what made me so happy yesterday

 

Alhamdulillah, Senin Semangat! Tambah semangat pas baca email dari goodreads yang bilang kalau saya menjadi pemenang book giveaway. :’)

Writed on December 9th, 2012

***

Nah, hari Selasa kemarin (18/12), taraaaa, pas saya balik dari suatu tempat, bukunya udah nangkring di meja. Ternyata sampainya tidak selama yang saya perkirakan. Mungkin faktor lokasi penerbit yang tidak terlalu jauh dari kantor. My pile’s got higher. 🙂

giveaway

***

Advertisements

Jalan Cinta Para Pejuang (Salim A. Fillah)

Judul: Jalan Cinta Para Pejuang

Penulis: Salim A. Fillah

Tahun Terbit: 2008

Cetakan: Ke-5, Juni 2011

Jumlah Halaman: 344

Penerbit: Pro-U Media

Harga: Rp 50.000

Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja

maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah

Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta

maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga

Begitulah, kata yang tertulis di sampul muka buku ini. JCPP, begitu disingkatnya, dimaksudkan untuk membahas cinta secara lebih fokus dan komprehensif. Cinta yang kokoh dan mengokohkan. Bukan cinta seperti yang ada di buku-buku roman. Tapi cinta yang suci, cinta yang hakiki.

Salim A. Fillah membagi buku ini menjadi tiga bab:

Pertama, Dari Dulu Beginilah Cinta

Tentang cinta yang menyengsarakan jiwa. Kisah Romeo-Juliet dan Laila-Majnun menjadi inti pembahasan. Cinta mereka, cinta yang menyengsarakan. Di sini Salim A. Fillah menjelaskan mengenai hubungan antara cinta dan kegilaan, seperti halnya yang dialami Majnun, si gila. Dan sebenarnya Majnun sendiri mengakui bahwa cintanya adalah sebuah penyakit.

Katakanlah padaku: pemuda mana yang bebas dari penyakit cinta? (halaman 23)

Tentang cinta yang diyakini bisa menaklukan segalanya. Love conquers all. Begitukah? Di sini Salim A. Fillah akan menjelaskannya. Termasuk tentang mulai dari mana sebaiknya cinta dibangun.

Kedua, Dunia Kita Hari Ini

Dalam tema ini digambarkan betapa cepat dunia berubah. Saat ini sedang terjadi kebangkitan spiritual. Mengikuti kegiatan pelatihan kecerdasan spiritual menjadi sesuatu yang sedang in. Tapi sayang, ternyata Bapak SQ sendiri menyatakan bahwa SQ berbeda dengan beragama. Kemudian diceritakan mengenai maraknya liberalisme, pria uberseksual, dan konflik agama.

Ketiga,  Jalan Cinta Para Pejuang

Inilah inti materi dari buku keenam Salim A. Fillah. Yang dibagi lagi menjadi 4 dimensi, yaitu dimensi intelektulal yang dijabarkan dalam Visi, dimensi emosional yang dijabarkan dalam Gairah, dimensi spiritual dalam Nurani, dan dimensi fisik dalam Disiplin.

Pada dimensi intelektual, disampaikan tentang betapa pentingnya memiliki visi dalam mencintai. Memiliki visi pastinya memiliki mimpi karena mimpi adalah bagian dari visi. Mimpilah yang memberi ruh bagi manusia untuk terus “hidup”. Dan kita wajib berencana untuk hari esok.

Dimensi emosional, didahului dengan kisah-kisah para pecinta yang terpaut jauh dalam kedudukan dan dalam usia. Kisah tentang Khadijah dan ‘Aisyah pun menyusul dan diikuti kisah-kisah hebat lainnya dari para sahabat.

Pada dimensi spiritual, digaungkan bahwa nurani harus terus bergetar menyuarakan pesan Ilahi yang senantiasa menyemangati agar kita berbuat takwa. Di sini Salim A. Fillah mencomot kisah beberapa ‘ulul azmi yang begitu kuat keyakinannya bahwa Allah tak pernah meninggalkan mereka, terlebih di saat genting. Di saat perintah Allah begitu tidak masuk akal. Inilah kuatnya iman.

Dimensi disiplin. Tentang disiplin akan perintah Allah dan RasulNya, di saat hati lapang maupun sempit, saat-saat tersulit sekalipun. Disiplin sendiri adalah  awalnya tentu sebuah pemaksaan. Sebuah pemaksaan yang tak jarang terlahir darinya sikap kepahlawanan, seperti kisah Rasulullah yang ‘dipaksa’ oleh malaikat Jibril saat menyampaikan wahyu. Beliau dipaksa membaca; saat berselimu, beliau dipaksa bangun dan memberi peringatan. Terkisah pula Imam Ahmad dan Imam Syafi’i di dalamnya.

