Doa untuk Mayit

Kajian tanggal 26 September 2012 @Mushola Al Mushlihin.

***

Doa untuk Mayit

Orang yang meninggal dapat memperoleh manfaat atas orang yang hidup karena dua perkara, yaitu:

  1. Dari kebaikan yang ia lakukan semasa hidup, misalnya semasa hidup ia pernah menjadi ketua RT yang menetapkan aturan yang mengandung mashlahat bagi warga dan sampai ia meninggal peraturan tersebut masih diterapkan, maka ia masih mendapat pahalanya.
  2. Doa orang muslim, permintaan ampunan bagi mereka, dan sedekah

Sedangkan masalah haji, ada dua pendapat:

  1. Muhammad bin Hasan: Mayit mendapat pahala sedekah, dan yang menghajikan mendapat pahala haji.
  2. Jumhur ‘ulama: Mayit mendapatkan pahala haji.

(gambar: dari sini)

Tentang ibadah badaniyah, semisal puasa, shalat, dan sebagainya, pata ‘ulama berbeda pendapat:

  1. Imam Malik dan Imam Syafi’i: tidak sampai pahalanya untuk mayit.
  2. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan jumhur ‘ulama: pahalanya sampai.
  3. Ahli kalam (Mu’tazilah): semua tidak sampai pahalanya.

Dalil tidak sampainya pahala:

  • QS. An Najm: 39

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

  • QS. Yaasin: 54

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.”

  • QS. Al Baqarah: 286

“… Ia mendapat pahal (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

  • Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Tirmidzi)
  • Dari Ibnu Abbas ra: “Seseorang tidak shalat untuk orang lain, dan seseorang tidak puasa untuk orang lain. Akan tetapi cukup memberikan makan untuknya setiap hari satu mud dari gandum. (HR An-Nasa’i, hadits ini hadits dhaif)
  • Amalan untuk mengirim “hadiah” tidak pernah disebutkan bahwa para ‘ulama terdahulu melakukannya.

Dalil sampainya pahala bagi mayit, di antaranya:

  • QS. An-Najm: 39, QS. Yaasiin: 54, QS. Al Baqarah: 286 menetapkan pahala bagi mereka yang beramal, tapi tidak menyatakan larangan  untuk mengirimkannya.
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, tidak menyatakan putusnya pahala, tetapi hanya putusnya ‘amal/perbuatan.
  • Tidak disebutkannya amalan ini dilakukan oleh para ‘ulama, bukan berarti mereka tidak pernah melakukannya. Ini adalah amalan hati atau niat yang sulit diketahui.
  • QS. Al Hasyr: 10

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

  • Dari Utsman bin Affan: “Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau berdiri lalu bersabda: ‘Mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya.'” (HR. Abu Dawud)
  • Berkata Ibnu Abbas: “Rasulullah melewati kuburan di Madinah, Beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka dan bersabda: ‘Salam untuk kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian.'”  (HR. Tirmidzi)

Bacaan Al Qur’an bagi Mayit

Menurut Imam Sya’rani: Perbedaan dalam hal sampai atau tidaknya pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah masyhur dan masing-masing dari dua pendapat itu memiliki alasan sendiri. Adapun menurut Mazhab Ahlussunnah boleh bagi seseorang menghadiahkan pahala amalnya untuk orang lain, hal ini telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.
***

Allahua’lam.

Download materi kajian >> Do’a untuk Mayit

Fiqh Shalat Jenazah #2

Menshalatkan Lebih dari Satu Jenazah

Boleh manggabungkan beberapa jenazah dalam sekali shalat. Bila dikerjakan sekaligus, jenazah disusun ke arah kiblat, yang lebih alim diletakkan paling dekat dengan imam. Jika tempat tidak memungkinkan, diperbolehkan menyusunnya dengan berderet, dengan imam berdiri di hadapan jenazah yang lebih alim.

Namun, jika memungkinkan, lebih baik dishalatkan satu per satu, dengan jenazah yang paling alim sebagai urutan pertama.

