Tafsir QS. Al Hujurat: 14

Resume Kajian Mushala Al Mushlihin 1 April 2014

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menurut Ibnu Katsir, Allah mengingkari keimanan orang-orang Arab Badui tersebut karena mereka baru masuk Islam, sedang keimanan belum bertambah mantap dalam hati mereka. Dalam ayat ini terlihat perbedaan antara predikat mukmin dan muslim. Keimanan sendiri lebih khusus daripada keislaman, sebagaimana yang dipegang oleh mahzab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal ini ditunjukkan pula dalam hadits Malaikat Jibril ‘alaihissalam yang bertanya perihal islam, iman, dan ihsan (Hadits Arba’in ke-2), yang membedakan tingkatan antara muslim, mukmin, dan muhsin.

Kepada siapakah ayat ini diturunkan?

  • Mujahid rahimahullah: Bani Asad bin Khuzaimah
  • Imam Qurthubi rahimahullah: Bani Asad, karena mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika paceklik. Bani Asad sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi hatinya belum beriman karena mereka telah melakukan perusakan.
  • Qatadah rahimahullah: kepada kaum yang berharap dengan keimanannya akan mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Al Sudi rahimahullah: ayat ini turun berkenaan dengan Juhainah, Muzainah, Asyja’, dan Ghifar

Menurut para ulama, ketika kata iman dan islam disebutkan dalam satu ayat yang sama, keduanya memiliki arti yang berbeda. Namun, ketika keduanya disebutkan dalam ayat-ayat yang berbeda (kata islam di ayat yang satu dan iman di ayat lainnya), itu berarti keduanya memiliki makna yang sama (bermakna umum). Contohnya pada QS. Al Baqarah: 183 yang menyebutkan “Ya ayyuhal ladzina amanu”. Maksud dari ayat tersebut adalah menyeru orang muslim secara keseluruhan, bahwa puasa adalah kewajiban seorang muslim.

Allahua’lam bish shawab.

Sikap Seorang Muslim Kepada Muslim Lainnya

Resume Kajian Mushala Al Mushlihin 3 Desember 2013

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

Bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap muslim lainnya?

1.       Tidak menzalimi

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (H. R. Muslim)

2.       Menghentikan kezaliman

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi”. Mereka bekata, “Ya Rasulullah, orang yang dizalimi ini – yakni kami membelanya dari kezaliman – bagaimana kami menolong orang yang zalim? Lalu beliau bersabda, “Mencegah dia dari berbuat kezaliman, itulah cara menolongnya” (H. R. Bukhari)

3.       Saling menolong

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (H. R. Muslim)

4.       Saling mendoakan

Dari Abu Darda’ radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikkan bagi saudaranya sesama muslim yang berjauhan melainkan malaikat mendoakannya, mudah-mudahan engkau beroleh kebaikkan pula.” (H. R. Muslim)

5.       Saling peduli

Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kaum muslimin dalam mencintai,berkasih sayang dan berlemah lembut bagaikan satu jasad yang apabila salah satu anggota badannya merasa sakit maka sekujur tubuhpun ikut merintih juga ditambah dengan bergadang dan demam.” (H. R. Muslim)

6.       Saling mendukung dalam berdakwah

Dari Abu Musa radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain.” (H. R. Muslim)

Metode dakwah tiap orang bisa berbeda-beda, ada yang fokus pada aqidah, ada yang fokus pada akhlak, dan sebagainya. Dengan keragaman tersebut terjadilah saling melengkapi satu sama lain.

Allahu a’lam bish shawab..

Tingkatan Usia Manusia

Kajian tanggal 17 Juli 2013 @Mushola Al Muslihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

  • Fase Mahdi (bayi): usia 0 s.d. 2 tahun

Ketika berbicara tentang Nabi Isa ‘alaihissalam yang lahir di bawah pohon kurma (QS. Maryam: 23), Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian (الْمَهْدِ) dan ketika sudah dewasa dia adalah termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Al Imran: 46)

Pada masa inilah seorang anak hendaknya disusui ibunya.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. Al Baqarah: 233)

  • Fase Shabiy (anak-anak)
  1. Fase anak-anak pertama: 2 s.d. 6 tahun
  2. Fase anak-anak kedua: 6 s.d. 12 tahun

Dari Abu Qatadah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mendirikan sholat dan hendak memanjangkannya, aku mendengar tangisan anak kecil (الصَّبِيّ)  maka aku mempercepat sholatku karena aku tidak ingin menyulitkan ibunya.” (HR. Bukhari)

Pada fase ini, orang tua harus mulai memerintahkan anak untuk sholat dan mulai memisahkan tempat tidur anak-anak mereka, meskipun sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan.

pendidikan-anak-usia-dini(sumber)

Dari Amr bin Syuaib dari ayah dari kakeknya, Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk mendirikan sholat dan mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka dengannya (bila tidak mendirikan sholat) sedang mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah antara mereka di tempat tidur.” (HR. Abu Daud, shahih)

  • Fase Baligh (dewasa pertama): usia 12 s.d. 15 tahun.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Diangkat pena dari tiga; Orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga baligh dan orang gila hingga tersadar.” (HR. Abu Daud, shahih)

  • Fase Dewasa Kedua: usia 15 s.d. 18 tahun
  • Fase Dewasa Terakhir: usia 18 s.d. 21 tahun
  • Fase setelah dewasa & fase kemantapan: usia 21 s.d. 40 tahun

Allah ta’ala berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda (فِتْيَة) yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13)

Pada fase ini pula muncul anjuran untuk menikah.

Dari Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda (مَعْشَرَ الشَّبَابِ), siapa yang telah ‘mampu’ maka hendaknya dia menikah, sungguh (pernikahan itu) lebih dapat menjaga pandangan dan menjaga kemaluan, dan siapa yang belum maka hendaknya dia berpuasa sungguh dia itu dapat menjadi pembendung.” (HR. Bukhari)

  • Fase Puncak: usia 40 s.d. 60 tahun

Pada fase inilah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam diangkat menjadi seorang nabi dan rasul.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu: “Diturunkan atas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan beliau berusia 40 tahun, tinggal di Mekkah 13 tahun dan diperintahkan untuk Hijrah ke Madinah serta tinggal di dalamnya 10 tahun kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat.” (HR. Bukhari)

  • Fase Syaikhukhah: usia 60 tahun s.d. wafat

Inilah rata-rata panjang usia umat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Umur (dalam riwayat lain: Umur-umur) ummatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Ketika kita diberikan umur bisa sampai di fase ini, seharusnya kita lebih banyak bersyukur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Allah subhanahu wata’ala mencabut udzur dari seseorang yang diakhirkan umurnya hingga mencapai enam puluh tahun.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, jika sudah sampai fase ini, sudah tidak ada alasan untuk tidak memaksimalkan ibadah. Tapi bukan berarti semasa muda kita boleh mengesampingkan ibadah.

Menurut Imam Qurthubi rahimahullah, usia ini seharusnya digunakan untuk kembali kepada Allah ta’ala, khusyu’, dan berserah diri secara penuh kepada Allah karena merupakan usia yang mendekati untuk bertemu dengan-Nya.

Bahkan menurut Sufyan rahimahullah, siapa yang sudah mencapai seperti usianya Rasul shallallahu’alaihi wasallam,  maka hendaknya dia mengambil kain kafan untuk dirinya sendiri.

Allahua’lam bish shawwab. Slide kajian bisa didownload di sini.

Amalan-Amalan Setelah Melahirkan #1

Kajian tanggal 15 Mei 2013 @Mushola Al Mushlihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

Pertama, mengadzankan dan mengiqamatkan

Dalil:

Dari Musyadda, dari Yahya, dari Sufyan, dari ‘Ashim bin ‘Ubaid, dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu: “Aku melihat Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengadzankan di telinga Hasan bin Ali radhiallahu’anhu ketika dilahirkan oleh Fathimah radhiallahu’anha dengan sholat.” (HR. Abu Daud)

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dengan jalur periwayatan yang sedikit berbeda, yaitu dari Muhammad bin Basshar dari Yahya bin Said dan Abdurrahman bin Mahdi, keduanya mendengar dari Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaid dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu. (sanadnya hasan)

Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Al Musnad melalui dua jalur periwayatan, yaitu:

  • Waqi’ dari Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaid dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu
  • Yahya bin Said dari Sufyan dari ‘Ashim bin ‘Ubaid dari ‘Ubaid bin Abi Rafi’ dari ayahnya, yaitu Abu Rafi’ radhiallahu’anhu

“Sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam mengadzankan di telinga Hasan bin Ali radhiallahu’anhu ketika dilahirkan oleh Fathimah radhiallahu’anha.” (HR. Ahmad)

skema perawi hadits

Di kalangan ‘ulama, ada perbedaan pendapat tentang hadits-hadits yang diperoleh dari A’shim bin Ubaidillah bin A’shim bin ‘Umar bin Khattab, yang merupakan cicit dari ‘Umar bin Khattab.

  • Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu majah pernah menggunakan hadits dari A’shim;
  • Menurut Ibnu Hajar, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh A’shim ini adalah hadits dhaif;
  • Dilemahkan pula oleh Ibnu Ma’in;
  • Imam Bukhari dan Abu Hatim berkata bahwa haditsnya tertolak.

Pendapat ‘ulama lain tentang mengadzankan dan mengiqamatkan:

  1. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah: Menganjurkan untuk mengadzankan dan meng-iqamatkan;
  2. Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan Hasan Al Bashri rahimahumullah: Disunnahkan untuk mengadzankan di telinga kanan dan mengiqamatkan di telinga kiri;
  3. Ibnu Qayyim rahimahullah: menganjurkan untuk mengadzankan dan mengiqamatkan karena hikmahnya:
  • Yang pertama didengar oleh si bayi saat di dunia adalah  kalimat mulia;
  • Menyebabkan larinya setan saat mendengar adzan;
  • Mendahulukan panggilan untuk menuju Allah dan ibadah dari pada panggilan setan.

Malikiyah dan sebagian ‘ulama lain: tidak menganjurkan karena haditsnya lemah.

Allahua’lam bish shawwab.

*Versi powerpoint >> saat kelahiran <<

 

Fiqh Kelahiran: Pendahuluan

Kajian tanggal 8 Mei 2013 @Mushola Al Mushlihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

dua-anak-perempuanPada masa jahiliyah, orang-orang sangat malu memiliki anak perempuan. Pada masa itu, anak perempuan dianggap merupakan kehinaan bagi keluarga yang memilikinya. Lantas tidak sedikit yang menyembunyikan bahkan membunuh anak-anak perempuannya. Memiliki anak perempuan seolah memiliki anak yang tidak bermasa depan, mengingat betapa kejinya kaum jahiliyah memperlakukan wanita dewasanya.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An Nahl: 58-59)

Oleh karena itu, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa ajaran Islam, diangkatlah kedudukan wanita dengan aturan Allah subhanahu wata’ala. Berikut ini adalah beberapa hadits tentang keutamaan memiliki anak-anak perempuan.

  • Penghalang dari neraka

Dari A’isyah radhiallahu’anha: “Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam datang dan masuk, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata: Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.(HR. Bukhari-Muslim)

  • Salah satu penyebab orang tuanya masuk surga

Dari A’isyah radhiallahu’anha: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma. Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian beliau bersabda: Allah subhanahu wata’ala mewajibkan atasnya surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

  • Pada hari kiamat, didekatkan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” , beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

  • Menumbuhkan kecintaan dalam keluarga

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kamu membenci anak perempuan, karena sesungguhnya mereka merupakan penumbuh kecintaan yang sangat berharga.(HR. Ahmad)

Selain hadits-hadits di atas, ada juga perkataan ‘ulama yang menyebutkan keutamaan memiliki anak perempuan, yaitu:

Shaleh bin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Bila dikatakan kepada ayahku, telah lahir baginya anak perempuan, beliau akan mengatakan: “Para nabi adalah ayah dari anak-anak perempuan.”

Allahua’lam bish shawwab…

Amalan-Amalan Saat Hamil

Kajian tanggal 2 Mei 2013 @ Mushola Al Mushlihin

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Beberapa amalan yang hendaknya dilakukan saat hamil, baik bagi sang istri maupun suami, yaitu:

Pertama, Memperbanyak Istighfar

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu…” (QS. Nuh: 9-12)

images

(sumber gambar)

Kedua, Perbanyak Syukur atas kenikmatan ini agar Allah subhanahu wata’ala menambah kenikmatan berupa kesehatan dan anak-anak yang shalih/ah, yaitu syukur dalam hati, lisan, dan perbuatan, salah satunya dengan memperbanyak qiyamul lail. Sebaiknya tidak banyak mengeluh ketika hamil, harus senantiasa bersyukur.

Ketiga, Melakukan Proses Tarbiyah Sejak Anak Dalam Kandungan, seperti:

  • Menjaga perilaku dan perkataan
  • Menjaga ibadah fardhu dan sunah
  • Memperbanyak tilawah Al Quran dan berzikir; Nabi Zakaria ‘alaihissalam ketika mendengar kabar kehamilan istrinya:

“Maka ia (Nabi Zakariah alaihissalam) keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, ‘Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

Keempat, Perbanyak Doa

Contoh doa yang dapat diamalkan:

  • Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami, pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam  bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

  • Doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء…

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang (keturunan) anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS. Al Imran, 38)

Tentu doa di sini tidak terbatas pada doa-doa di atas. Doa yang dipanjatkan boleh yang ada di Al Quran, hadits, maupun dari ‘ulama.

Allahua’lam bish shawab

Tafsir Al Qur’an Surat Nuh: 13-20

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (١٣
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
Kata waqaara ditafsirkan sebagai keagungan Allah ta’ala. Ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Adh Dhahhak.
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (١٤
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
Kata athwaaraa di sini ditafsirkan sebagai:
  • Proses penciptaan manusia (Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Yahya bin Rafi, As Suddi, dan Ibnu Zaid)

Pada ayat lain,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu… (QS. Ghafir: 67)

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Nuthfah; Wahai Rabbku! Segumpal darah; wahai Rabbku! Segumpal daging. ” Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?” Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari)
  • Usia manusia: dari bayi, anak-anak, pemuda, orang tua
  • Keadaan manusia: sehat-sakit, kaya-miskin, melihat-tidak melihat.
  • Sifat manusia: perbedaan dalam perilaku mereka, budi pekerti, dan perbuatan

kapalnabi-nuh

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (١٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

Maksudnya satu tingkatan di atas satu tingkatan lainnya.

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (١٦
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
Istilah nuur dan siraaj sama-sama berarti cahaya, tetapi keduanya berbeda kadarnya. Nuur diartikan sebagai cahaya yang tidak panas, dalam hal ini dikaitkan dengan cahaya bulan (Al Qamar) yang sifatnya tidak panas. Sedangkan siraaj adalah cahaya yang panas, yaitu cahaya matahari (Asy Syam). Dalam ayat lain, yaitu Surat Yunus: 5, Allah ta’ala menggunakan istilah dhiyaa’ yang semakna dengan kata siraaj.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٥
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus: 5)
وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا    (١٧) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (١٨
Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikanmu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.
Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, kemudian akan dikembalikan ke tanah ketika meninggal dunia. Dan pada hari kiamat, Dia akan mengembalikan manusia sebagaimana Dia menciptakan pertama kali.
Dalam ayat lain,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah: 28)
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا (١٩) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا (٢٠
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.
Maksudnya, Allah menghamparkan, membentangkan, meneguhkan, dan mengokohkan bumi dengan gunung-gunung yang tinggi menjulang agar manusia dapat menetap dan melintasi jalanan di sana kemana saja dikehendaki.
*) Kajian tanggal 30 April 2013 @Mushola Al Mushlihin oleh Ust. Abdurrahman Assegaf
*) Tafsir Ibnu Katsir, Penyusun: Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh