[Pengingat Diri] Mengadu

Mengadu dan bicara tidak hanya memilih orang yang tepat, tapi juga tempat yang tepat.

Begitulah kalimat yang saya kutipkan dari halaman kedua majalah Tarbawi edisi 305. Hmm, segala yang kita perbuat agar hasilnya efektif memang memiliki requirements tersendiri. Istilahnya, syarat dan ketentuan berlaku. Sejauh mana pengaduan dan pembicaraan kita menuai hasil yang maksimal tentu bisa dilihat dari kepada siapa dan dimana kita melakukannya. Contoh sederhananya, kita ingin membicarakan masalah kantor dengan seseorang yang kompeten, konsultan misalnya. Dari segi kompetensi pribadinya (orangnya) kita tidak salah orang, tapi ketika konsultasi tersebut kita lakukan di bioskop, menuai hasil maksimalkah kita? (contohnya ekstrim ya? :p)

Ah, mungkin bisa ditambahkan lagi dengan waktu yang tepat. Jadi, orang yang tepat, tempat yang tepat, serta waktu yang tepat. Tidak pas kan, seseorang mengadukan masalah di sekolah (misalnya) saat suasana hati orang tuanya sedang tidak baik.

Kemudian saya iseng membuka sebuah situs kamus online untuk mengetahui arti kata “mengadu” dan saya kurang cocok membaca salah satu artinya. Pada poin ketujuh disebutkan bahwa mengadu adalah menyampaikan sesuatu yang memburuk-burukkan orang lain. Saya merasa tidak sepenuhnya setuju dengan arti kata tersebut, perlu ada yang ditambahkan karena mengadu tidak melulu terkait menjelek-jelekkan orang lain. Kalau boleh saya membuat pengertian sendiri, maka artinya akan seperti ini.

Mengadu adalah menyampaikan suatu permasalahan, baik itu terkait orang maupun kondisi.

mengadulah
(Source: click the picture; Edited by me)

Nah, mengadu (kepada orang lain) harus hati-hati, jangan sampai jatuhnya menjadi ghibah, membicarakan orang lain, apalagi kalau sampai menjadi fitnah. Amannya sih mengadunya sama Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah lagi. Begitu kata ustadz Yusuf Mansyur. Tapi apa tidak boleh mengadu kepada manusia? Boleh, apalagi jika itu salah satu ikhtiar (usaha) kita dalam memecahkan suatu masalah. Tapi harus tetap menghindari ghibah ya. ^_^

“Dia (Ya’qub ‘alaihissalam) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Tingkatan Usia Manusia

Kajian tanggal 17 Juli 2013 @Mushola Al Muslihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

  • Fase Mahdi (bayi): usia 0 s.d. 2 tahun

Ketika berbicara tentang Nabi Isa ‘alaihissalam yang lahir di bawah pohon kurma (QS. Maryam: 23), Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian (الْمَهْدِ) dan ketika sudah dewasa dia adalah termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Al Imran: 46)

Pada masa inilah seorang anak hendaknya disusui ibunya.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. Al Baqarah: 233)

  • Fase Shabiy (anak-anak)
  1. Fase anak-anak pertama: 2 s.d. 6 tahun
  2. Fase anak-anak kedua: 6 s.d. 12 tahun

Dari Abu Qatadah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mendirikan sholat dan hendak memanjangkannya, aku mendengar tangisan anak kecil (الصَّبِيّ)  maka aku mempercepat sholatku karena aku tidak ingin menyulitkan ibunya.” (HR. Bukhari)

Pada fase ini, orang tua harus mulai memerintahkan anak untuk sholat dan mulai memisahkan tempat tidur anak-anak mereka, meskipun sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan.

pendidikan-anak-usia-dini(sumber)

Dari Amr bin Syuaib dari ayah dari kakeknya, Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk mendirikan sholat dan mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka dengannya (bila tidak mendirikan sholat) sedang mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah antara mereka di tempat tidur.” (HR. Abu Daud, shahih)

  • Fase Baligh (dewasa pertama): usia 12 s.d. 15 tahun.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Diangkat pena dari tiga; Orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga baligh dan orang gila hingga tersadar.” (HR. Abu Daud, shahih)

  • Fase Dewasa Kedua: usia 15 s.d. 18 tahun
  • Fase Dewasa Terakhir: usia 18 s.d. 21 tahun
  • Fase setelah dewasa & fase kemantapan: usia 21 s.d. 40 tahun

Allah ta’ala berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda (فِتْيَة) yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13)

Pada fase ini pula muncul anjuran untuk menikah.

Dari Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda (مَعْشَرَ الشَّبَابِ), siapa yang telah ‘mampu’ maka hendaknya dia menikah, sungguh (pernikahan itu) lebih dapat menjaga pandangan dan menjaga kemaluan, dan siapa yang belum maka hendaknya dia berpuasa sungguh dia itu dapat menjadi pembendung.” (HR. Bukhari)

  • Fase Puncak: usia 40 s.d. 60 tahun

Pada fase inilah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam diangkat menjadi seorang nabi dan rasul.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu: “Diturunkan atas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan beliau berusia 40 tahun, tinggal di Mekkah 13 tahun dan diperintahkan untuk Hijrah ke Madinah serta tinggal di dalamnya 10 tahun kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat.” (HR. Bukhari)

  • Fase Syaikhukhah: usia 60 tahun s.d. wafat

Inilah rata-rata panjang usia umat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Umur (dalam riwayat lain: Umur-umur) ummatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Ketika kita diberikan umur bisa sampai di fase ini, seharusnya kita lebih banyak bersyukur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Allah subhanahu wata’ala mencabut udzur dari seseorang yang diakhirkan umurnya hingga mencapai enam puluh tahun.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, jika sudah sampai fase ini, sudah tidak ada alasan untuk tidak memaksimalkan ibadah. Tapi bukan berarti semasa muda kita boleh mengesampingkan ibadah.

Menurut Imam Qurthubi rahimahullah, usia ini seharusnya digunakan untuk kembali kepada Allah ta’ala, khusyu’, dan berserah diri secara penuh kepada Allah karena merupakan usia yang mendekati untuk bertemu dengan-Nya.

Bahkan menurut Sufyan rahimahullah, siapa yang sudah mencapai seperti usianya Rasul shallallahu’alaihi wasallam,  maka hendaknya dia mengambil kain kafan untuk dirinya sendiri.

Allahua’lam bish shawwab. Slide kajian bisa didownload di sini.

Tafsir Al Qur’an Surat Nuh: 13-20

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (١٣
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
Kata waqaara ditafsirkan sebagai keagungan Allah ta’ala. Ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Adh Dhahhak.
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (١٤
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
Kata athwaaraa di sini ditafsirkan sebagai:
  • Proses penciptaan manusia (Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Yahya bin Rafi, As Suddi, dan Ibnu Zaid)

Pada ayat lain,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu… (QS. Ghafir: 67)

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Nuthfah; Wahai Rabbku! Segumpal darah; wahai Rabbku! Segumpal daging. ” Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?” Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari)
  • Usia manusia: dari bayi, anak-anak, pemuda, orang tua
  • Keadaan manusia: sehat-sakit, kaya-miskin, melihat-tidak melihat.
  • Sifat manusia: perbedaan dalam perilaku mereka, budi pekerti, dan perbuatan

kapalnabi-nuh

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (١٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

Maksudnya satu tingkatan di atas satu tingkatan lainnya.

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (١٦
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
Istilah nuur dan siraaj sama-sama berarti cahaya, tetapi keduanya berbeda kadarnya. Nuur diartikan sebagai cahaya yang tidak panas, dalam hal ini dikaitkan dengan cahaya bulan (Al Qamar) yang sifatnya tidak panas. Sedangkan siraaj adalah cahaya yang panas, yaitu cahaya matahari (Asy Syam). Dalam ayat lain, yaitu Surat Yunus: 5, Allah ta’ala menggunakan istilah dhiyaa’ yang semakna dengan kata siraaj.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٥
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus: 5)
وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا    (١٧) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (١٨
Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikanmu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.
Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, kemudian akan dikembalikan ke tanah ketika meninggal dunia. Dan pada hari kiamat, Dia akan mengembalikan manusia sebagaimana Dia menciptakan pertama kali.
Dalam ayat lain,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah: 28)
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا (١٩) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا (٢٠
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.
Maksudnya, Allah menghamparkan, membentangkan, meneguhkan, dan mengokohkan bumi dengan gunung-gunung yang tinggi menjulang agar manusia dapat menetap dan melintasi jalanan di sana kemana saja dikehendaki.
*) Kajian tanggal 30 April 2013 @Mushola Al Mushlihin oleh Ust. Abdurrahman Assegaf
*) Tafsir Ibnu Katsir, Penyusun: Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh

Salah Paham

menyampaikan pemahaman yang salah kepada orang lain, sehingga orang lain ikut salah paham, dan orang lain itu menyampaikan ke orang lain lagi hingga bertambah banyak yang salah paham…sungguh salah paham yang berdampak “sistemik”…

lucu

Meluaskan Langkah, Mengharap Surga

Oleh: Ustadzah DR. Suesilowati, MPd. (staf khusus Menteri Sosial)

  • Bahwa apapun yang kita lakukan harus bermuara pada Allah.

Sebuah perenungan, ketika sehari saja kita merasa terlalu sibuk, melalaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah, maka, tanyakan, “Ya Allah, aku bisa saja baik di hadapan atasanku, di hadapan para manusia. Tapi, di hadapanMu, aku ini seperti apa?

Di mata anak-anak, kita bisa saja dianggap sebagai ibu yang wonder women. Tapi di hadapan Allah?”

Peran kita yang paling utama adalah sebagai hamba Allah. Posisi yang paling awal, sebelum kita menjadi apapun.

  • Tentang dinosaurus, dulu mereka pernah ada. Lama kelamaan ia punah.

Mungkinkah karakter-karakter baik kita akan bernasib sama dengan para dinosaurus (?). Satu per satu menghilang, hingga nantinya hanya tinggal cerita.

Hilangnya karakter-karakter itu dari diri kita bisa karena kita gagal mengatasi, gagal beradaptasi, gagal mengubah, tidak dapat mengembangkan diri, dan tidak dapat mengevaluasi diri.

Orang yang gagal beradaptasi adalah orang yang habis waktunya hanya untuk satu pekerjaan, padahal di sekitarnya ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dan ini bukan saja terjadi pada wanita yang bekerja. Ibu rumah tangga pun demikian.

Orang berkembang itu bukan harus menjadi perempuan bekerja. Kita berkewajiban untuk beradaptasi dengan peran-peran sebagai seorang ibu, seorang pekerja, seorang anggota masyarakat, dan yang paling utama sebagai hamba Allah. Ketika gagal memecahkan masalah, maka akan punahlah karakter kita.

  • Pekerjaan kita ini, ketika kita bertemu banyak orang, artinya banyak pula peluang menyebarkan kebaikan. Kebaikan itu jangan dibatasi, sekecil apapun, ketika ada peluang, maka lakukanlah.

Peran edukasi kita, melalui pertemuan-pertemuan. Untuk yang bekerja dari pagi sampai sore, ketika kita tidak memberikan kebaikan-kebaikan pada masa-masa itu, kapan lagi? Sampai di rumah sudah habis waktu kita. Kesempatan kita dalam sehari itu sebaiknya jangan di kavling-kavling, ketika ada kesempatan memberikan kebaikan, maka lakukanlah. Karena sangat mungkin, begitu sampai di rumah kita tidak bisa melakukan itu. Intinya, jangan menunda untuk melakukan kebaikan. 🙂

  • Seseorang tidak akan terus menerus berada masa yang sama. Kepindahan dari satu masa ke masa berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Dan pada tiap masa, akan ada tantangannya sendiri.

*gambar: dari blognya mbak monik 🙂

Jangan Bersedih, Allah Bersama Kita

Kata-kata yang indah dan optimistis di atas diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam ketika beliau sedang berada di Gua Tsur bersama Abu Bakar. Ketika itu, keduanya dikepung oleh kafir Quraisy. Dengan hati yang mantap, beliau mengutip firman Tuhannya, “Janganlah engkau bersedih hati karena Allah bersama kita.” (QS. At Taubah: 40)

Ketika Allah bersama kita, maka masih perlukah kita merasa bersedih hati , takut, dan gelisah? Maka tenangkanlah dan mantapkan hatimu karena Allah bersama kita.

Kita tidak akan kalah, hancur, tersesat, disia-siakan dan putus asa karena pertolongan Allah dan kebahagiaan hidup akan menyertai kita. Kemenangan adalah tujuan akhir yang akan kita raih karena Allah bersama kita.

Dengan keyakinan ini, maka tidak ada orang yang hatinya lebih teguh daripada kita; prinsip hidupnya lebih mulia daripada kita; perjalanan hidupnya lebih baik daripada kita; dan kedudukannya lebih tinggi daripada kita, karena Allah bersama kita.

Saat Allah bersama kita, maka orang-orang yang akan memerangi kita akan lemah dan hina. Begitu juga yang berencana membunuh kita, maka mereka akan menjadi pengecut. Kita tidak boleh berlindung dan menggantungkan harapan kepada manusia. Tidak sepatutnya berdoa atau takut kepada mereka, karena Allah bersama kita.

Persiapan kita lebih kuat dan matang. Kita memiliki senjata yang lebih tajam dan hati yang kukuh. Kita akan berjalan lebih tegak karena Allah bersama kita. Kita lebih mulia dan terhormat daripada mereka karena pertolongan Allah hadir bersama kita.

Hai Abu Bakar, buang jauh-jauh kesedihan dan keputus-asaanmu karena Allah bersama kita.

Hai Abu Bakar, tegakkan kepalamu, tenangkan dirimu dari kegalauan karena Allah bersama kita.

Hai Abu Bakar, bergembiralah karena mendapatkan keberuntungan. Tunggu saat datangnya pertolongan dan yakinlah kemenangan akan tiba karena Allah bersama kita.

Di masa mendatang risalah kita akan unggul. Ajaran kita akan menang. Dan pesan-pesan kita akan didengar oleh banyak orang karena Allah bersama kita.

Dari buku: Kangen Sama Rasul (Dr. Amr Khalid & Dr. A’id Al Qarni)

Ibuku Bermata Satu

Sebuah renungan..yang saya dapat dari majalah Media Keuangan No. 52/ Minggu IV November – Minggu III Desember 2011..

IBUKU BERMATA SATU

Ini adalah kisah tentang aku dan ibuku. Waktu itu aku masih berumur 8 tahun saat ayah meninggal karena sakit keras. Ibu dan aku anaknya satu-satunya hidup dalam kemiskinan. Untuk membiayai hidup kami, Ibu menerima pesanan katering.

Suatu hari, Ibu membuatkan pesanan katering untuk guru-guruku di sekolah. Tentu saja ia datang menemuiku tepat saat aku sedang bermain dengan teman-teman. Ini akan jadi cerita biasa jika ibuku normal. Sejak saat itu, teman-teman pun mulai mengejek Ibu. Dan aku, bukannya membela Ibu, aku malah marah-marah.

“Ma…kenapa engkau hanya memiliki satu mata?! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang, kenapa engkau tidak segera mati saja?!” Begitulah, kekesalanku pada Ibu meluap-luap, sampai-sampai aku berharap Ibuku segera lenyap dari muka bumi. Saat itu entah mengapa ibu tidak menanggapi kemarahanku. Ia hanya diam. Aku merasa tidak enak, namun di saat yang sama, aku merasa harus mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini. Mungkin karena ibuku tidak pernah menghukumku, akan tetapi aku tidak berpikir kalau aku telah sangat melukai perasaannya.

Semenjak saat itu, aku bertekad untuk segera lepas dari ibu. Menjadi orang dewasa dan sukses. Untuk itu, aku belajar dengan sangat keras. Yah, akhirnya aku berhasil meninggalkan Ibu. Aku lulus beasiswa di luar negeri.

Aku sukses dalam banyak hal, kuliahku lancar, bahkan setelah lulus aku menikah, punya rumah dan anak yang lucu. Aku menyukai tempat tinggal ini karena tempat ini dapat membantuku melupakan ibu. Kebahagiaan ini bertambah besar dan besar, sampai suatu ketika Ibuku berdiri tepat di halaman rumahku, masih dengan mata satunya. Seolah-olah langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku lari ketakutan melihat ibuku yang bermata satu.

“Berani sekali kamu datang ke rumahku dan menakut-nakuti anak-anakku! Keluar dari sini! Sekarang juga!” Aku memaki ibu seolah-olah aku tak mengenalnya. Ibuku hanya menjawab lirih.

“Oh, maafkan aku. Aku mungkin salah alamat?” Kemudian Ibu berlalu dan menghilang dari pandanganku.

Entah mengapa saat itu aku merasa lega karena ia tak mengenaliku dan memilih pergi daripada meyakinkanku bahwa dia adalah Ibuku. Kukatakan pada diriku kalau aku tidak akan khawatir, aku tidak akan memikirkannya lagi.

Beberapa hari kemudian, sebuah undangan untuk menghadiri reuni sekolah dikirim ke alamat rumahku. Dan untuk bisa pergi ke sana, aku pun berbohong pada istriku bahwa aku pergi untuk urusan kantor.

Setelah reuni sekolah usai, naluriku membawa langkah kakiku ke sebuah gubuk tua di depan sekolah. Ya, itu rumahku. Kulihat Ibu tergeletak di lantai tanah yang dingin sambil menggenggam selembar kertas. Sebuah surat untukku.

Anakku… Aku rasa hidupku cukup sudah kini. Dan… aku tidak akan pergi mengunjungimu lagi… Tapi apakah terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang datang mengunjungiku sekali-sekali? Aku sungguh sangat merindukanmu… Dan aku gembira saat kudengar engkau datang pada reuni sekolah. Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Demi engkau… Dan aku sangat menyesal karena aku hanya memiliki satu mata. Aku telah sangat mempermalukan dirimu. Kau tahu, ketika engkau masih kecil, engkau mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan hanya memiliki satu mata. Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu… Aku sangat bangga akan dirimu yang telah dapat melihat sebuah dunia yang baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut. Aku tidak pernah marah dengan apa yang pernah kau lakukan.

Belum habis kubaca surat dari Ibu, tenggorokanku tercekat, pikiranku berkecamuk. Jadi, selama ini Ibu yang kubenci adalah penyelamatku? Ibu yang bahkan tak kuanggap adalah orang yang matanya didonorkan untukku?

Sumber: http://www.setjen.depkeu.go.id/data/mkeuangan/desember2011/index.html

***

Ketika membaca cerita ini, saya teringat dengan status kawan saya, “Jika orang tua punya harta, anak jadi raja. Jika anak punya harta, orang tua jadi pekerja.”

Mungkin ada beberapa dari kita sekarang ini sedang dalam posisi menjadi raja. Disayang oleh orang tua, dimanja, tiap apa yang kita minta/butuhkan langsung difasilitasi. Banyaaaak sekali yang telah orang tua berikan untuk kita.

Akan tetapi, di tempat lain. Tahukah kawan? Di panti-panti jompo itu, banyak orang tua yang ditelantarkan oleh anak-anak mereka. Setelah pengorbanan para orang tua itu untuk anak-anaknya, tak jua tersentuh hati sang anak untuk membalas, merawat orang tua mereka.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan anak-anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua kita. Allahumma aamiin..