Masbuk Shalat Jenazah

Jika ada makmum masbuk, ia mengikuti takbir imam, setelah imam salam kemudian menyempurnakan shalatnya. Sedangkan bacaan setelah takbir, disesuaikan dengan urutan takbir makmum, tapi gerakan takbirnya mengikuti imam. Misalnya, ketika masbuk saat imam berada di takbir kedua, maka masbuk ikut gerakan imam, tapi membaca Al Fatihah. Ketika imam salam dan jenazah akan segera dibawa ke pekuburan, makmum masbuk mempercepat shalat jenazahnya dengan tanpa membaca bacaan shalat jenazah.

Waktu Shalat Jenazah

1. Hanafiyah: dilarang di waktu-waktu terlarang shalat, seperti ba’da asar, ba’da subuh, dan saat matahari tepat berada di atas kepala.

2. Malikiyah dan Hanabilah: ketika matahari terbit, saat matahari tenggelam, dan ketika matahari tepat berada di atas kepala. Dasarnya: “Ada tiga waktu di mana Nabi n melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim)

3. Syafi’iyah: tidak mengapa dishalatkan kapan saja karena shalat jenazah termasuk shalat yang ada sebabnya, tetapi bila bisa dihindari, lebih utama. Hukumnya menjadi makruh. Shalat jenazah jangan sampai dikerjakan dalam waktu yang sangat dekat dengan masuknya waktu shalat fardhu, lebih baik menunggu azan terlebih dahulu, lalu shalat fardhu, kemudian barulah melaksanakan shalat jenazah.

Menshalatkan Jenazah Setelah Dikubur

1. Hanafiyah dan Malikiyah: makruh untuk berulang jika shalat yang pertama sudah dilakukan secara berjama’ah.

2. Syafi’iyah dan Hanabilah: tidak mengapa berulang, setelah dikubur, baru dishalatkan. Ini berdasarkan hadits: “Rasulullah sampai ke kubur yang masih basah, maka beliau shalat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat di belakang beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat diperbolehkan, karena yang tidak diperbolehkan shalat di kuburan adalah shalat yang ada sujud dan ruku’nya. Sedangkan shalat jenazah pada hakikatnya adalah doa untuk mayit.

Jika Jenazah belum Dishalatkan

1. Hanafiyah: Kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, sebaiknya dishalatkan di atas kuburnya.

2. Malikiyah: kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, jenazah dikeluarkan, dishalatkan, lalu dikubur lagi.

3. Syafi’iyah: kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, jenazah cukup dishalatkan di atas kuburnya, kecuali jika jenazah belum dimandikan, harus dikeluarkan dulu, dimandikan, baru dishalatkan.

Allahua’lam.. 🙂

Musholla Al Mushlihin

4 April 2012

Jawaban Istikharah Lewat Mimpi?

A: Kak, katanya kalau shalat istikharah 3x dapet jawaban atas masalah yang kita hadapi. Tapi kemarin aku gak jadi istikharah, diganti tahajjud, eh, habis itu mimpi tentang masalah itu. Itu gimana kak?

Dan sayapun mencari jawabannya..

 


***

Hasilnya adalah..

Mimpi bisa saja menjadi media jawaban istikharah kita. “Bisa saja” lho ya, bukan mutlak. Karena mimpi pun bisa jadi hasil intervensi setan. Jadi, bisa saja mimpi itu justru menyesatkan.

Sejatinya, istikharah dilakukan untuk memantapkan pilihan atas apa yang telah ia tekadkan, bukan menentukan pilihan. Berarti di sini istikharah bukan dilakukan saat kita sedang ragu. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu…” (HR. Bukhari).

Jawaban Allah atas masalah ini akan terlihat pada proses ke depannya. Jika pilihan itu baik menurut Allah, maka akan dimudahkan dan diberkahi. Tapi jika tidak, maka Allah akan memalingkannya dan memudahkan orang tersebut pada kebaikan seizin-Nya.

Allahua’lam.. 🙂