[Pengingat Diri] Mengadu

Mengadu dan bicara tidak hanya memilih orang yang tepat, tapi juga tempat yang tepat.

Begitulah kalimat yang saya kutipkan dari halaman kedua majalah Tarbawi edisi 305. Hmm, segala yang kita perbuat agar hasilnya efektif memang memiliki requirements tersendiri. Istilahnya, syarat dan ketentuan berlaku. Sejauh mana pengaduan dan pembicaraan kita menuai hasil yang maksimal tentu bisa dilihat dari kepada siapa dan dimana kita melakukannya. Contoh sederhananya, kita ingin membicarakan masalah kantor dengan seseorang yang kompeten, konsultan misalnya. Dari segi kompetensi pribadinya (orangnya) kita tidak salah orang, tapi ketika konsultasi tersebut kita lakukan di bioskop, menuai hasil maksimalkah kita? (contohnya ekstrim ya? :p)

Ah, mungkin bisa ditambahkan lagi dengan waktu yang tepat. Jadi, orang yang tepat, tempat yang tepat, serta waktu yang tepat. Tidak pas kan, seseorang mengadukan masalah di sekolah (misalnya) saat suasana hati orang tuanya sedang tidak baik.

Kemudian saya iseng membuka sebuah situs kamus online untuk mengetahui arti kata “mengadu” dan saya kurang cocok membaca salah satu artinya. Pada poin ketujuh disebutkan bahwa mengadu adalah menyampaikan sesuatu yang memburuk-burukkan orang lain. Saya merasa tidak sepenuhnya setuju dengan arti kata tersebut, perlu ada yang ditambahkan karena mengadu tidak melulu terkait menjelek-jelekkan orang lain. Kalau boleh saya membuat pengertian sendiri, maka artinya akan seperti ini.

Mengadu adalah menyampaikan suatu permasalahan, baik itu terkait orang maupun kondisi.

mengadulah
(Source: click the picture; Edited by me)

Nah, mengadu (kepada orang lain) harus hati-hati, jangan sampai jatuhnya menjadi ghibah, membicarakan orang lain, apalagi kalau sampai menjadi fitnah. Amannya sih mengadunya sama Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah lagi. Begitu kata ustadz Yusuf Mansyur. Tapi apa tidak boleh mengadu kepada manusia? Boleh, apalagi jika itu salah satu ikhtiar (usaha) kita dalam memecahkan suatu masalah. Tapi harus tetap menghindari ghibah ya. ^_^

“Dia (Ya’qub ‘alaihissalam) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Advertisements

Khitbah #2

Kajian tanggal 2 Januari 2013 @ Mushola Al Mushlihin

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Siapakah Wanita yang Boleh Dikhitbah?

  • Bukan mahram muabbad, yaitu orang yang selamanya tidak boleh dinikahi (cth: ayah/ibu kandung, saudara kandung); maupun mahram ghairu muabbad, yaitu orang yang boleh dinikahi hanya setelah bercerai dari suami/istri (cth: ipar).
  • Tidak dalam masa ‘iddah, kecuali untuk yang cerai karena wafatnya suami, tetapi tidak boleh dinikahi sebelum 4 bulan 10 hari.
  • Tidak dalam lamaran orang lain.

Melihat Wanita yang Akan Dikhitbah

Boleh melihat sendiri atau mengirim orang lain untuk melihat wanita yang akan dikhitbah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, ia berkata, ”Mughirah bin Syu’bah berkeinginan menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Pergilah untuk melihatnya, karena dengan melihat akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua.’ Lalu ia melihatnya, kemudian menikahinya dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu.” (HR. Ibnu Majah)

Batasan melihat:

  • Jumhur ‘ulama: wajah (mewakili kecantikan) dan kedua telapak tangan (mewakili kelembutan)
  • Hanafiyah: wajah, kedua telapak tangan, dan kedua kakinya sampai mata kaki
  • Hanabilah: wajah, tengkuk, kedua telapak tangan, kedua kaki sampai mata kaki, kepala, dan betis
  • Imam Auza’i: anggota tubuh yang ditumbuhi daging
  • Daud Azh Zhahiri: seluruh tubuh, kecuali kemaluan

Kelima pendapat tersebut didasarkan pada hadits berikut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika salah seorang dari kalian melamar seorang wanita, apabila ia dapat melihat darinya sesuatu yang membuat ia tertarik untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya” (HR. Abu Dawud)

khitbah1

(sumber gambar)

Pembatalan Khitbah (terkait hadiah yang diserahkan kepada calon istri)

  • Hanafiyah: semua barang yang diserahkan, wajib dikembalikan, kecuali yang sudah habis, semisal buah atau makanan.
  • Malikiyah: jika yang membatalkan pihak laki-laki, tidak perlu dikembalikan. Jika yang membatalkan pihak perempuan, semua pemberian harus dikembalikan, termasuk yang sudah habis, diganti dengan yang sejenis.
  • Syafi’iyah & Hanabilah: tidak wajib mengembalikan.

Allahua’lam bishshawwab..

Menjaga Pandangan #4

Kajian tanggal 14 Nopember 2012 @Mushola al Mushlihin. Dalam kajian hari ini dibahas dua tema, yang pertama, melanjutkan tema Menjaga Pandangan; dan yang kedua, masuk ke tema Zina. Agar lebih rapih, kedua tema tersebut insyaAllah akan saya resume-kan dalam dua postingan berbeda.

***

Sebab Mengumbar Pandangan

  • Mengikuti hawa nafsu setan

Boleh jadi ia sudah mengetahui bahaya dan ancaman dari Allah, tetapi ia tidak kuasa untuk tidak mengikuti hawa nafsu setan.

  • Tidak memahami bahayanya mengumbar pandangan

Mungkin orang tersebut tau apa bahayanya, tapi mata hatinya tertutup untuk benar-benar memahami hal tersebut.

  • Mengandalkan ampunan Allah & melupakan siksanya

Memang betul dengan berwudhu dan berzikir bisa hilang dosa-dosa kecil. Akan tetapi, siapa yang bisa menjamin setelah bermaksiat usia kita masih sampai untuk bisa berwudhu atau berdzikir?!

  • Banyak membaca dan menyaksikan tontonan yang diharamkan oleh Allah

Dengan seringnya melakukan maksiat serupa, maka akan menjadi terbiasa dan rasa bersalah berangsur hilang. Sama seperti hati yang jika kita melakukan maksiat, maka akan timbul noda padanya. Semakin sering bermaksiat, hati menjadi semakin kotor, gelap, hingga kehilangan kemampuannya untuk melihat.

  • Tidak segera menikah

Menikah adalah salah satu cara untuk menjaga pandangan. Walaupun bukan berarti yang sudah menikah sudah tidak mungkin lagi tergoda untuk mengumbar pandangan. Hanya saja kemungkinan melakukan maksiat ini akan dapat diminimalisasi.

  • Banyak bergaul dengan lawan jenis

Dengan banyak bergaul dengan lawan jenis, menjaga pandangan akan lebih sulit dilakukan karena sehari-hari berinteraksi dengan mereka.

  • Adanya kenikmatan (sesaat)

Maksiat acapkali menimbulkan sensasi nikmat saat melaksanakannya. Namun, kenikmatan tersebut hanya berlangsung sebentar, yaitu saat bermaksiat. Nah, perlu diwaspadai, setelah melakukannya akan ada azab Allah yang mengintai, yang bisa  diberikan di dunia ataupun di akhirat kelak.

