Amalan-Amalan Setelah Melahirkan #1

Kajian tanggal 15 Mei 2013 @Mushola Al Mushlihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

Pertama, mengadzankan dan mengiqamatkan

Dalil:

Dari Musyadda, dari Yahya, dari Sufyan, dari ‘Ashim bin ‘Ubaid, dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu: “Aku melihat Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengadzankan di telinga Hasan bin Ali radhiallahu’anhu ketika dilahirkan oleh Fathimah radhiallahu’anha dengan sholat.” (HR. Abu Daud)

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dengan jalur periwayatan yang sedikit berbeda, yaitu dari Muhammad bin Basshar dari Yahya bin Said dan Abdurrahman bin Mahdi, keduanya mendengar dari Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaid dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu. (sanadnya hasan)

Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Al Musnad melalui dua jalur periwayatan, yaitu:

  • Waqi’ dari Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaid dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu
  • Yahya bin Said dari Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaid dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu

“Sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam mengadzankan di telinga Hasan bin Ali radhiallahu’anhu ketika dilahirkan oleh Fathimah radhiallahu’anha.” (HR. Ahmad)

skema perawi hadits

Di kalangan ‘ulama, ada perbedaan pendapat tentang hadits-hadits yang diperoleh dari A’shim bin Ubaidillah bin A’shim bin ‘Umar bin Khattab, yang merupakan cicit dari ‘Umar bin Khattab.

  • Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu majah pernah menggunakan hadits dari A’shim;
  • Menurut Ibnu Hajar, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh A’shim ini adalah hadits dhaif;
  • Dilemahkan pula oleh Ibnu Ma’in;
  • Imam Bukhari dan Abu Hatim berkata bahwa haditsnya tertolak.

Pendapat ‘ulama lain tentang mengadzankan dan mengiqamatkan:

  1. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah: Menganjurkan untuk mengadzankan dan meng-iqamatkan;
  2. Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan Hasan Al Bashri rahimahumullah: Disunnahkan untuk mengadzankan di telinga kanan dan mengiqamatkan di telinga kiri;
  3. Ibnu Qayyim rahimahullah: menganjurkan untuk mengadzankan dan mengiqamatkan karena hikmahnya:
  • Yang pertama didengar oleh si bayi saat di dunia adalah  kalimat mulia;
  • Menyebabkan larinya setan saat mendengar adzan;
  • Mendahulukan panggilan untuk menuju Allah dan ibadah dari pada panggilan setan.

Malikiyah dan sebagian ‘ulama lain: tidak menganjurkan karena haditsnya lemah.

Allahua’lam bish shawwab.

*Versi powerpoint >> saat kelahiran <<

 

Advertisements

Fiqh Kelahiran: Pendahuluan

Kajian tanggal 8 Mei 2013 @Mushola Al Mushlihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

dua-anak-perempuanPada masa jahiliyah, orang-orang sangat malu memiliki anak perempuan. Pada masa itu, anak perempuan dianggap merupakan kehinaan bagi keluarga yang memilikinya. Lantas tidak sedikit yang menyembunyikan bahkan membunuh anak-anak perempuannya. Memiliki anak perempuan seolah memiliki anak yang tidak bermasa depan, mengingat betapa kejinya kaum jahiliyah memperlakukan wanita dewasanya.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An Nahl: 58-59)

Oleh karena itu, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa ajaran Islam, diangkatlah kedudukan wanita dengan aturan Allah subhanahu wata’ala. Berikut ini adalah beberapa hadits tentang keutamaan memiliki anak-anak perempuan.

  • Penghalang dari neraka

Dari A’isyah radhiallahu’anha: “Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam datang dan masuk, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata: Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.(HR. Bukhari-Muslim)

  • Salah satu penyebab orang tuanya masuk surga

Dari A’isyah radhiallahu’anha: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma. Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian beliau bersabda: Allah subhanahu wata’ala mewajibkan atasnya surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

  • Pada hari kiamat, didekatkan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” , beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

  • Menumbuhkan kecintaan dalam keluarga

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kamu membenci anak perempuan, karena sesungguhnya mereka merupakan penumbuh kecintaan yang sangat berharga.(HR. Ahmad)

Selain hadits-hadits di atas, ada juga perkataan ‘ulama yang menyebutkan keutamaan memiliki anak perempuan, yaitu:

Shaleh bin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Bila dikatakan kepada ayahku, telah lahir baginya anak perempuan, beliau akan mengatakan: “Para nabi adalah ayah dari anak-anak perempuan.”

Allahua’lam bish shawwab…

Amalan-Amalan Saat Hamil

Kajian tanggal 2 Mei 2013 @ Mushola Al Mushlihin

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Beberapa amalan yang hendaknya dilakukan saat hamil, baik bagi sang istri maupun suami, yaitu:

Pertama, Memperbanyak Istighfar

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu…” (QS. Nuh: 9-12)

images

(sumber gambar)

Kedua, Perbanyak Syukur atas kenikmatan ini agar Allah subhanahu wata’ala menambah kenikmatan berupa kesehatan dan anak-anak yang shalih/ah, yaitu syukur dalam hati, lisan, dan perbuatan, salah satunya dengan memperbanyak qiyamul lail. Sebaiknya tidak banyak mengeluh ketika hamil, harus senantiasa bersyukur.

Ketiga, Melakukan Proses Tarbiyah Sejak Anak Dalam Kandungan, seperti:

  • Menjaga perilaku dan perkataan
  • Menjaga ibadah fardhu dan sunah
  • Memperbanyak tilawah Al Quran dan berzikir; Nabi Zakaria ‘alaihissalam ketika mendengar kabar kehamilan istrinya:

“Maka ia (Nabi Zakariah alaihissalam) keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, ‘Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

Keempat, Perbanyak Doa

Contoh doa yang dapat diamalkan:

  • Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami, pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam  bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

  • Doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء…

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang (keturunan) anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS. Al Imran, 38)

Tentu doa di sini tidak terbatas pada doa-doa di atas. Doa yang dipanjatkan boleh yang ada di Al Quran, hadits, maupun dari ‘ulama.

Allahua’lam bish shawab

Zina: Hukum, Tingkatan, dan Hikmah Pelarangannya

Kajian tanggal 14 (part. 2) & 21 Nopember 2012. Saat ini kita memasuki sub-bab berikutnya, yaitu tentang zina.

***

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS.Al-Isra’ :32)

Dari ayat di atas dapat kita petik, bahwa bukan hanya zina yang dilarang, melainkan juga mendekati zina, misalnya saja soal pandangan.

Apa Pengertian Zina?

Zina adalah menggauli wanita tanpa aqad yang syar’i.

Hukum Berzina

Seluruh ‘ulama sepakat bahwa hukum zina adalah dosa besar. Bahkan pada ayat berikut, zina disebutkan bersamaan dengan musyrik dan membunuh.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat dosa(nya). (QS. Al Furgan: 68)

Hukumannya disebutkan dalam QS. An Nur: 2

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat dan hendaklah hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

stop-zina

(sumber)

Tingkatan Zina

Orang yang berzina memiliki tingkat dosa yang berbeda-beda.

  • Dari segi objek

Pertama, zina dengan kerabat.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Siapa yang berzina dengan kerabatnya (muhrim), maka bunuhlah.” (HR. Ahmad)

Zina dengan kerabat adalah tingkatan dosa tertinggi dari segi objeknya. Namun, terjadi perbedaan, dibunuh jika pelaku sudah berkeluarga atau dibunuh bagi siapa saja yang melakukan, baik itu sudah berkeluarga maupun belum.

Kedua, zina dengan tetangga.

Abdullah bertanya kepada Rasulullah: “Dosa apakah yang terbesar di sisi Allah?” Rasul: “Engkau menjadikan untuk Allah sekutu padahal Dia yang telah menciptakanmu”, aku katakan: “Sungguh itu adalah besar, kemudian apa?” Rasul: “Engkau membunuh anakmu karena khawatir makan bersamamu”, aku katakan: “Kemudian apa?”, Rasul: “Engkau melakukan zina dengan istri tetanggamu”. (HR. Bukhari)

Zina dengan tetangga adalah dosa besar, terlebih jika tetangga tersebut sudah berkeluarga. Berlipat lagi jika ternyata masih ada hubungan kerabat.

Ketiga, liwath.

Menurut para ‘ulama, zina lawan jenis lebih besar dosanya daripada liwath (hubungan sesama jenis). Walaupun tidak ada risiko hamil, tetap dianggap zina, tapi tingkatan dosanya di bawah zina antara lawan jenis.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang didapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah oleh kalian, yang melakukan, pelaku dan objeknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah; hadits hasan)

Hukum liwath:

  • Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishak: hukumnya dirajam, baik sudah menikah maupun belum. Untuk menghindarkan bala, karena dikhawatirkan akan terjadi azab seperti kaum Luth.
  • Menurut Hasan Al Basri, Ibrahim An Nakhai, dan Atha’ bin Abi Rabah, hukumannya sama dengan berzina, yaitu dirajam untuk yang sudah menikah, atau diasingkan dan dicambuk seratus kali bagi yang belum menikah.

Allah watching u

(sumber)

Kalau hal ini dilegalkan, maka atas izin Allah akan timbul musibah, terlebih di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Kalau di negara yang mayoritas orang kafir, tidak segera diazab karena dari awal mereka tidak memiliki aturan tentang ini, sedangkan dalam Islam ada.

Keempat, dengan hewan.

Terlaknatlah siapa yang mendatangi hewan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Perbuatan ini tetap dihukumi zina, walaupun tidak sebesar dosa tingkatan zina di atasnya.

  • Dari keadaan pelakunya

Yang sudah menikah dosanya lebih besar dari yang belum menikah.

Orang tua yang berakal dosanya lebih besar dari anak muda.

Orang alim dosanya lebih besar dosanya dari orang bodoh.

Orang yang sudah merdeka lebih besar dosanya dari budak.

dst..

  • Dari sisi tempat dan waktunya

Semakin besar dosanya jika berzina di wilayah haram atau di bulan haram.

Hikmah Larangan Berzina

  • Sesuai dengan fitrah manusia

Fitrahnya manusia tidak rela jika ibu yang dicintainya, atau istri yang dikasihinya, atau putri yang disayanginya, atau saudara perempuan yang juga dicintainya dizinahi. Karena bisa jadi wanita yang dizinahi berstatus salah satu dari peran tadi. Bisa jadi sebenarnya dia adalah ibu dari seorang anak yang tidak akan rela bila ibunya berzina. Begitu seterusnya, seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya juga tidak akan rela istrinya berzina. Demikian pula sebaliknya untuk lelaki, bisa jadi ia adalah seorang ayah, seorang suami, seorang anak, atau seorang saudara yang orang-orang dekatnya tidak akan rela ia berzina.

  • Mencegah tercampurnya nasab

Dengan adanya zina dan terlahir anak, maka saat itulah tercampur nasabnya, antara yang sah dan yang tidak sah. Anak yang berasal dari hubungan perzinaan, bisa jadi dia mendapatkan waris, padahal seharusnya tidak. Dan bisa jadi dia bergaul dengan keluarganya yang lain seolah mereka muhrim, padahal bukan muhrim. Hal ini akan membingungkan, sehingga nasab menjadi tercampur aduk. Anak dari zina disebut sebagai waladul umm, bukan waladul ab.

  • Menjaga keutuhan rumah tangga

Dalam hubungan suami-istri salah satunya berzina, sudah jelas akan menghancurkan keutuhan rumah tangga. Dalam Islam, jika salah satu berzina, berarti sudah tidak bisa menjaga kehormatan, wajib dicerai. Tidak ada tempat untuk perasaan iba, karena syariat memerintahkan untuk langsung ditalak tiga. Jika suami yang berzina, istri bisa mengajukan ke hakim untuk bercerai.

  • Menjaga dari berbagai penyakit

Munculnya penyakit dalam diri pezina merupakan azab yang ditimpakan oleh Allah subhanahu wata’ala.

  • Menjaga kemuliaan wanita

Larangan berzina adalah suatu bentuk penghormatan bagi wanita. Sejak kedatangan Islam wanita begitu dijaga kemuliaannya, mengingat pada zaman jahiliyah justru wanita diperlakukan tidak manusiawi, dianggap sebagai benda dan pemuas laki-laki. Bahkan dulu anak perempuan dianggap sebagai aib.

  • Menjaga dari terjadinya kriminalitas

Dari zina, bisa memacu kriminalitas, contohnya pembunuhan bayi-bayi hasil zina.

Allahua’lam bish shawab

***

Versi powerpoint >> Zina << 🙂

Meluaskan Langkah, Mengharap Surga

Oleh: Ustadzah DR. Suesilowati, MPd. (staf khusus Menteri Sosial)

  • Bahwa apapun yang kita lakukan harus bermuara pada Allah.

Sebuah perenungan, ketika sehari saja kita merasa terlalu sibuk, melalaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah, maka, tanyakan, “Ya Allah, aku bisa saja baik di hadapan atasanku, di hadapan para manusia. Tapi, di hadapanMu, aku ini seperti apa?

Di mata anak-anak, kita bisa saja dianggap sebagai ibu yang wonder women. Tapi di hadapan Allah?”

Peran kita yang paling utama adalah sebagai hamba Allah. Posisi yang paling awal, sebelum kita menjadi apapun.

  • Tentang dinosaurus, dulu mereka pernah ada. Lama kelamaan ia punah.

Mungkinkah karakter-karakter baik kita akan bernasib sama dengan para dinosaurus (?). Satu per satu menghilang, hingga nantinya hanya tinggal cerita.

Hilangnya karakter-karakter itu dari diri kita bisa karena kita gagal mengatasi, gagal beradaptasi, gagal mengubah, tidak dapat mengembangkan diri, dan tidak dapat mengevaluasi diri.

