Al Qur’an The Healing Book

al-quran-the-healing-bookJudul: Al Qur’an The Healing Book
Penulis: Ir. Abduldaem Al Kaheel
Penerjemah: M. Lili Nur Aulia
Penerbit: Tarbawi Press
Tebal: 200 halaman
Cetakan pertama November 2010
Harga: Rp 37.000 (beli di Toko Gunung Agung Tamini Square)

Al Qur’an memiliki beberapa nama lain. Nama ini tentu sesuai dengan fungsinya diturunkan ke muka bumi. Misalnya saja Al Huda, Al Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Nah, dalam buku ini dikupas salah satu fungsi Al Quran sebagai penyembuh atau Asy Syifa.

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra: 82)

Terapi Al Qur’an adalah membacakan ayat-ayat Al Qur’an kepada pasien selain doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. (halaman 13)
Terapi ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu pasien mendengarkan bacaan Al Qur’an atau pasien yang membacanya sendiri.

Berdasarkan penelitian, sel-sel dalam tubuh manusia bergetar sesuai frekuensi tertentu dan dipengaruhi oleh getaran yang dikirim dari luar tubuh. Nah, seseorang yang mengidap penyakit berarti telah terjadi ketidakseimbangan dalam getaran sel-selnya. Dengan diperdengarkan sesuatu, maka gelombang suaranya akan mempengaruhi getaran sel, sehingga getaran sel-sel menjadi harmonis dan kembali seimbang.

Selain mengupas tentang pengobatan dengan Al Qur’an, di dalam buku ini juga dijelaskan beberapa pengobatan nonkimiawi lainnya, misalnya dengan puasa, dengan asmaul husna, dengan istighfar, tafakkur, dengan madu dan zaitun, dengan obat-obat herbal, dan sebagainya meskipun kesemuanya itu tidak dibahas dengan sangat rinci karena untuk membahas pengobatan-pengobatan tersebut secara rinci sebaiknya dituangkan dalam buku lainnya, hehe.

Overall, buku ini sarat akan pengetahuan. Karena dibumbui penelitian-penelitian medis, buku ini insyaAllah mampu menguatkan keyakinan pembaca akan mukjizat Al Qur’an tersebut. Oh iya, meskipun penulis mempropagandakan pengobatan-pengobatan di atas, beliau tetap tidak melarang penggunaan obat-obat dari dokter karena hal tersebut juga merupakan bentuk usaha manusia dalam mencapai kesembuhan. Namun, beliau menekankan bahwa sebagai seorang muslim, tidak boleh melupakan Al Qur’an yang diturunkan sebagai Asy Syifa.

Happy reading. ^^

Advertisements

Menjaga Pandangan #4

Kajian tanggal 14 Nopember 2012 @Mushola al Mushlihin. Dalam kajian hari ini dibahas dua tema, yang pertama, melanjutkan tema Menjaga Pandangan; dan yang kedua, masuk ke tema Zina. Agar lebih rapih, kedua tema tersebut insyaAllah akan saya resume-kan dalam dua postingan berbeda.

***

Sebab Mengumbar Pandangan

  • Mengikuti hawa nafsu setan

Boleh jadi ia sudah mengetahui bahaya dan ancaman dari Allah, tetapi ia tidak kuasa untuk tidak mengikuti hawa nafsu setan.

  • Tidak memahami bahayanya mengumbar pandangan

Mungkin orang tersebut tau apa bahayanya, tapi mata hatinya tertutup untuk benar-benar memahami hal tersebut.

  • Mengandalkan ampunan Allah & melupakan siksanya

Memang betul dengan berwudhu dan berzikir bisa hilang dosa-dosa kecil. Akan tetapi, siapa yang bisa menjamin setelah bermaksiat usia kita masih sampai untuk bisa berwudhu atau berdzikir?!

  • Banyak membaca dan menyaksikan tontonan yang diharamkan oleh Allah

Dengan seringnya melakukan maksiat serupa, maka akan menjadi terbiasa dan rasa bersalah berangsur hilang. Sama seperti hati yang jika kita melakukan maksiat, maka akan timbul noda padanya. Semakin sering bermaksiat, hati menjadi semakin kotor, gelap, hingga kehilangan kemampuannya untuk melihat.

  • Tidak segera menikah

Menikah adalah salah satu cara untuk menjaga pandangan. Walaupun bukan berarti yang sudah menikah sudah tidak mungkin lagi tergoda untuk mengumbar pandangan. Hanya saja kemungkinan melakukan maksiat ini akan dapat diminimalisasi.

  • Banyak bergaul dengan lawan jenis

Dengan banyak bergaul dengan lawan jenis, menjaga pandangan akan lebih sulit dilakukan karena sehari-hari berinteraksi dengan mereka.

  • Adanya kenikmatan (sesaat)

Maksiat acapkali menimbulkan sensasi nikmat saat melaksanakannya. Namun, kenikmatan tersebut hanya berlangsung sebentar, yaitu saat bermaksiat. Nah, perlu diwaspadai, setelah melakukannya akan ada azab Allah yang mengintai, yang bisa  diberikan di dunia ataupun di akhirat kelak.

  • Banyaknya wanita yang membuka aurat di tempat umum

Nah…nah…ternyata kita (kaum wanita) juga berperan dalam penjerumusan laki-laki untuk mengumbar pandangannya. Apalagi di zaman sekarang, hampir di semua tempat umum (di luar tempat yang diperbolehkan bagi wanita untuk membuka aurat) ada wanita yang seperti itu.

Sebab Terjaganya Pandangan

  • Memiliki ketakwaan kepada Allah

Kalau orang itu memiliki ketakwaan kepada Allah, insyaAllah dia akan bisa menjaga pandangannya.

  • Berusaha menghilangkan sebab-sebab mengumbar pandangan

Salah satunya, untuk para muslimah, bisa dengan cara menutup aurat. Jadi, muslimah, yuk kita tutup aurat. :’)

  • Mensyukuri nikmat Allah, terutama yang berupa indera penglihatan

(sumber)

Bukankah Allah telah berjanji bahwa jika kita bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya, tapi kalau kita kufur, sesungguhnya azab Allah sangatlah pedih.

Manusia ini sesungguhnya bisa menikmati dunia karena adanya kemampuan untuk melihat.

Bahkan dalam sebuah hadits, dari Jabir, Rasulullah bersabda: “Tadi Jibril baru saja keluar dari tempatku. Ia berkata, “… Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba yang telah menyembah kepada Allah selama 500 tahun. … ia akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian didudukkan dihadapan Allah swt, dan Allah swt berfirman, ‘Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga atas berkat rahmat-Ku.’ Si Abid berkata,’Tapi ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.’ Allah berfirman, ‘Masukkanlah hamba-Ku ke surga atas berkat rahmat-Ku.’ Si Abid berkeras, ‘Ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.’ Allah swt lalu menjelaskan, ‘Timbanglah pada hamba-Ku ini antara nikmat yang telah Ku berikan dengan amal perbuatannya.’ Maka didapati bahwa nikmat penglihatan telah meliputi ibadah selama 500 tahun itu, belum lagi nikmat-nikmat badan yang lainnya …” (HR. Al Hakim, shahih)

  • Berpuasa

Berpuasa sebenarnya sudah termasuk dalam kategori takwa yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi, puasa di sini adalah sebagai amalan khususnya.

Dari Abdullah ra, Rasulullah bersabda: “Siapa yang telah mampu ba’ah, hendaklah menikah, sungguh menikah itu lebih dapat menjaga pandangan dan kemaluan, siapa yang tidak mampu maka hendaknya berpuasa sungguh pada puasa itu dapat memutus syahwat.” (HR. Bukhari)

  • Mengingat keburukan lawan jenisnya

Berkata Ibnu Mas’ud: apabila seorang wanita/laki-laki melihat lawan jenisnya lalu ia kagum, maka ingatlah keburukannya/ekspresi/sisi terburuknya agar tidak menimbulkan syahwat.

  • Menikah

Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah bersabda: “Sungguh wanita itu menghadap dalam gambaran setan (maksudnya menyebabkan syahwat) dan membelakangi  dalam gambaran setan. Jika salah seorang di antara kalian melihat wanita, maka hendaklah dia mendatangi istrinya, sungguh yang demikian itu menolak apa yang ada pada dirinya.” (HR. Muslim)

  • Berdoa agar dijauhkan dari fitnah pandangan

Syakal bin Humaid meminta doa kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan dari-Mu dari kejahatan pendengaranku, dari kejahatan pandanganku, dari kejahatan lisanku, dari kejahatan hatiku, dan dari kejahatan maniku.” (HR. Abu Daud, hadits ini hasan)

Doa di atas adalah doa untuk mencegah. Nah, kalau doa untuk menanggulangi (-_- bahasane), bisa menggunakan doa ini:

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa…

(Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon ampunan. Kami berlindung kepada-Nya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami…)

  • Bergaul dengan orang shalih

Akhlak seseorang itu dapat dilihat dari akhlak teman-temannya.  Jadi, kalau kita bergaul dengan orang-orang shalih, insyaAllah kita akan ketularan shalihnya. Orang yang baik pasti berteman dengan orang baik. Karena kecenderungan manusia adalah berkelompok dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama.

  • Khawatir su’ul khatimah dan penyesalan di alam kubur

Seperti yang telah disampaikan di atas. Bisa jadi, ketika sedang bermaksiat, justru Allah memerintahkan malaikat untuk mencabut nyawa orang tersebut. Na’udzubillah…tsumma na’udzubillah…

***

Allahua’lam

Download versi powerpoint >> Sebab Mengumbar Pandangan << 😀

*) sumber gambar kungfu panda>> click

Kemuliaan Bulan Dzulhijjah

Kajian tanggal 23 Oktober 2012 @Mushola Al Mushlihin…

***

(sumber gambar)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

(QS. At Taubah:36)

Puasa pada tanggal 1-10 Dzulhijjah mulia karena berada di bulan yang mulia. Hal ini dinyatakan dalam:

“… Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (QS. Al Hajj: 28)

Ibnu Abbas ra: hari-hari yang telah ditentukan ini maksudnya adalah hari-hari yang 10, yaitu tanggal 1-10 Dzulhijjah.

“Demi waktu fajar. Dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr 1-2)

Maksud ayat ini adalah malam-malam yang sepuluh dari bulan Dzulhijjah sebagaimana yang tlah disepakati oleh ulama tafsir.

Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

  • Allah bersumpah dengannya, yaitu di QS. Al Fajr: 2
  • Disebut Ayyamul Ma’lumat, dalam QS. Al Hajj: 28
  • Lebih dicintai dari hari-hari lainnya

Dari Ibnu ‘Umar ra, Rasulullah bersabda: “Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada yang lebih dicintai di sisi-Nya amal shalih yang dilakukan di dalamnya daripada sepuluh hari pertama, maka banyaklah di dalamnya membaca takbir, tahlil dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas ra, Rasulullah bersabda: “Tiada ada hari yang beramal sholeh lebih Allah swt cintai dari hari-hari ini (yaitu hari sepuluh di bulan DzulHijjah).” Para sahabat berkata: “Wahai Rasul, walaupun jihad di jalan Allah swt?” Beliau berkata: “Walaupun jihad di jalan Allah swt, kecuali seseorang yang keluar dengan membawa diri dan hartanya lalu dia tidak kembali sedikitpun.” (HR. Abu Daud)

Ibnu Taimiyah rhm pernah ditanya, “Mana yang lebih mulia? 10 hari pertama Dzulhijjah atau 10 hari terakhir Ramadhan?” Jawabnya, “10 hari pertama Dzulhijjah lebih mulia siang harinya daripada 10 hari terakhir Ramadhan, tetapi malamnya lebih mulia 10 hari terakhir Ramadhan.”

Ibnu Hajar Asqalani rhm ditanya, “Mengapa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah mulia?” Jawabnya, “Karena di sana terkumpul amalan-amalan yang istimewa.”

  • Ada hari Tarwiyah, yaitu 8 Dzulhijjah, hari pertama dilakukan rangkaian ibadah haji.
  • Ada hari qurban.

Dari Abdullah bin Qurt ra, Rasulullah bersabda: “Sungguh hari termulia di sisi Allah adalah hari Qurban.” (HR. Abu Daud)

  • Ada hari Arafah, hari termulia, penggugur dosa, dimaafkan segala kesalahan, hari pembebasan dari api neraka, serta hari yang dibanggakan Allah.

Dari ‘Aisyah ra, Rasulullah bersabda: “Tidak ada hari yang lebih banyak Allah swt membebaskan hambanya dari api neraka daripada hari Arafah, sungguh Dia mendekat lalu mereka dibanggakan dihadapan para Malaikat, seraya berkata: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

Amalan-amalan Dzulhijjah

  • Puasa Arafah
  • Shalat Idul Adha
  • Qurban

Bagaimana Jika Puasa Arafah Jatuh di Hari Jum’at?

Tetap boleh berpuasa karena larangan berpuasa di hari Jum’at hanya untuk yang mengkhususkan puasa tanpa ada sebab.

Bolehkah Berpuasa Ayyamul Bidh bila Bertepatan dengan Ayyamut Tasyriq?

Tidak boleh berpuasa pada hari tasyriq, termasuk jika maksudnya adalah ayyamul bidh, puasa senin-kamis, atau pun puasa daud.

Ini dikecualikan bagi orang yang berhaji Tamattu’ (haji yang didahului umrah) dan Qiran (menggabungkan niat haji dan umrah), tetapi tidak memiliki kambing untuk membayar dam. Wajib baginya berpuasa selama sepuluh hari, yaitu tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari saat pulang.

“… Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji wajiblah ia menyembelih korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan, maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali, Itulah sepuluh (hari) yang sempurna…” (QS. Al Baqarah: 196)

***

Allahua’lam

Sila download versi powrpoint >> Kemuliaan Bulan Dzulhijjah << 😉

Doa untuk Mayit

Kajian tanggal 26 September 2012 @Mushola Al Mushlihin.

***

Doa untuk Mayit

Orang yang meninggal dapat memperoleh manfaat atas orang yang hidup karena dua perkara, yaitu:

  1. Dari kebaikan yang ia lakukan semasa hidup, misalnya semasa hidup ia pernah menjadi ketua RT yang menetapkan aturan yang mengandung mashlahat bagi warga dan sampai ia meninggal peraturan tersebut masih diterapkan, maka ia masih mendapat pahalanya.
  2. Doa orang muslim, permintaan ampunan bagi mereka, dan sedekah

Sedangkan masalah haji, ada dua pendapat:

  1. Muhammad bin Hasan: Mayit mendapat pahala sedekah, dan yang menghajikan mendapat pahala haji.
  2. Jumhur ‘ulama: Mayit mendapatkan pahala haji.

(gambar: dari sini)

Tentang ibadah badaniyah, semisal puasa, shalat, dan sebagainya, pata ‘ulama berbeda pendapat:

  1. Imam Malik dan Imam Syafi’i: tidak sampai pahalanya untuk mayit.
  2. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan jumhur ‘ulama: pahalanya sampai.
  3. Ahli kalam (Mu’tazilah): semua tidak sampai pahalanya.

Dalil tidak sampainya pahala:

  • QS. An Najm: 39

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

  • QS. Yaasin: 54

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.”

  • QS. Al Baqarah: 286

“… Ia mendapat pahal (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

  • Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Tirmidzi)
  • Dari Ibnu Abbas ra: “Seseorang tidak shalat untuk orang lain, dan seseorang tidak puasa untuk orang lain. Akan tetapi cukup memberikan makan untuknya setiap hari satu mud dari gandum. (HR An-Nasa’i, hadits ini hadits dhaif)
  • Amalan untuk mengirim “hadiah” tidak pernah disebutkan bahwa para ‘ulama terdahulu melakukannya.

Dalil sampainya pahala bagi mayit, di antaranya:

  • QS. An-Najm: 39, QS. Yaasiin: 54, QS. Al Baqarah: 286 menetapkan pahala bagi mereka yang beramal, tapi tidak menyatakan larangan  untuk mengirimkannya.
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, tidak menyatakan putusnya pahala, tetapi hanya putusnya ‘amal/perbuatan.
  • Tidak disebutkannya amalan ini dilakukan oleh para ‘ulama, bukan berarti mereka tidak pernah melakukannya. Ini adalah amalan hati atau niat yang sulit diketahui.
  • QS. Al Hasyr: 10

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

  • Dari Utsman bin Affan: “Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau berdiri lalu bersabda: ‘Mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya.'” (HR. Abu Dawud)
  • Berkata Ibnu Abbas: “Rasulullah melewati kuburan di Madinah, Beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka dan bersabda: ‘Salam untuk kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian.'”  (HR. Tirmidzi)

Bacaan Al Qur’an bagi Mayit

Menurut Imam Sya’rani: Perbedaan dalam hal sampai atau tidaknya pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah masyhur dan masing-masing dari dua pendapat itu memiliki alasan sendiri. Adapun menurut Mazhab Ahlussunnah boleh bagi seseorang menghadiahkan pahala amalnya untuk orang lain, hal ini telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.
***

Allahua’lam.

Download materi kajian >> Do’a untuk Mayit

Bulan Syawwal

Kajian tanggal 4 September 2012 @Musholla Al Mushlihun. Sekalian memenuhi request-nya mbak Ziy.. 😀

——————————————————–

Di masa jahiliyah, bulan Syawwal adalah bulan yang sial untuk mengadakan pernikahan. Tapi, kemudian ditepis oleh Rasulullah melalui pernikahannya dengan ‘Aisyah pada bulan ini, seperti diriwayatkan dari ‘Aisyah, “Rasulullah menikahiku pada bulan Syawwal…” (HR. Muslim)

Ada amalan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah pada bulan Syawwal, yaitu puasa 6 hari di bulan ini.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengikutinya dengan 6 hari di bulan Syawwal, maka seakan-akan berpuasa 1 tahun.” (HR. Muslim)

Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi ada kalanya ia tidak berpuasa karena suatu uzur syar’i, insya Allah tetap akan mendapatkan keutamaannya jika ia mengamalkan puasa 6 hari ini.

Kedudukan Hadits

Hadits serupa juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Thabrani, dan lain-lain dari beberapa sahabat yang berbeda, seperti Abu Hurairah, ‘Aisyah, Tsauban, Jabir bin Abdullah al Anshari. Oleh karena itu, sebagian besar ulama mengatakan bahwa hadits ini shahih. Namun, ada juga yang men-dhaif-kan, seperti Sufyan ibnu Uyainah, yaitu guru Imam Bukhari.

Menurut Imam Ahmad, hadits ini masih diperselisihkan, tetapi para ulama telah mengamalkan isinya.

Hukum Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

  1. Menurut Imam Syafi’i , Imam Ahmad, dan Daud al Dhahiri: hukumnya sunnah, berpegang pada hadits riwayat Muslim di atas. Kalaupun ada ulama yang tidak melaksanakan hadits Imam Muslim tersebut, ini tetap tidak menghilangkan ke-sunnah-annya. Ini menurut Imam Syafi’i.
  2. Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik (gurunya Imam Syafi’i), dan Tsuri: hukumnya makruh karena dalilnya masih dalam perselisihan.
  3. Menurut Imam Malik, dalam kitabnya Al Muwattha’: “Saya tidak melihat seorang pun golongan ahli ilmu berpuasa di bulan Syawwal, maka hukumnya makruh…”
  4. Dalam riwayat lain, Imam Malik pernah berpuasa 6 hari di bulan Syawwal. Imam Ibnu Rajab mengatakan: Imam Malik melarang berpuasa (makruh)6 hari di bulan Syawwal jika orang itu beranggapan bahwa puasa itu wajib. Bagi yang beranggapan bahwa puasa itu tidak wajib, maka tidak mengapa melaksanakannya. Begitupula  para ulama tidak baik jika tidak menyebutkan hukum puasa tersebut kepada kaumnya.

Hukumnya yang paling kuat adalah sunnah.

Cara Melakukan

  1. Imam Syafi’i dan Ibnu Mubarak: lebih afdhal mengerjakannya dengan cara berurutan dimulai dari hari kedua di bulan Syawwal.
  2. Imam Waqi’ dan Imam Ahmad: tidak ada afdhaliyah, silakan, boleh dilakukan dengan cara terpisah selama bulan Syawwal, boleh juga berurutan.
  3. Ma’mar dan Abdurrazak: sebaiknya tidak dilakukan setelah ied karena di hari-hari itu adalah hari makan dan minum, tetapi hendaknya dilakukan 3 hari sebelum/sesudah ayyamul bidh.
  4. Ada yang mengatakan dilakukan kapan saja selama bulan Syawwal, tetapi dilarang di hari kedua karena seperti mencampur antara yang wajib dan sunnah. Akan tetapi, pendapat ini lemah.
  5. Sedangkan Usamah bin Zaid, setelah ied, puasa selama 1 bulan penuh. “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi dari Yazid bin Abdullah bin Usamah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim bahwa Usamah bin Zaid melakukan puasa pada bulan-bulan haram. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Berpuasalah di bulan Syawal. ” Maka kemudian, ia tidak lagi berpuasa di bulan-bulan haram dan tidak pernah berhenti puasa Syawal hingga meninggal. ” (HR. Ibnu Majah)

Sebaiknya tidak dilakukan mepet akhir Syawwal, karena dikhawatirkan ada halangan, sehingga puasa Syawwal tidak sempurna 6 hari. Kalaupun terjadi, maka tidak dihitung puasa Syawwal, tetapi puasa sunnah mutlak.

Bagi yang Berhutang Puasa Ramadhan

Diutamakan untuk membayar hutangnya dulu, baru kemudian puasa Syawwal. Akan tetapi, jika waktunya tidak mencukupi, boleh puasa Syawwal dulu. Hal ini karena membayar hutang waktunya lebih panjang daripada puasa Syawwal. Ini berpegang pada hadits:

Aisyah berkata: “Aku memiliki hutang puasa bulan Ramadan. Aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah SAW.” (HR. Muslim)

Niat keduanya tidak boleh digabung. Kalaupun terjadi, maka jatuhnya puasa tersebut terhitung sebagai qadha, bukan puasa Syawwal.

Hikmahnya

  1. Seakan-akan berpuasa selama 1 tahun karena kebaikan dilipatgandakan hingga 10 kali lipat. “Barangsiapa berpuasa 6 hari setelah idul fitri maka ia seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (HR. Ibnu Majah)
  2. Syawwal dan Sya’ban kedudukannya seperti shalat rawatib.
  3. “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Ibnu Katsir) Begitupula hubungan antara puasa Syawwal dan puasa Ramadhan. Semoga dengan berpuasa Syawwal, merupakan tanda diterimanya puasa Ramadhan kita.
  4. Sebagai tanda syukur atas karunia Allah.
  5. Ibadah yang biasa dilakukan selama Ramadhan tidak terhenti setelah berakhirnya Ramadhan.
  6. Menyegerakan qadha Ramadhan.

Allahua’lam bish shawab.. 🙂

*) Gambar dari sini.

Bulan Sya’ban

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering ketika di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: “Rasulullah pernah puasa hampir satu bulan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa sebulan penuh dalam setahun kecuali pada bulan Sya’ban, kemudian disambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud)

Hikmah hadits yang disebutkan ini, para ‘ulama mengatakan:

  1. Bulan Sya’ban adalah bulan yang mulia karena letaknya yang berdekatan dengan bulan Ramadhan;
  2. Sya’ban artinya bercabang-cabang. Pada bulan ini, masyarakat jahiliyah berpencar mencari air karena saat itu, air banyak keluar dan airnya bagus. Nah, ada pula yang mengatakan, di bulan Sya’ban ini cabang-cabang kebaikan disiapkan oleh Allah. Jadi, Sya’ban adalah bulan amal;
  3. Rasulullah memuliakan bulan Sya’ban dengan meningkatkan puasanya dan ibadah-ibadah lainnya. Salah satunya karena letaknya dekat dengan bulan Ramadhan. Maksudnya di sini bukan berarti pada bulan-bulan lainnya ibadah Rasulullah sedikit. Meningkatkan ibadah di sini maksudnya adalah meningkatkan ibadah yang terlihat oleh ummatnya.

Ada sekitar 23 kejadian besar pada bulan Sya’ban, antara lain:

  • Menurut Imam Nawawi, pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka’bah terjadi pada bulan Sya’ban.
  • Kelahiran Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, yaitu pada tahun keempat Hijriah.
  • Perang Bani Musthaliq. Terjadi pada bulan Sya’ban 5 Hijriah, ada juga yang menyebut tahun 6 Hijriah.
  • Turunnya ayat tentang Li’an.
  • Turunnya QS. Al Ahzab:56 tentang anjuran membaca shalawat bagi Rasulullah saw.

Amalan yang dianjurkan pada bulan Sya’ban:

  1. Puasa sunnah. Hendaknya tidak berpuasa 2 hari sebelum Ramadhan, kecuali untuk qada’ puasa atau karena sudah terbiasa berpuasa dan jelas masuknya tanggal 1 Ramadhan, sehingga tidak bercampur antara Ramadhan dan Sya’ban. Kalau yang belum terbiasa berpuasa, hendaknya setelah tanggal 15 Sya’ban tidak berpuasa lagi, karena dikhawatirkan fisik akan melemah saat memasuki bulan Ramadhan.
  2. Memperbanyak sedekah.
  3. Memperbanyak istighfar.

Allahu a’lam bish shawab.. 🙂

——————————————————————————————————————————————–

Kajian tanggal 20 Juni 2012 @Musholla Al Mushlihun

*edisi telat posting* :p