  • Banyaknya wanita yang membuka aurat di tempat umum

Nah…nah…ternyata kita (kaum wanita) juga berperan dalam penjerumusan laki-laki untuk mengumbar pandangannya. Apalagi di zaman sekarang, hampir di semua tempat umum (di luar tempat yang diperbolehkan bagi wanita untuk membuka aurat) ada wanita yang seperti itu.

Sebab Terjaganya Pandangan

  • Memiliki ketakwaan kepada Allah

Kalau orang itu memiliki ketakwaan kepada Allah, insyaAllah dia akan bisa menjaga pandangannya.

  • Berusaha menghilangkan sebab-sebab mengumbar pandangan

Salah satunya, untuk para muslimah, bisa dengan cara menutup aurat. Jadi, muslimah, yuk kita tutup aurat. :’)

  • Mensyukuri nikmat Allah, terutama yang berupa indera penglihatan

(sumber)

Bukankah Allah telah berjanji bahwa jika kita bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya, tapi kalau kita kufur, sesungguhnya azab Allah sangatlah pedih.

Manusia ini sesungguhnya bisa menikmati dunia karena adanya kemampuan untuk melihat.

Bahkan dalam sebuah hadits, dari Jabir, Rasulullah bersabda: “Tadi Jibril baru saja keluar dari tempatku. Ia berkata, “… Sesungguhnya Allah memiliki seorang hamba yang telah menyembah kepada Allah selama 500 tahun. … ia akan dibangkitkan pada hari kiamat, kemudian didudukkan dihadapan Allah swt, dan Allah swt berfirman, ‘Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga atas berkat rahmat-Ku.’ Si Abid berkata,’Tapi ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.’ Allah berfirman, ‘Masukkanlah hamba-Ku ke surga atas berkat rahmat-Ku.’ Si Abid berkeras, ‘Ya Rabbi, masukkanlah hamba ke surga atas berkat amal perbuatanku.’ Allah swt lalu menjelaskan, ‘Timbanglah pada hamba-Ku ini antara nikmat yang telah Ku berikan dengan amal perbuatannya.’ Maka didapati bahwa nikmat penglihatan telah meliputi ibadah selama 500 tahun itu, belum lagi nikmat-nikmat badan yang lainnya …” (HR. Al Hakim, shahih)

  • Berpuasa

Berpuasa sebenarnya sudah termasuk dalam kategori takwa yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi, puasa di sini adalah sebagai amalan khususnya.

Dari Abdullah ra, Rasulullah bersabda: “Siapa yang telah mampu ba’ah, hendaklah menikah, sungguh menikah itu lebih dapat menjaga pandangan dan kemaluan, siapa yang tidak mampu maka hendaknya berpuasa sungguh pada puasa itu dapat memutus syahwat.” (HR. Bukhari)

  • Mengingat keburukan lawan jenisnya

Berkata Ibnu Mas’ud: apabila seorang wanita/laki-laki melihat lawan jenisnya lalu ia kagum, maka ingatlah keburukannya/ekspresi/sisi terburuknya agar tidak menimbulkan syahwat.

  • Menikah

Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah bersabda: “Sungguh wanita itu menghadap dalam gambaran setan (maksudnya menyebabkan syahwat) dan membelakangi  dalam gambaran setan. Jika salah seorang di antara kalian melihat wanita, maka hendaklah dia mendatangi istrinya, sungguh yang demikian itu menolak apa yang ada pada dirinya.” (HR. Muslim)

  • Berdoa agar dijauhkan dari fitnah pandangan

Syakal bin Humaid meminta doa kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

“Ya Allah, sungguh aku memohon perlindungan dari-Mu dari kejahatan pendengaranku, dari kejahatan pandanganku, dari kejahatan lisanku, dari kejahatan hatiku, dan dari kejahatan maniku.” (HR. Abu Daud, hadits ini hasan)

Doa di atas adalah doa untuk mencegah. Nah, kalau doa untuk menanggulangi (-_- bahasane), bisa menggunakan doa ini:

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa…

(Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon ampunan. Kami berlindung kepada-Nya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami…)

  • Bergaul dengan orang shalih

Akhlak seseorang itu dapat dilihat dari akhlak teman-temannya.  Jadi, kalau kita bergaul dengan orang-orang shalih, insyaAllah kita akan ketularan shalihnya. Orang yang baik pasti berteman dengan orang baik. Karena kecenderungan manusia adalah berkelompok dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama.

  • Khawatir su’ul khatimah dan penyesalan di alam kubur

Seperti yang telah disampaikan di atas. Bisa jadi, ketika sedang bermaksiat, justru Allah memerintahkan malaikat untuk mencabut nyawa orang tersebut. Na’udzubillah…tsumma na’udzubillah…

***

Allahua’lam

Download versi powerpoint >> Sebab Mengumbar Pandangan << 😀

*) sumber gambar kungfu panda>> click

Menjaga Pandangan #3

Materi kajian tanggal 7 Nopember 2012 ini sebagian sudah saya sampaikan di resume Menjaga Pandangan #2. Namun, di resume sebelumnya penyampaian dari ustadz baru sekilas-sekilas. Nah, kali ini alhamdulillah dikupas lagi sedikit lebih dalam.

***

Akibat Mengumbar Pandangan

  • Rusaknya hati

Menurut para ‘ulama, pandangan dapat berbuat terhadap hati sebagaimana panah terhadap buruan, jika kamu tidak membunuhnya maka kamu melukainya. Begitupula dengan pandangan, kalau tidak sampai syahwat, maka tetap akan rusak hatinya.

Jika orang mukmin melakukan dosa, akan menjadi titik hitam di hati. Begitu pula dengan mengumbar pandangan, yang merupakan merupakan dosa. Lalu jika dosa itu menjadi banyak, semakin banyak pula titik hitam pada hati, sehingga hati menjadi rusak. Rusaknya hati menandakan rusaknya semua anggota tubuh.

Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh namun jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Muttafaq ‘alaih)

  • Lupanya ilmu

Disebutkan oleh Ibnu Qayyim, “Sungguh telah lupa seorang ahli ibadah hafalan Al Qur’annya lantaran dia melihat anak kecil yang beragama Nasrani.”

Utamanya adalah ilmu yang berkaitan dengan agama. Karena ilmu adalah cahaya yang tidak bisa masuk ke dalam hati yang rusak.

  • Turunnya bala/ujian

Dituliskan pula oleh Ibnu Qayyim, berkata Amr bin Murrah, “Aku telah melihat seorang wanita yang aku kagumi lalu aku dibutakan, maka aku berharap itu adalah sebagai balasan untuk diriku.”

  • Batalnya pahala ketaatan

Khudzaifah ra berkata, “Siapa yang memperhatikan (membayangkan) seorang wanita dari belakang bajunya, maka telah batal puasanya.”

(gambar dari sini)

  • Lalai dari Allah dan akhirat

Jika hati sibuk dengan hal yang haram akan mewariskan malas untuk berdzikir kepada Allah dan melazimkan keta’atan.

Inilah salah satu pentingnya kita berdoa untuk dijauhkan dari rasa malas. Allahumma inni a’udzubika minal kasal…

Faedah Menjaga Pandangan

  • Membersihkan hati dari sakitnya kerugian, karena siapa yang mengumbar pandangannya maka akan mendapat kerugian.
  • Menimbulkan cahaya dalam hati

Dari Abdullah bin ‘Abbas, saat menginap di rumah Maemunah, istri Rasulullah, beliau pernah mendengar Rasulullah berdoa sesudah shalat malamnya: “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (HR. Muslim)

Dengan adanya cahaya dalam hati, maka akan terlihat mana yang haq dan mana yang batil. Pandangan itu akan mewariskan kepada hati cahaya yang tampak di mata, wajah, dan di anggota tubuh seluruhnya. Begitupula orang yang mengumbar pandangan, akan mewariskan kegelapan pada mata, wajah, dan anggota tubuhnya.

  • Menguatkan firasat

Dari Abu Said Al Khudri, Rasulullah bersabda, “Takutlah kalian pada firasat orang mukmin, sungguh dia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Tirmidzi, sanadnya gharib, didhaifkan oleh Syaikh Albani)

Sesungguhnya orang yang menjaga pandangan akan menjaga baiknya firasatnya, karena dengan menjaga pandangan, akan mendapatkan cahaya dalam pandangannya, dan buahnya adalah dia bisa melihat apa yang ada pada orang yang dihadapinya.

Berkata Suja’ Al Kirmani, “Barangsiapa yang memakmurkan zhahirnya dengan mengikuti As Sunnah, bathinnya selalu muraqabah (merasa diawasi Allah), juga menahan dirinya dari syahwat-syahwat, dan menundukkan pandangannya dari perkara-perkara yang haram, dan membiasakan diri dengan memakan yang halal, niscaya tidak akan salah firasatnya.

‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tiga orang yang kuat firasatnya, yaitu: pertama,  puteri (puteri Nabi Syu’aib) yang meminta kepada ayahnya agar Nabi Musa as. diserahi tugas karena ia kuat dan dapat dipercaya; kedua,  Abu Bakar ketika dia mengangkat Umar bin Khattab sebagai penggantinya; ketiga, Aziz Mesir ketika ia memerintahkan kepada istrinya supaya kepada Yusuf agar diberikan tempat dan kedudukan yang baik di istananya.” (ada yang mengatakan hadits ini mursal karena tidak tersambung dengan Rasulullah, tapi ada pula riwayat lain yang semakna, diriwayatkan oleh Imam Hakim dan beliau mengatakan hadits ini shahih, begitupula dikatakan oleh Imam Adz Dzahabi)

  • Menimbulkan rasa bahagia dalam hati

Siapa yang bisa menjaga pandangannya akan mendapatkan kelezatan dan kelapangan dalam hati, dan siapa yang mengumbar pandangannya akan mendapat kesulitan.

Melihat itu nikmat, tapi sesungguhnya menjaga pandangan adalah lebih nikmat daripada bisa melihat.

  • Membuka pintu ilmu

Sesungguhnya orang yang menjaga pandangan akan membuka pintu-pintu ilmu, bahkan sebab-sebabnya akan dimudahkan, sehingga mudah mendapatkannya. Hal ini dikarenakan adanya cahaya dalam hati. Maka akan tampak hakikat-hakikat ilmu.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku mengeluh kepada Imam Waki’ tentang  buruknya hafalanku, maka guruku memberi petunjuk untuk meninggalkan kemaksiatan. Dan dia memberitahukan bahwasanya ilmu itu cahaya, sedangkan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

Kalaupun ahlul maksiat bisa pintar, hafal Al Qur’an, dan sebagainya, tetap akan bisa, tapi hal ini tidak akan mendatangkan manfaat dan tidak akan membekas.

  • Menguatkan hati

Menjaga pandangan akan menguatkan hati, menjadi berani, tidak mudah goyah tentang prinsipnya akan apa-apa yang haq dan yang bathil.

***

Allahua’lam.

Mohon maaf, resume ini belum ada powerpointnya. InsyaAllah kalau sudah ada, akan diupload. 🙂

Menjaga Pandangan #1

Kajian tanggal 17 Oktober 2012 @Mushola Al Mushlihin..

***

…Sebuah pendahuluan dari bab fiqh nikah…

Para ‘ulama mengatakan bahwa mata adalah cerminan hati. Maka orang yang menjaga pandangannya, berarti ia juga telah menjaga hati dari syahwat dan keinginannya.

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19)

Dalam ayat di atas dijelaskan mengenai hubungan antara padangan dengan hati. Disebutkan pandangan dulu, baru hati. Berarti menjaga pandangan dulu, lalu hati akan terjaga.

Asbabun nuzulnya: Ada seorang laki-laki yang duduk dekat dengan Rasulullah yang melihat seorang wanita cantik yang duduk tidak jauh darinya hingga dalam hatinya timbullah rasa. Ketika wanita itu melihatnya, ia pura-pura tak melihat. Tapi ketika wanita itu tidak melihatnya, laki-laki tadi kembali memperhatikan. Kemudian Allah menurunkan ayat ini untuk menegurnya.

Dalam surat An Nur: 30-31

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka…”

Dalam kedua ayat di atas, urutannya adalah, menahan pandangan dulu sebelum menjaga kemaluannya.

Perintah menahan pandangan dan memelihara kemaluan disebutkan bagi laki-laki dahulu, baru perempuan. Hal ini karena laki-laki kurang bisa menahan pandangan dan lebih mudah bersyahwat daripada perempuan.

Para ‘ulama mengatakan bahwa sabar menahan pandangan lebih mudah daripada sabar atas sakitnya yang terjadi setelahnya. Ini karena bahayanya maksiat yang disebabkan oleh pandangan dan azabnya dari Allah.

(gambar dari sini)

Bahayanya Pandangan

  • Fitnah terberat

Dari ‘Usamah bin Zaid ra, Rasulullah saw. bersabda: “Aku tidak meninggalkan setelahku sebuah fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari-Muslim)

  • Fitnah yang pertama terjadi

Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, Rasulullah bersabda: “Sungguh dunia ini manis dan hijau (sedap dipandang), dan sungguh Allah swt menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, Allah ingin melihat bagaimana kalian berbuat. Takutlah kalian terhadap dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah wanita. Sungguh  fitnah pertama yang terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.” (HR. Muslim)

Bahkan menurut salah satu pendapat, Qabil membunuh Habil pun karena wanita. Kurban Habil diterima Allah, sehingga ia berhak memperistri saudari kembar Qabil yang cantik dan Qabil harus memperistri saudari kembal Habil yang tidak sepadan kecantikannya.

Begitu pula kisah dibunuhnya unta Nabi Saleh as. Pembunuhnya tergiur melakukannya karena diiming-imingi akan dinikahkan dengan wanita cantik.

‘Ulama Salaf dalam Menjaga Pandangannya

  • Rabi’ bin Khaizam ra: jika melewati wanita maka beliau menundukkan kepalanya ke dadanya sehingga para wanita itu mengira beliau buta. Dan para wanita itu berlindung kepada Allah swt dari kebutaan.
  • Dari Ibnu Abbas ra, Fadhl bin Abbas ra pergi mendampingi Rasul saw di hari Qurban dan dia duduk di belakang kendaraannya. Fadhl bin Abbas ra adalah seorang laki-laki yang tampan. Rasul saw berdiri memberikan fatwa kepada manusia. Tiba-tiba menghadap padanya seorang wanita dari suku Khats’am yang cantik untuk meminta fatwa kepada Rasul saw. Fadhl melihat dengan memperhatikan kepadanya dan beliau mengagumi kecantikannya, maka Nabi berpaling melihat wanita itu dan Fadhl juga melihatnya lalu Nabi memalingkannya dengan mengambil dagu Fadhl dan mengarahkan ke arah yang lain. Wanita itu berkata: “Wahai Rasul, apakah bagiku wajib melaksanakan Haji sedang ayahku sudah tua yang sudah tidak mampu mengendarai kendraan? Apakah aku wajib mengqadhanya untuknya?” Jawab Rasulullah saw: “Iya.” (HR. Bukhari)
  • Berkata Ma’ruf rhm: “Jagalah pandangan kalian walaupun dari kambing betina!”

***

Allahua’lam…

Sila download versi powerpoint >> Menjaga Pandangan << 😀