Orang yang gagal beradaptasi adalah orang yang habis waktunya hanya untuk satu pekerjaan, padahal di sekitarnya ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dan ini bukan saja terjadi pada wanita yang bekerja. Ibu rumah tangga pun demikian.

Orang berkembang itu bukan harus menjadi perempuan bekerja. Kita berkewajiban untuk beradaptasi dengan peran-peran sebagai seorang ibu, seorang pekerja, seorang anggota masyarakat, dan yang paling utama sebagai hamba Allah. Ketika gagal memecahkan masalah, maka akan punahlah karakter kita.

  • Pekerjaan kita ini, ketika kita bertemu banyak orang, artinya banyak pula peluang menyebarkan kebaikan. Kebaikan itu jangan dibatasi, sekecil apapun, ketika ada peluang, maka lakukanlah.

Peran edukasi kita, melalui pertemuan-pertemuan. Untuk yang bekerja dari pagi sampai sore, ketika kita tidak memberikan kebaikan-kebaikan pada masa-masa itu, kapan lagi? Sampai di rumah sudah habis waktu kita. Kesempatan kita dalam sehari itu sebaiknya jangan di kavling-kavling, ketika ada kesempatan memberikan kebaikan, maka lakukanlah. Karena sangat mungkin, begitu sampai di rumah kita tidak bisa melakukan itu. Intinya, jangan menunda untuk melakukan kebaikan. 🙂

  • Seseorang tidak akan terus menerus berada masa yang sama. Kepindahan dari satu masa ke masa berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Dan pada tiap masa, akan ada tantangannya sendiri.

*gambar: dari blognya mbak monik 🙂

Pesan Ummi untuk Kami

Sejujurnya saya sudah sangat ingin tidur, mengingat besok masuk kantor pukul 8 pagi…tapi hasrat untuk menulis “sesuatu” hari ini berhasil mengalahkannya..

Hmm, hari ini seperti mendapat lampu hijau dari ummi untuk bekerja di luar. Alhamdulillah. Padahal hampir 1 bulan yang lalu, pertemuan saya dengan ummi sebelum hari ini, beliau sempat menyarankan saya untuk tidak magang. Beliau lebih menyarankan agar saya “belajar” di rumah, menikmati kebersamaan dengan keluarga, sebelum semua itu direnggut oleh SK Penempatan. #LEBAY

Oke, begini kata ummi tentang istri/ibu yang bekerja di rumah VS yang bekerja di luar rumah. Setiap orang memang memiliki potensi yang berbeda-beda, ada yang memang berpotensi menjadi ibu rumah tangga, ada juga yang berpotensi untuk bekerja di luar. Tapi bukan berarti yang ibu rumah tangga, lalu tidak ada kegiatan di luar lho ya. Dan juga bukan berarti ibu yang bekerja di luar, lalu membiarkan urusan rumah tangganya berantakan. Apalagi sampai si anak lebih betah bersama orang lain dibanding bersama ibunya sendiri. Ini nih, salah satu alasan saya ingin membaca buku Rumah Cokelat karya Sitta Karina. Novel yang menceritakan tentang perjalanan seorang wanita karier yang menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.

Kembalai ke topik. Intinya sih bagaimana kita menggali dan mengatur potensi itu, pikirkan dengan bijak manfaat dan mudharat dari pilihan yang kita ambil. Untuk yang di rumah, keuntungannya bisa lebih berkhidmat kepada suami. Sedang yang memilih lebih banyak beraktivitas di luar rumah, bisa jadi berkembang kemampuannya. Sekali lagi, semua memiliki plus-minus, dan tak lupa (nanti setelah berkeluarga), mana yang lebih diridhai suami. Tapi kalau anak ST*N kemungkinan besar dia akan bekerja di luar, kecuali ada yang mau membayar ganti rugi uang pendidikan. 😀

Untuk istri yang bekerja, rasa-rasanya sulit jika tidak ada yang membantu urusan rumah tangga, apalagi jika bekerjanya sudah ada ketetapan waktunya. Pastilah (nantinya) akan memerlukan bantuan entah dari ibu/mertua atau mencari khadimat sendiri. Pesan ummi, karena saya dan kawan-kawan kemungkinan besar akan menjadi istri/ibu yang bekerja, sediakanlah waktu yang BERKUALITAS untuk keluarga. Kalau menurut Ustadz Dedhi Suharto, hari Sabtu-Ahad itu waktunya untuk keluarga dan dakwah. Dan biasakan tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. Sipp. Sepakat lah, Ustadz. 🙂

Ayo, atur waktu sebaik mungkin. Jangan lengah. Jangan kalah oleh lelah. Karena dari awal sampai akhir harus tertanam LILLAH.. ^^9