***
Akhirnya terselesaikan juga. Buku ini adalah buku karya Salim A. Fillah keempat yang saya baca. Masih ada empat buku lagi yang belum saya baca, yaitu NPSP, Gue Never Die, BMC, dan buku terbarunya Menyimak Kicau Merajut Makna. Fiuuuh..masih banyak ternyata ya. Long way to go..

Sejujurnya saya agak kesulitan membuat sinopsisnya. Lebih mudah membuat sinopsis dari novel atau semacamnya yang memiliki alur cerita. Walau tidak memiliki alur cerita, tulisan beliau selalu memiliki “jalur” pembahasan sendiri yang tetap bisa dinikmati pembaca secara runut. Nah, khusus untuk bukunya kali, disebutkan di kata pengantarnya bahwa pembaca tidak wajib membaca secara runut dari sub-bab pertama sampai sub-bab terakhir karena dari mana pun dibaca, insyaAllah esensi isi buku tidak ada yang hilang.

Dari segi pemilihan kata, Salim A. Fillah istiqamah untuk tidak selalu menggunakan kata baku, tapi justru di sinilah uniknya karya-karya beliau. Dari ketidakbakuannya ini justru memunculkan cita rasa ‘sastra’ tersendiri. Terkesan lebih puitis, menurut saya.

Salim A. Fillah, penulis yang mahir dalam melakukan pencomotan-pencomotan dalil-dalil, kisah shirah Rasulullah, para sahabat, kisah-kisah bermakna lainnya, bahkan menyisipkan sejumlah penelitian dalam tulisannya. Beliau selalu pandai merangkai kesemuanya itu menjadi suatu bahasan yang terkait satu dengan yang lainnya. Bagi saya, ini bukan pekerjaan mudah. Dan selalu, ada banyak hal yang bisa kita kutip serta kita pinjam untuk ditancapkan dalam hati dan pikiran, lalu beraksi!

Kita yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air, mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah. (halaman 132)

Pembuka Pintu Rizki

Kajian tanggal 6 Juni 2012 @Musholla Al Muslihin. (Gambar dari sini)

Oh iya, sebelumnya materi ini juga pernah di-share oleh kawan saya via twitter @baim18, kalau tidak salah. Hehe..saya sedang tidak bisa twitteran soalnya. Oke, cekidot. 😀

————————————————————————————————————————————–

Allah adalah sang pemberi rizki. Semua makhluk, Allah yang memberikan rizki. “Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rizkinya…” (QS. Hud: 6)

Allahlah yang memberi makan kita dan keluarga. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rizki kepada mereka dan kepadamu…” (QS. Al Isra’: 31)

Dan Allahlah yang mengatur pembagian rizki. “Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rizki, tetapi orang yang dilebihkan tidak mau memberikan rizkinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama (merasakan) rizki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An Nahl: 71)

Nah, berikut ini merupakan cara-cara pembuka pintu rizki, tidak hanya nilainya, tapi juga keberkahannya, insya Allah.. 🙂

1. Bertakwa kepada Allah

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” (QS. Al A’raf: 96)

2. Berawakkal

“…Dan barangsiapan bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS. Ath Thalaq: 3)

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al Mubarak, Ibnu Hibban, Al Hakim, Al Qhudha’i, dan Al Baghawi)

3. Silaturrahim

“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya , hendaklah ia menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari)

4. Mengadukan kesulitan kepada Allah

“Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya
kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat.” (HR. Abu Daud)

5. Beristighfar

“Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)

Berkata Hasan al Bashri bahwa pernah ada orang yang mengadu padanya karena paceklik lalu bertanya amalan apa yang bisa mengatasinya, lalu beliau menjawab, “Beristighfarlah”. Jawaban ini berdasarkan pada kalam Allah: “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dialah adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh 10-12)

6. Berdoa

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

7. Bersyukur

“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

8. Bersedekah

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

9. Berhaji dan umroh

Ikutilah antara haji dan umrah, karena keduannya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana halnya tukang pandai besi menghilangkan karat besi, emas dan perak, tidak ada balasan bagi yang haji mabrur melainkan surga.(HR. Tirmidzi)

10. Meninggalkan maksiat

“Tidaklah menambah dalam umur, kecuali kebaikan, dan tidaklah bisa menolak takdir, kecuali doa, dan sesungguhnya seseorang benar-benar dicegah rizkinya dengan sebab dosa yang ia lakukan.” (HR. Ibnu Majah)
 
Allahu a’lam bish shawab.. 🙂

Resensi: Kangen Sama Rasul

Judul: Kangen Sama Rasul

Penulis: Dr. Amr Khalid & Dr. A’id Al Qarni

Penerbit: Zaman

Tebal buku: 260 halaman

Harga: Rp 34.900

Buku ini adalah buku terjemahan. Judul aslinya Hubb ar Rasul. Sebenernya lebih masuk ke isi kalau judul terjemahannya diganti “Cinta Rasul” instead of “Kangen sama Rasul”. Umm, tapi mungkin penerbit memilih judul ini karena isi buku bisa memunculkan kerinduan pembaca pada sosok Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam…hmm, mungkin ya.. 😀

Isi buku dijabarkan dalam 3 bagian, begian pertama berjudul Merindukan Rasul, tapi, as I say, isinya lebih kepada bagaimana memunculkan rasa cinta kepada Rasul yang ‘Aqib. Nah, bagian kedua berjudul Lebih Dekat dengan Rasulullah. Isinya tentang shirah singkat Nabi Muhammad, asli singkat banget, secara bukunya cuma berisi 260 halaman. Kalau mau shirah yang lebih lengkap bisa tuh baca shirah nabawiyah. :p Ini ada kutipan (atau saduran ya?) dari salah satu subbagian pada bagian kedua >> di sini

Teruuus..bagian ketiga isinya nama-nama Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebanyak 201 nama seperti yang disebutkan dalam Dala’il al Khayrat karya Syekh ‘Imran al Zannati..

Karena bercerita tentang Rasulullah, isi buku ini didominasi oleh hadits Rasulullah. Yang saya suka, tiap hadits ada catatan kakinya, perawinya siapa, dicatat dalam kitab apa dan hadits nomor berapa. Beberapa juga disebutkan tingkat ke-shahih-annya. Namun sayang, baru beberapa, belum semua.

As always, kisah hidup Rasulullah itu INSPIRING… :’)

Tiga bintang deh.. (***)

Oh iya, walaupun di atas disebutkan harganya Rp 34.900, tapi saya membelinya dengan harga Rp 10.000 di Jakarta Book Fair 2011..yahoo.. 😀

*) gambar dari sini

Lawan ‘Alasan’mu!!

Bismillahirrahmanirrahim…

Pernah gak si, membuat-buat alasan untuk tidak menghadiri sesuatu? Pernah dong ya? Hhe, maksa. Jujur, saya pernah. Tidak berbohong sih, tapi agak mengada-adakan mungkin ya, terutama untuk menolak agenda-agenda yang (menurut saya) kurang penting. Misalnya saja, ketika saya diajak pergi ke suatu tempat yang tidak saya kehendaki, sebut saja tempat karaoke. Saya sangaaat menghindari tempat tersebut. Gelap, lagu-lagu, nyanyi-nyanyi, senang-senang, hedonlah.. Allah, jangan sampai saya memasuki tempat itu.. #bayanginnya aja udah ngeri #my argument lho yaa

Saat diajak ke sana, saya pernah menggunakan lelah sebagai alasan. Tapi memang benar saya lelah, pulang kantor sampai rumah bisa-bisa pukul 19.30, ini masih diajak karaokean, errr enggak deh!

Tapi, lain halnya jika hendak melakukan kebaikan, melingkar misalnya…HELLLOOOW, masa’ iya lelah jadi alasan..LILLAH dong ah.. 🙂 terlebih tadi seolah mendapat suntikan semangat untuk sebisa mungkin tidak absen dari halaqah, bahkan pada saat-saat yang awalnya saya pikir akan mendapat rukhshah untuk dapat membolos dari halaqah, misalnya saat mual ketika hamil.

Ayolah sayang, kita lawan rasa mual itu, jika kau ingin janin dalam perutmu menjadi mujahid tangguh. Lupakah kau, waktu aku ceritakan tentang kisah seorang ummahat yang sudah menunggu hari melahirkan, tetapi tetap bertekad baja datang ke kajian? Hingga akhirnya benar-benar mulas perut siap untuk melahirkan, saat sedang kajian? Teringat si guru akan ucapan Sang Murabbi, Ust Rahmat Abdullah alm, saat sering mengikuti kajian di IQRO Islamic Center, “Kalau kaki belum benar-benar gempor, tak ada alasan untuk tidak datang ke kajian“.

Alhamdulillah..Allah memberikan suntikan-suntikan penguatnya di saat yang tepat.

Setan memang tidak pernah berhenti menggoda manusia, dia selalu membisikkan kejahatan di dalam dada manusia. Alladzi yuwaswisufi sudurinnas…

Allah…

a’udzubillahiminasysyaithanirrajim..

Dan tadi, ketika saya hendak berangkat ke kajian pekanan, bisikan-bisikan itu muncul,

“Gak usah dateng ah, toh materinya bisa didapat dari baca buku atau buka internet..”

“Gak usah dateng ah, toh si A juga gak dateng. Orang sekaliber beliau aja gak dateng, jadi klo kamu gak dateng pun, it’s OK..”

“Gak usah dateng ah, yang lain juga gak tiap hari dateng, boleh dong hari ini bolos dulu..”

Begitu terus setan membisikkan alasan-alasan yang ‘logis’ agar kita membatalkan berbuat kebaikan. Alhamdulillah, ternyata saya bisa melawan alasan-alasan itu.

Untuk melakukan kebaikan, yuk kita lawan berbagai alasan yang menghadang..pada awalnya sulit mungkin, tapi..Insya Allah kita BISA!! 🙂