Captured #4

image

My view ~ 31 Agustus 2012

Advertisements

Perpustakaan Kantor

Tanggal 13 Juli yang lalu saya iseng ke perpustakaan kementerian. Ini first time lho. 😀 Hmm, walaupun bukunya tidak sebanyak yang ada di perpustakaan kampus (yaiyalah), tapi isinya lumayan kok..yang menarik minat saya pastinya yang bagian buku-buku fiksi, sastra, dan yang sejenis. Hehe.. Belakangan ini saya tertarik untuk membeli buku-buku Kumpulan Cerpen (Kumcer), tapi selalu urung dengan alasan “to-read” saya yang masih banyak. Rencananya mau dipangkas dulu “to-read”nya, baru saya beli buku lagi. Nah, karena sudah lama saya mengincar Kumcer untuk dibaca, jadi saat itu saya memilih sebuah Kumcer untuk dibaca, judulnya Dari Datuk ke Sakura Emas. Baru membaca pendahuluannya, saya hilang fokus untuk membaca, malah terbersit foto-foto untuk dimuat ke blog. Hehe. Saat itu saya tidak membawa kamera, jadi foto-fotonya menggunakan kamera telepon genggam yang cuma 3.2Mp. 😐

Ini dia hasil foto-fotonya.

—————————————————————————————————

Dalam pendahuluannya (atau kata pengantar ya? Saya lupa), diceritakan bahwa tujuan pembuatan Kumcer ini adalah untuk mengumpulkan dana sumbangan bagi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Kalau mau tau reviewnya bisa buka di sini.

—————————————————————————————————

Nah, di perpus ada Wifi-nya juga ternyata, tapi belum sempat saya coba, masih fokus foto-foto. 😀

—————————————————————————————————

Kalau ini koleksi buku referensi..tapi, belum saya tengok isinya apa saja.. :p

—————————————————————————————————

Reading spot di perpus, see, penataannya bikin gak berasa kalau kita masih di dalam gedung kantor, cozy. Yang ada di dalam foto bukan saya lho ya..hehe..

—————————————————————————————————

Saya bilangnya ini bangku balon. Pengen punya deh, empuk, enak buat baca. :3

—————————————————————————————————

Books of the week. Ternyata buku-buku yang dipajang di sini, selain buku-buku yang sering dipinjam, juga buku-buku yang jarang dipinjam. Tujuannya agar buku-buku yang jarang dipinjam itu juga “dilirik” oleh para pengunjung.

*maaf ya, fotonya goyang.. 😦

—————————————————————————————————

Begitu masuk perpus, di sebelah kanan pintu, terletak meja ini. Di sini pengunjung mengisi buku daftar pengunjung. Selain mengisikan nama dan unit tempat bekerja, pengunjung juga mengisi tujuan ia berkunjung dan “vote” atas pelayanan/kondisi/koleksi perpus.

—————————————————————————————————

Tebakan saya, ini tempat katalog online, tapi kurang tau berfungsi atau tidak karena saat saya berkunjung komputernya sedang mati semua, jadi saya tidak mencoba-coba.

Meja resepsionis dan katalog online ini ada di sebelah kanan pintu masuk. Di sebelah kiri pintu masuk ada set meja bundar dan kursi-kursinya, lemari katalog manual, dan TV. Gambarnya tidak saya ambil karena ada mas-mas yang sedang membaca koran di sana. :p

—————————————————————————————————

Ini baru saya. Efek buram ini tidak disengaja, tapi saya pikir keren juga..hehe..

—————————————————————————————————

Sekian liputan geje saya tentang perpustakaan di kantor saya. Terima kasih sudah menyimak.

Me Vs Elevator DJ I & DJ II

Bismillahirrahmanirrahim…

Saya mulai sangat akrab dengan elevator atau lift sejak lulus kuliah, tepatnya sejak magang di salah satu kantor akuntan publik. Saya katakan akrab karena memang setiap harinya pasti menggunakan lift untuk berpindah dari lantai satu ke lantai lainnya. Terlebih lagi sekarang, ketika saya sudah bekerja di gedung 20 lantai, tangga hanya saya gunakan untuk menuju basement dari ground floor.

Ada yang berbeda di lift gedung ini dibanding lift-lift yang pernah saya gunakan sebelumnya. Pertama, lantai lift dialasi dengan karpet berwarna hijau yang ada tulisan harinya. Tulisan Senin dipasang pada hari Senin, tulisan Selasa untuk hari Selasa, dan seterusnya. Kapasitas lift cukup besar, dapat mengangkut maksimal kurang lebih 24 orang. Kedua, ketika naik/turun lantai menggunakan lift, ada sensasi ‘pusing’nya. Hhe. Entah ini saya saja yang merasakan atau memang seperti itu. Jadi, setelah keluar dari lift itu rasanya ‘goyang’, badan tidak stabil. Waktu di dalam lift juga merasakan hal itu sih.

Ketiga, lift di gedung ini jumlahnya ada 5, tapi kalau mau naik/turun, tinggal pencet tombolnya, lalu lihat lampu lift mana yang menyala, berarti kita akan diangkut dengan lift tersebut. Jadi, kalau lampu yang menyala berganti/pindah pintu, berarti lift yang akan mengangkut kita juga berganti. So, jangan heran kalau melihat calon penumpang lift yang sedang menunggu berputar-putar mencari lampu lift yang menyala. 🙂 Keempat, ada 1 lift yang pintunya selalu terbuka -di ground floor-, lift ini khusus digunakan oleh menteri (Djuanda I) dan pejabat (Djuanda II). Di depannya selalu disediakan papan ‘wet floor‘ untuk menjaga agar pintu lift tetap terbuka.

Walaupun sudah dua pekan saya bekerja di sini, masih saja suka lupa tentang mekanisme kerja lift. Seringkali saya yang ingin turun ke lantai bawah malah ikut naik dulu karena tidak melihat tanda naik-turun di atas pintu lift. Tidak efisien waktu. –“

Tugas-tugas Perdana dari Lantai 20

Bismillahirrahmanirrahim…

Senin, 5 Maret 2012, hari kedua saya menempati ruangan ini. Ya, alhamdulillah saya sudah memiliki ruangan sendiri, sudah memiliki deskripsi pekerjaan yang jelas. 🙂

Di Sekretariat Jenderal ini, saya diperbantukan di Pusat Pengkajian Bidang Pengelolaan Kekayaan Negara sebagai staf penyiap bahan kajian. Yaaa intinya sih pekerjaannya mirip-mirip sekretaris gitu. Hhe. Bagi orang-orang yang mengenal saya pasti bilangnya, “Gak jauh-jauh ya..”

Oh iya, eselon II saya Biro Perencanaan dan Keuangan. Biro ini sebenarnya berada di 3 lantai di gedung Juanda I, yaitu di lantai 8, 9, dan 10. Namun, karena saat ini saya sedang diperbantukan di tempat lain, jadilah saya berkantor di gedung Juanda II lantai 20. Saya ditempatkan di sini untuk mengisi kekosongan staf penyiap bahan kajian. Ternyata saya kenal sama mbaknya yang sebelumnya bekerja di sini. Waktu saya tingkat 2, mbaknya mahasiswi D3 Khusus, namanya Mbak Dwi.

Di ruangan ini saya hanya berdua dengan seorang ibu, beliau staf TU, namanya Ibu Sofiati. Bu Sofiati ini sudah mengabdi sekitar 35 tahun di Kementrian Keuangan dan September 2013 nanti beliau pensiun. Sebelum dipindahkan ke sini, beliau adalah staf di Bagian Akuntansi Pelaporan, Biro Perencanaan dan Keuangan. Menurut beliau, alasan mutasinya adalah karena di Aklap dibutuhkan orang-orang yang (menurut beliau) mahir mengoperasikan komputer. Sedangkan Bu Sofiati sendiri istilahnya (menurut beliau lagi) nunak-nunuk kalau diminta mengoperasikan komputer.

Tugas pertama saya adalah mengantarkan surat. Dari Juanda II lantai 20 ke Juanda I lantai 10. Sistemnya di sini, kalau mengantarkan surat itu kita membawa “buku ekspedisi”. Buku ini yang nantinya akan ditandatangani oleh penerima surat sebagai bukti bahwa surat benar-benar telah dikirim. Saya sempat salah ruangan waktu pulangnya gegara jalan-jalan sambil mengetik sms. Masuk ke ruangan yang isinya bapak-bapak semua. Oalah, salah belok ternyata. Pelajaran yang bisa dipetik: keluar lift itu tengok kanan-kiri, baca papan nama ruangan yang kita cari.

Tugas kedua adalah membantu Bu Sofiati membuat format pengarsipan surat masuk. Jadi selama ini surat hanya diarsipkan di buku arsip, padahal ibu pimpinan rutin meminta arsip surat masuk dalam bentuk softcopy tiap tahunnya.

Selain itu, hari Jum’at kemarin saya pakai untuk request pembuatan akun individu ke Biro Pusintek Sekretariat Jenderal. Diminta sama ibu pimpinan sih. Katanya kalau belum punya akun individu belum bisa menggunakan layanan internet.

Prosesnya mudah, cuma mengisi form yang saya minta dari Mas Doni (staf ruangan sebelah), lalu dikirim via fax ke Pusintek. Tidak lama setelah itu, saya dihubungi oleh pihak Pusintek yang menanyakan konfirmasi pembuatan akun akan dikirim via email atau fax. Saya memilih untuk dikirimkan melalui email saja karena belum hafal nomor fax ruangan sebelah. FYI, di ruangan saya tidak ada mesin fax. :p

Nah, dari email itu saya mendapatkan nama akun dan password serta petunjuk penggunaan OWA (Outlook Web App), sepenangkapan saya, OWA itu semacam gmail, yahoo, dsb. Kalau mau tau lebih lanjut, buka saja http://help.outlook.com/id-id/140/bb899531.aspx 😀

Mungkin ada yang berpikir ketiga hal ini bukan pekerjaan yang material. Pekerjaan ini memang pekerjaan ringan, yang (sepertinya) tidak membutuhkan keahlian khusus untuk mengerjakannya. Tapi, kembali saya ingat pesan kakak-kakak kelas, bahwa sekecil apapun pekerjaan kita di sini, yakinlah ini adalah salah satu wujud bakti kita pada Indonesia. Jangan pernah anggap remeh tiap pekerjaan kecil yang kita lakukan karena dari pekerjaan kecil ini kita membantu terlaksananya pekerjaan-pekerjaan besar untuk bangsa ini. Apapun perintah atasan, asal tidak melanggar syariat, kita harus siap melaksanakannya.

Luruskan niat..agar tiap yang kita lakukan bernilai ibadah..SEMANGATI!!