. ” Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?” Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari)
  • Usia manusia: dari bayi, anak-anak, pemuda, orang tua
  • Keadaan manusia: sehat-sakit, kaya-miskin, melihat-tidak melihat.
  • Sifat manusia: perbedaan dalam perilaku mereka, budi pekerti, dan perbuatan

kapalnabi-nuh

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (١٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

Maksudnya satu tingkatan di atas satu tingkatan lainnya.

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (١٦
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
Istilah nuur dan siraaj sama-sama berarti cahaya, tetapi keduanya berbeda kadarnya. Nuur diartikan sebagai cahaya yang tidak panas, dalam hal ini dikaitkan dengan cahaya bulan (Al Qamar) yang sifatnya tidak panas. Sedangkan siraaj adalah cahaya yang panas, yaitu cahaya matahari (Asy Syam). Dalam ayat lain, yaitu Surat Yunus: 5, Allah ta’ala menggunakan istilah dhiyaa’ yang semakna dengan kata siraaj.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٥
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus: 5)
وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا    (١٧) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (١٨
Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikanmu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.
Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, kemudian akan dikembalikan ke tanah ketika meninggal dunia. Dan pada hari kiamat, Dia akan mengembalikan manusia sebagaimana Dia menciptakan pertama kali.
Dalam ayat lain,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah: 28)
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا (١٩) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا (٢٠
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.
Maksudnya, Allah menghamparkan, membentangkan, meneguhkan, dan mengokohkan bumi dengan gunung-gunung yang tinggi menjulang agar manusia dapat menetap dan melintasi jalanan di sana kemana saja dikehendaki.
*) Kajian tanggal 30 April 2013 @Mushola Al Mushlihin oleh Ust. Abdurrahman Assegaf
*) Tafsir Ibnu Katsir, Penyusun: Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh