Meluaskan Langkah, Mengharap Surga

Oleh: Ustadzah DR. Suesilowati, MPd. (staf khusus Menteri Sosial)

  • Bahwa apapun yang kita lakukan harus bermuara pada Allah.

Sebuah perenungan, ketika sehari saja kita merasa terlalu sibuk, melalaikan kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah, maka, tanyakan, “Ya Allah, aku bisa saja baik di hadapan atasanku, di hadapan para manusia. Tapi, di hadapanMu, aku ini seperti apa?

Di mata anak-anak, kita bisa saja dianggap sebagai ibu yang wonder women. Tapi di hadapan Allah?”

Peran kita yang paling utama adalah sebagai hamba Allah. Posisi yang paling awal, sebelum kita menjadi apapun.

  • Tentang dinosaurus, dulu mereka pernah ada. Lama kelamaan ia punah.

Mungkinkah karakter-karakter baik kita akan bernasib sama dengan para dinosaurus (?). Satu per satu menghilang, hingga nantinya hanya tinggal cerita.

Hilangnya karakter-karakter itu dari diri kita bisa karena kita gagal mengatasi, gagal beradaptasi, gagal mengubah, tidak dapat mengembangkan diri, dan tidak dapat mengevaluasi diri.

Orang yang gagal beradaptasi adalah orang yang habis waktunya hanya untuk satu pekerjaan, padahal di sekitarnya ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Dan ini bukan saja terjadi pada wanita yang bekerja. Ibu rumah tangga pun demikian.

Orang berkembang itu bukan harus menjadi perempuan bekerja. Kita berkewajiban untuk beradaptasi dengan peran-peran sebagai seorang ibu, seorang pekerja, seorang anggota masyarakat, dan yang paling utama sebagai hamba Allah. Ketika gagal memecahkan masalah, maka akan punahlah karakter kita.

  • Pekerjaan kita ini, ketika kita bertemu banyak orang, artinya banyak pula peluang menyebarkan kebaikan. Kebaikan itu jangan dibatasi, sekecil apapun, ketika ada peluang, maka lakukanlah.

Peran edukasi kita, melalui pertemuan-pertemuan. Untuk yang bekerja dari pagi sampai sore, ketika kita tidak memberikan kebaikan-kebaikan pada masa-masa itu, kapan lagi? Sampai di rumah sudah habis waktu kita. Kesempatan kita dalam sehari itu sebaiknya jangan di kavling-kavling, ketika ada kesempatan memberikan kebaikan, maka lakukanlah. Karena sangat mungkin, begitu sampai di rumah kita tidak bisa melakukan itu. Intinya, jangan menunda untuk melakukan kebaikan. 🙂

  • Seseorang tidak akan terus menerus berada masa yang sama. Kepindahan dari satu masa ke masa berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Dan pada tiap masa, akan ada tantangannya sendiri.

*gambar: dari blognya mbak monik 🙂

Advertisements

Pesan Ummi untuk Kami

Sejujurnya saya sudah sangat ingin tidur, mengingat besok masuk kantor pukul 8 pagi…tapi hasrat untuk menulis “sesuatu” hari ini berhasil mengalahkannya..

Hmm, hari ini seperti mendapat lampu hijau dari ummi untuk bekerja di luar. Alhamdulillah. Padahal hampir 1 bulan yang lalu, pertemuan saya dengan ummi sebelum hari ini, beliau sempat menyarankan saya untuk tidak magang. Beliau lebih menyarankan agar saya “belajar” di rumah, menikmati kebersamaan dengan keluarga, sebelum semua itu direnggut oleh SK Penempatan. #LEBAY

Oke, begini kata ummi tentang istri/ibu yang bekerja di rumah VS yang bekerja di luar rumah. Setiap orang memang memiliki potensi yang berbeda-beda, ada yang memang berpotensi menjadi ibu rumah tangga, ada juga yang berpotensi untuk bekerja di luar. Tapi bukan berarti yang ibu rumah tangga, lalu tidak ada kegiatan di luar lho ya. Dan juga bukan berarti ibu yang bekerja di luar, lalu membiarkan urusan rumah tangganya berantakan. Apalagi sampai si anak lebih betah bersama orang lain dibanding bersama ibunya sendiri. Ini nih, salah satu alasan saya ingin membaca buku Rumah Cokelat karya Sitta Karina. Novel yang menceritakan tentang perjalanan seorang wanita karier yang menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.

Kembalai ke topik. Intinya sih bagaimana kita menggali dan mengatur potensi itu, pikirkan dengan bijak manfaat dan mudharat dari pilihan yang kita ambil. Untuk yang di rumah, keuntungannya bisa lebih berkhidmat kepada suami. Sedang yang memilih lebih banyak beraktivitas di luar rumah, bisa jadi berkembang kemampuannya. Sekali lagi, semua memiliki plus-minus, dan tak lupa (nanti setelah berkeluarga), mana yang lebih diridhai suami. Tapi kalau anak ST*N kemungkinan besar dia akan bekerja di luar, kecuali ada yang mau membayar ganti rugi uang pendidikan. 😀

Untuk istri yang bekerja, rasa-rasanya sulit jika tidak ada yang membantu urusan rumah tangga, apalagi jika bekerjanya sudah ada ketetapan waktunya. Pastilah (nantinya) akan memerlukan bantuan entah dari ibu/mertua atau mencari khadimat sendiri. Pesan ummi, karena saya dan kawan-kawan kemungkinan besar akan menjadi istri/ibu yang bekerja, sediakanlah waktu yang BERKUALITAS untuk keluarga. Kalau menurut Ustadz Dedhi Suharto, hari Sabtu-Ahad itu waktunya untuk keluarga dan dakwah. Dan biasakan tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. Sipp. Sepakat lah, Ustadz. 🙂

Ayo, atur waktu sebaik mungkin. Jangan lengah. Jangan kalah oleh lelah. Karena dari awal sampai akhir harus tertanam LILLAH.. ^^9