[Sekadar Cerita] Lebaran 1434 H versi beta

Lebaran tahun ini banyak hal yang berbeda. Ini kali pertama saya berlebaran di Kulon Progo, naik kereta dari Bandung pula. *Kok dari Bandung, Nis?* Hihihi. Ini karena kami kehabisan tiket mudik kereta dari arah Jakarta menuju Jogjakarta. Alhamdulillah beliau sigap mencari tiket kereta dari kota lain. Dan dua tiket itulah rizki kami. πŸ˜‰ Jadi, skenarionya, kami harus ke Bandung dulu tanggal 2 Agustus naik travel, menginap di hotel dekat stasiun, baru keesokan paginya berangkat dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Wates.

Edisi bosan istirahat - keluar main bola
Edisi bosan istirahat – keluar ikut main bola (kiri ke kanan: suami, sepupu – Fajrin, adik ipar – Alya)

Sampai di rumah Bapak bertepatan dengan waktu buka puasa, setengah jam naik motor dari Stasiun Wates. Bapak menyambut kami dengan senyum ramahnya, seperti biasa. Ditemani Alya yang malu-malu. (Si bungsu dan anak perempuan Bapak satu-satunya ini memang tiap ketemu saya, awalnya malu-malu. Tapi setelah beberapa saat malu-malunya hilang. Dimulai dengan meminjam HP saya untuk bermain. :D)

Kedua, dari keluarga yang tidak terlalu besar, sekarang saya memiliki keluarga buesssaaarrr. Hehehe. Bapak mertua enam bersaudara, sedangkan Ibu mertua delapan bersaudara. Belum lagi jumlah sepupu dan keponakan. Ah, ditambah dua orang adik ipar. Jadi, salah satu yang saya rasakan dari lebaran ini adalah, RAMAI. Alhamdulillah… πŸ˜€

Keramaian suasana Ramadhan dan lebaran saya di Kulon Progo, bukan hanya berasal dari jumlah tambahan keluarga saya. Aktivitas warga di sana juga ramai lho. Di sana ada kegiatan dasawisma, yaitu pengajian yang anggotanya ibu-ibu dari sepuluh rumah. Jadi, dalam satu desa, ada beberapa kelompok dasawisma, yang memiliki jadwal pengajian berbeda-beda. Kemudian, untuk remaja, ada tadarus Quran tiap malam Ahad. Ada lagi yang berbeda, setiap selesai shalat Isya, ada penyampaian kultum oleh remaja masjidnya. Dan yang tidak kalah unik, tahun ini, remaja masjidnya mengadakan agenda “Cuci Motor Murah” bagi warga desa. Wah..Di lingkungan tempat tinggal saya belum ada yang seperti ini.

Karena satu dan lain hal, tahun ini saya absen menghabiskan libur lebaran di Purwodadi dan Wonogiri.Β Liburan sepenuhnya dihabiskan di Kulon Progo. Ada sedikit perbedaan pada menu lebaran antara Kulon Progo dan Purwodadi. Di Purwodadi tidak pernah ada sajian ketupat pada hari H lebaran. Ketupat baru disajikan pada lebaran kecil, yaitu sepekan setelah hari H lebaran. Kalau di Kulon Progo, ketupat bisa dinikmati sejak hari pertama lebaran, bahkan sore hari sebelumnya (kan masaknya dari siang). Ketupat yang kami makan saat itu karya perdana Bapak lho. πŸ˜‰

Hari H lebaran, selain sibuk silaturrahim dengan sanak keluarga. Beberapa orang, termasuk saya, siaga di rumah simbah untuk membantu menyajikan minum ke tamu-tamu yang datang. Kalau lebaran, tamu di rumah simbah memang selalu membludak, bahkan sampai keesokan harinya. Bagusnya, tamu-tamu itu banyak datang hanya sejak sekitar pukul 9 pagi sampai menjelang zuhur saja. Simbah seolah punya jam kunjungan sendiri, hehe.

Nah, hari terakhir saya berada di Kulon Progo, ada acara silaturrahim trah mbah buyut. Artinya ada agenda masak-memasak lagi untuk ini. Bedanya, dalam agenda kali ini, sepupu-sepupu dari keluarga Bapak turun tangan semua, baik yang perempuan, maupun laki-laki. Silaturrahim seperti ini juga baru saya temui di sini. Di keluarga Ayah atau Mama tidak pernah ada acara semacam itu. Kalau ingin silaturrahim, ya berkunjung langsung ke rumah yang bersangkutan.

Yang saya suka dan selalu saya rindukan dari suasana di sana adalah nuansa kekeluargaan dan gotong royongnya masih sangat kental.

Advertisements

Salah Paham

menyampaikan pemahaman yang salah kepada orang lain, sehingga orang lain ikut salah paham, dan orang lain itu menyampaikan ke orang lain lagi hingga bertambah banyak yang salah paham…sungguh salah paham yang berdampak “sistemik”…

lucu

Kawan Berkait

Mungkin kita tidak jarang berjumpa dengan fenomena “Kawan Berkait”. Istilah yang saya gunakan untuk kenalan yang berada di lingkungan luar sana, tanpa disadari sebelumnya, ternyata berkawan dengan orang-orang yang kita kenal lainnya. Duh, ribet ya? Begini ilustrasinya. B punya kenalan namanya A. Si B juga kenal sama C. Nah, tanpa disadari sebelumnya oleh B, ternyata si A juga kenal dengan C. Jadilah A, B, dan C kawan berkait. :p

kawan

Nah, baru-baru ini saya kembali menemukan “Kawan Berkait” saya, hehe. Tapi histori keberkaitannya agak sedikit rumit. Jadi, simak baik-baik ya. πŸ˜€

Begini, saya punya teman SMP yang inisialnya PL. Nah, begitu mengenal dunia perfesbukan, saya mencari namanya di fesbuk. Dan dengan PDnya (tanpa konfirmasi terlebih dahulu) saya menambahkan seseorang yang kuliah di UI sebagai teman. Saat itu saya pikir dia adalah kawan SMP saya karena namanya persis sama.

Meskipun kami sudah berteman di fesbuk, tapi saya belum pernah berkomunikasi dengannya (sebut saja: PLs). Pun dengan PL yang asli, saya benar-benar kehilangan kontak dengannya sejak lulus SMP. Hingga suatu ketika PLs membuat status yang kemudian saya komentari. Dari sana baru saya ketahui kalau dia bukanlah PL teman SMP saya, melainkan PLs yang pernah bersekolah di SMAN 99. PL teman SMP saya ini dulu melanjutkan sekolahnya di SMA Telkom. Dengan kejadian ini, bertambahlah kenalan saya, hehe. πŸ™‚

Kemudian, saya membuat akun di goodreads. Di sana, saya menemukan lagi sebuah nama, yang persis dengan nama kawan saya itu lagi, tapi kali ini saya tidak berpikir bahwa dia adalah kawan SMP saya, saya justru berpikir bahwa dia adalah kenalan saya yang baru, si anak SMAN 99. Di “details”nya terbaca kalau beliau orang Jogja, tapi waktu itu saya kira ceritanya begini: PLs sudah lulus, lalu tinggal di Jogja. -_-

Daaaan, baru tau kalau mbak PL yang ini, bukan kenalan saya yang sekolah di SMAN 99 dan bukan teman SMP saya. Jadi, selama ini saya ngerasa beliau itu kenalan saya aja gitu, padahal bukan. Beliau ternyata kawan SMP-nya “seseorang” . Begitulah kisah kawan berkaitnya saya dengan “seseorang”. Salam kenal ya Mbak puchsukahujan~ πŸ˜€

*) sumber gambar

what made me so happy yesterday

 

Alhamdulillah, Senin Semangat! Tambah semangat pas baca email dari goodreads yang bilang kalau saya menjadi pemenang book giveaway. :’)

Writed on December 9th, 2012

***

Nah, hari Selasa kemarin (18/12), taraaaa, pas saya balik dari suatu tempat, bukunya udah nangkring di meja. Ternyata sampainya tidak selama yang saya perkirakan. Mungkin faktor lokasi penerbit yang tidak terlalu jauh dari kantor. My pile’s got higher. πŸ™‚

giveaway

***

Dufan = Do Fun (?)

This slideshow requires JavaScript.

Dunia Fantasi (Dufan) adalah salah satu taman bermain yang terletak di Jakarta. Sebagai anak Jakarta, tentunya saya sudah beberapa kali ke sana. Hmm, berapa kali ya..yang jelas berkali-kali, tapi gak sering sih.

Nah, beberapa waktu lalu saya diajak oleh seorang kakak ke sana. Beliau punya voucher yang dibeli di salah satu web-diskon. Jadi, tiket masuk Dufan bisa didapat seharga Rp 149.000. Lumayan, ada potongan Rp 101.000.

Sebenarnya saya tidak terlalu ingin pergi ke sana karena pengalaman-pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa saya orang yang gampang mual. Tapi, kangen juga 6 tahun tak berkunjung, sekaligus mau tau keadaan Dufan sekarang seperti apa.

Terakhir kali ke sana, jaman SMA kelas X, naik halilintar, sampai di bawah langsung mual-mual. Setelah mualnya reda, nekat naik pontang-panting, eh, turunnya mual-mual lagi. -_-

Jadilah waktu kemarin-kemarin ke sana, saya hampir selalu bertugas sebagai penjaga tas. (Y) Kakak-kakak yang lain naik tornado, kicir-kicir, dan halilintar. Tapi saya cukup sadar diri untuk tidak ikut dan menjadi penjaga tas yang baik. :p

Sayang gak sayang sih, udah ngeluarin uang segitu banyak, tapi cuma bisa menikmati sedikit wahana. Tapiiiii……kalo gak saat itu, kapan lagi saya bisa ketemu si kakak? Udah lama gak ketemu lho. Beliau itu mbak-mbak yang sibuk. Dan sebuah ajakan bertemu ketika hati sedang rindu itu sangat berarti. #halah #melowΒ  Jadi pas ditawarin ke sana dan ternyata belum ada agenda hari itu, langsung jawab “HAYO”. πŸ˜€

Oh iya, karena adek gak ikut, padahal dia belum pernah ke Dufan, akhirnya saya belikan kaos souvenir. Hhe..Kapan-kapan, kita ke sana ya dek, tapi mbak jaga tas aja, adek yang main.. :p

So, Dufan = Do Fun? Buat saya sih, ini kondisional. Yang lebih saya nikmati waktu itu justru kebersamaan dengan si kakak.

*) fotonya sebenernya buanyak tuh, tapi yang berhasil terkirim via gtalk cuma 19 foto, dan yang gak ada gambar sayanya cuma yang ada di slide di atas. Yaa, begitulah. Harap maklum. #eh

Resensi: Totto-chan–Gadis Cilik di Jendela

Penulis: Tetsuko Kuroyanagi

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal buku: 272 halaman

Ukuran: 13.5 x 20 cm

Harga: Rp 50.000,00

Awalnya tertarik membeli dan membacanya karena di beberapa review yang saya baca, pesan yang ingin disampaikan adalah tentang pendidikan anak. Dan berdasarkan cerita beberapa kawan, buku ini termasuk a should-read book. πŸ™‚

Tetsuko Kuroyanagi, atau yang biasa dipanggil Totto-chan menjadi tokoh sentral di dalam buku ini. Berformat (seperti) catatan harian dari sudut pandang orang ketiga, penulis berhasil menceritakan hampir detil dari kisah masa kecilnya. Ia yang sempat dikeluarkan dari sekolah konvensional karena keunikannya, lalu pindah ke sekolah baru yang menurutnya sangat menyenangkan, dan kejadian-kejadian yang mengesankan-juga menyedihkan- bagi Totto-chan ada di dalam buku ini.

Lalu, darimana kita mendapatkan pelajaran tentang pendidikan anak?

Nah, di sekolah barunya ini Totto-chan bertemu dengan kepala sekolah yang sangat ia sukai, yaitu Mr. Kobayashi. Dari dialah kita bisa belajar, betapa sabarnya ia ketika mendengarkan anak didiknya berbicara, betapa ia kreatif menumbuhkan rasa percaya diri bagi murid-muridnya di Tomoe-sekolah yang dipimpinnya-, dan betapa ia begitu memahami perasaan setiap murid-muridnya.

Tomoe bukanlah sekolah legal-terdaftar di (semacam) Dinas Pendidikan- dan juga bukan sekolah yang menganut kurikulum konvensional. Semua sistemnya benar-benar berbeda. Mungkin di Indonesia kita menyebutnya dengan istilah sekolah alam. Nah, untuk yang satu ini, sepertinya sulit untuk diadopsi di sekolah-sekolah dasar di kota Jakarta yang tak punya banyak lahan kosong. Namun, menurut saya, metode belajar di Tomoe masih bisa diterapkan di taman kanak-kanak, dengan modifikasi tentunya, karena di TK sendiri belum ada “mata pelajaran”.

Pagi tadi sempat membayangkan bagaimana jika SD-SD di Jakarta ini menerapkan sistem seperti itu. Dengan jumlah murid yang biasanya sekitar lebih dari 30 orang/kelas -padahal tiap tingkatan kelas bisa ada lebih dari satu kelas- untuk SD reguler. WOW. @_@

Back to the topic, Tomoe Gakuen ini bersimbol dua buah koma berwarna hitam dan putih. Dalam imajinasi saya bentuknya seperti lambang yin dan yang. :p Entah benar atau salah, hehe. Di atas saya sebutkan mirip sekolah alam karena di sini murid-murid tidak belajar di ruang kelas seperti sekolah-sekolah konvensional lainnya. Murid-murid belajar di gerbong-gerbong kereta api yang sudah tak terpakai. Just imagine it. πŸ™‚

Di bagian hampir akhir, diceritakan kisah yang tone-nya berkebalikan dengan kisah-kisah sebelumnya. Terjadi beberapa kejadian menyedihkan, salah satunya adalah kematian salah seorang teman sekelas Totto-chan.

***

Saya suka cara Tetsuko Kuroyanagi menceritakan kisahnya. Sederhana, tidak membosankan, justru membuat saya penasaran, ada cerita apalagi ya setelahnya, atau kreatifitas apalagi yang diperbuat oleh Totto-chan, atau ada pelajaran apalagi ya. Hmm, tokoh Mr. Kobayashi dan Ibu Totto-chan menurut saya adalah yang paling menginspirasi karena mereka berhasil menghadapi keunikan Totto-chan tanpa meninggalkan luka di hati Totto-chan.

Mengingatkan saya pada sosok Rasulullah, ahsanul uswah, yang senantiasa berlaku lemah lembut terhadap anak-anak. Ingat kisahnya ketika diompoli seorang anak lalu ibu sang anak menariknya dengan kasar. Rasulullah berkata, “Dengan satu gayung air, bajuku yang terkena najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan. Akan tetapi, luka hati anakmu karena rengguta mu dari pangkuanku tidak bisa diobati dengan bergayung-gayung air”. :’)

Ah iya, ada satu hal yang masih janggal di kepala saya, tentang kegiatan berenang di Tomoe. Akal saya masih belum terima bagaimana kebijakan tersebut bisa mengurangi rasa minder seorang anak. Hmm. Yang sudah membaca mungkin bisa menebak bagian mana yang janggal, hehe.

Empat bintaaang (dari lima)! πŸ˜€

Passion

Passion-ku gak di sini,” begitu katanya, dengan wajah serius. Saya ingat betul. Sampai saat ini pun, masih sama. Bertahan sekian tahun. Passion-nya (masih) bukan di tempat ini. Lalu, kenapa ia masih di sini? Sempat saya tanyakan padanya. Jawabnya, karena ia menganggap masa-masa ini adalah persiapan meraih mimpinya. Sampai waktunya nanti, insya Allah ia akan meninggalkan tempatnya sekarang, menuju mimpinya. Bukan, bukan berarti ia tak mensyukuri keadaan yang sekarang. Tapi, ketika ada kesempatan yang dirasa lebih baik, boleh kan mengambil kesempatan itu?–ini juga menurut seorang kakak.