Doa untuk Mayit

Kajian tanggal 26 September 2012 @Mushola Al Mushlihin.

***

Doa untuk Mayit

Orang yang meninggal dapat memperoleh manfaat atas orang yang hidup karena dua perkara, yaitu:

  1. Dari kebaikan yang ia lakukan semasa hidup, misalnya semasa hidup ia pernah menjadi ketua RT yang menetapkan aturan yang mengandung mashlahat bagi warga dan sampai ia meninggal peraturan tersebut masih diterapkan, maka ia masih mendapat pahalanya.
  2. Doa orang muslim, permintaan ampunan bagi mereka, dan sedekah

Sedangkan masalah haji, ada dua pendapat:

  1. Muhammad bin Hasan: Mayit mendapat pahala sedekah, dan yang menghajikan mendapat pahala haji.
  2. Jumhur ‘ulama: Mayit mendapatkan pahala haji.

(gambar: dari sini)

Tentang ibadah badaniyah, semisal puasa, shalat, dan sebagainya, pata ‘ulama berbeda pendapat:

  1. Imam Malik dan Imam Syafi’i: tidak sampai pahalanya untuk mayit.
  2. Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan jumhur ‘ulama: pahalanya sampai.
  3. Ahli kalam (Mu’tazilah): semua tidak sampai pahalanya.

Dalil tidak sampainya pahala:

  • QS. An Najm: 39

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

  • QS. Yaasin: 54

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.”

  • QS. Al Baqarah: 286

“… Ia mendapat pahal (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…”

  • Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda: “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Tirmidzi)
  • Dari Ibnu Abbas ra: “Seseorang tidak shalat untuk orang lain, dan seseorang tidak puasa untuk orang lain. Akan tetapi cukup memberikan makan untuknya setiap hari satu mud dari gandum. (HR An-Nasa’i, hadits ini hadits dhaif)
  • Amalan untuk mengirim “hadiah” tidak pernah disebutkan bahwa para ‘ulama terdahulu melakukannya.

Dalil sampainya pahala bagi mayit, di antaranya:

  • QS. An-Najm: 39, QS. Yaasiin: 54, QS. Al Baqarah: 286 menetapkan pahala bagi mereka yang beramal, tapi tidak menyatakan larangan  untuk mengirimkannya.
  • Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, tidak menyatakan putusnya pahala, tetapi hanya putusnya ‘amal/perbuatan.
  • Tidak disebutkannya amalan ini dilakukan oleh para ‘ulama, bukan berarti mereka tidak pernah melakukannya. Ini adalah amalan hati atau niat yang sulit diketahui.
  • QS. Al Hasyr: 10

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

  • Dari Utsman bin Affan: “Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau berdiri lalu bersabda: ‘Mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya.'” (HR. Abu Dawud)
  • Berkata Ibnu Abbas: “Rasulullah melewati kuburan di Madinah, Beliau menghadapkan wajahnya kepada mereka dan bersabda: ‘Salam untuk kalian wahai penghuni kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian.'”  (HR. Tirmidzi)

Bacaan Al Qur’an bagi Mayit

Menurut Imam Sya’rani: Perbedaan dalam hal sampai atau tidaknya pahala bacaan al-Qur’an kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah masyhur dan masing-masing dari dua pendapat itu memiliki alasan sendiri. Adapun menurut Mazhab Ahlussunnah boleh bagi seseorang menghadiahkan pahala amalnya untuk orang lain, hal ini telah dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.
***

Allahua’lam.

Download materi kajian >> Do’a untuk Mayit

Advertisements

Ziarah Kubur

Kajian tanggal 3 Oktober 2012 @Mushola Al Mushlihin.

***

Hukum Ziarah Kubur

Untuk laki-laki, sepakat seluruh ‘ulama memperbolehkan atau men-sunnahkan.

Untuk wanita, terjadi perbedaan pendapat, ada yang memperbolehkan dan ada yang melarang.

Menurut Abu Hanifah (Hanafiah), dianjurkan bagi laki-laki maupun wanita untuk berziarah.

Dalilnya antara lain:

  1. Dari Abu Buraidah ra, Rasulullah bersabda: “Dahulu, aku melarang kalian untuk berziarah, maka ziarahilah sungguh dalam berziarah itu ada pengingat (kematian).” (HR. Abu Daud)
  2. Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda: “Dahulu aku melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka ziarahilah, sungguh dengan berziarah menimbulkan sifat zuhud terhadap dunia dan mengingatkan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)
  3. Dari Buraidah ra, Rasulullah bersabda: “Kami telah melarang kalian untuk menziarahi kubur-kubur, maka ziarahilah…” (HR. Muslim)

Menurut para ‘ulama, ketiga hadits ini menyatakan adanya kedudukan nasikh (yang menghapus) dan mansukh (yang dihapus) antara ketiga hadits tersebut dengan hadits pelarangan ziarah yang pernah diriwayatkan sebelumnya.

Rasul dan Para Sahabat Berziarah

Dari Abu Hurairah ra, jika Rasul mendatangi kubur, beliau mengucapkan “Assalaamu’alaykum daara qaumi mukminiin, wa innaa insyaa Allaahu bikum laahiqun. Aku berharap kita dapat melihat saudara-saudara kita,” Mereka berkata, “Bukankah kami ini saudaramu, wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Kalian adalah para sahabatku dan saudara kita adalah mereka yang akan datang setelah kita.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah berziarah ke kubur ibunya, dan beliau menangis. Lalu menangis juga siapa yang berada di sekitarnya, lalu beliau bersabda: “Aku telah meminta izin kepada Allah untuk memintakan ampunan baginya dan Dia tidak memberikan izin kepadaku. Dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia memberikan kepadaku izin, maka ziarahilah kubur-kubur, sungguh dengan berziarah mengingatkan kepada kalian akan kematian.” (HR. An-Nasa’i)

Wanita Berziarah

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah melewati seorang wanita yang menangis di kuburan, maka beliau berkata: “Ittaqillaaha washbiriy.” Wanita itu berkata: “Pergilah dariku, sungguh kamu tidak tertimpa musibahku dan kamu tidak merasakannya.” Lalu ada yang berkata padanya, “Beliau itu Rasulullah.” Maka wanita itu mendatangi pintu Rasulullah dan ia tidak menemui penjaga di depan pintunya, lalu dia berkata kepada Rasulullah: “Aku tidak mengenalmu.” Maka Rasulullah bersabda, “Sungguh kesabaran itu saat terjadi pertama kali.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak dilarangnya seorang wanita berziarah. Jika dilarang, seharusnya dalam hadits tersebut dinyatakan (melalui perkataan atau perbuatan Rasulullah) pelarangannya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah melaknat para wanita yang berziarah kubur. (HR Tirmidzi, hasan shahih)

Sebagian ‘ulama mengatakan bahwa riwayat hadits ini ada sebelum diperbolehkannya berziarah dari Rasulullah. Namun, setelah munculnya hadits yang memperbolehkan, maka diperbolehkan bagi laki-laki juga wanita.

Sebagian ‘ulama yang lainnya mengatakan bahwa hadits ini maksudnya adalah memakruhkan ziarah bagi wanita karena kekurangsabarannya.

Sedangkan jumhur ‘ulama berpendapat sunnah berziarah untuk laki-laki dan makruh bagi wanita. Selain itu, diperbolehkan berziarah ke kuburan orang kafir, seperti hadits yang menceritakan kunjungan Rasulullah ke makam ibunya di atas.

Dimakruhkan bagi wanita karena sedikit kesabarannya, dan tidak diharamkan berdasarkan hadits dari Ummu Athiyyah ra, “Kami dilarang untuk mengikuti jenazah dan tidak melarang kami dengan azam.” (HR. Muslim)

Tata Cara Berziarah Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i

  1. Ziarah dianjurkan dan tidak ada waktu-waktu tertentunya, tapi hari Jum’at lebih utama karena kemuliaannya dan lebih senggang;
  2. Untuk wanita muda yang cantik dan dapat menimbulkan fitnah, diharamkan;
  3. Makruh makan, minum, dan bercanda saat ziarah;
  4. Makruh membaca Al Qur’an dengan suara keras berlebihan;
  5. Menjadikan suatu keharusan, sehingga menjadi adat di waktu tertentu.

Tata Cara Berziarah Menurut Imam Hanafi

  1. Lebih utama di hari Jum’at, Sabtu, Senin, dan Kamis;
  2. Saat di kuburan, lebih baik berdiri, begitu juga saat membaca doa, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ketika ziarah ke Baqi’;
  3. Bacaan saat berziarah adalah surat Yaasin, atau membaca apa yang mudah dalam Al Qur’an, lalu ditutup dengan bacaan “Allaahumma awshil tsawaaba maa qara’naahu ilaa fulaanin aw ilaihim” ;
  4. Baik jika diiringi sedekah, diniatkan pahalanya untuk saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia;
  5. Dianjurkan membaca shalawat;
  6. Membuka alas kaki;
  7. Disunnahkan mengucapkan salam, membaca Al Qur’an, dan berdoa;
  8. Saat mengucapkan salam, menghadap ke arah wajah mayit;
  9. Banyak menziarahi kubur orang-orang shalih.

***

Allahua’lam~

Download versi powerpoint-nya di sini >> Ziarah Kubur << ya.. 🙂

*) sumber gambar: click

Fiqh Menguburkan Jenazah #2

Kajian tanggal 16 Mei 2012 @Musholla Al Mushlihin

Perintah untuk melaksanakan penguburan:

“Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal.” (QS. Al Maidah: 31)

“Bukankah kami jadikan bumi untuk (tempat) berkumpul, bagi yang masih hidup dan yang sudah mati?” (QS. Al Mursalat 25-26)

“Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya” (QS. ‘Abasa: 21)

Bahwa semua Nabi dan Rasul dikubur setelah meninggal.

Karena tidak menguburkan jenazah berarti:

  • Tidak mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya;
  • Menghilangkan kemuliaan orang tersebut;
  • Dapat mengganggu orang lain karena baunya (bangkai yang terbau adalah bangkai manusia).

Tempat Penguburan

Lebih utama dikubur di pemakaman umum karena:

  • Nabi Muhammad menguburkan para sahabat di Baqi’;
  • Lebih banyak doa karena banyaknya yang berziarah;
  • Lebih menyerupai tempat akhirat;
  • Lebih meringankan beban bagi ahli waris.

Tidak mengapa dikubur di rumah karena Rasulullah dikubur di rumah ‘Aisyah. Namun, sebagian ulama melarang karena menganggap hal itu khusus bagi Rasulullah.

Baik bila dikubur di pemakaman yang mulia, yaitu di Baqi’ Al Gharqad atau tempat yang banyak terkubur orang-orang shalih demi mendapatkan keberkahan dari mereka.

Nabi Musa sendiri, sebelum meninggal memohon kepada Allah agar meninggal di dekat Tanah Suci.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : malaikat maut diutus menemui Musa dan setelah bertemu dengannya, Musa menampar dan melukai salah satu matanya. Malaikat itu kembali menemui Tuhannya dan berkata, “Tuhanku, Engkau telah mengutus aku menemui seorang hamba yang tidak menghendaki kematian”. Allah menyembuhkan matanya dan berkata, “temui dia kembali dan katakan padanya agar meletakkan telapak tangannya di atas seekor lembu jantan. Aku ijinkan ia untuk hidup lebih lama sesuai dengan banyaknya bulu (lembu jantan) yang tertinggal di bawah telapak tangannya. (maka malaikat itu menemui Musa dan mengatakan apa yang dikatakan Tuhannya). Kemudian Musa bertanya, “ Tuhan, apakah setelah itu?” Tuhan berkata, “setelah itu kematian”. Musa berkata, “(jika begitu) sekaranglah”. Musa memohon Allah membawanya ke sebuah tempat ke dekat Tanah Suci dengan jarak selemparan batu. Rasulullah Saw bersabda, “seandainya aku disana akan kuperlihatkan kubur Musa di dekat bukit pasir merah”. (HR. Bukhari)

Umar bin Khattab meminta kepada ‘Aisyah agar beliau dapat dikubur dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar Ash Shiddiq.

Siapa yang meninggal dunia di Madinah hendaknya dia menerimanya (dengan bahagia) karena tidak ada orang yang meninggal dunia di Madinah kecuali kelak aku akan memberi syafaat kepadanya. (HR. Tirmidzi)

Allahu a’lam bish shawab.. 🙂

Fiqh Menguburkan Jenazah #1

Bismillahirrahmanirrahim..

Melanjutkan kajian fiqh yang sempat vakum saya salin ke blog, hehe..

Membawa Mayit ke Negeri Lain

1. Menurut Hanabilah

Sunnahnya dikubur di tempat meninggalnya. Membawa mayit ke negeri lain tanpa ada “keperluan” hukumnya makruh. Keperluan di sini ada 3, yaitu:

  • Kalau meninggalnya di negeri yang banyak orang kafirnya. Dikhawatirkan nanti dikubur bersama orang-orang kafir.
  • Kalau di tempat meninggalnya tidak ada keluarga yang akan mengurus kuburnya.
  • Kalau di tempat meninggalnya tidak ada yang menziarahi. Maka boleh mencari pekuburan yang banyak peziarahnya karena artinya di sana akan ada banyak doa untuk si mayit.

Orang-orang yang meninggal di Perang Uhud, Rasulullah memerintahkan untuk mengembalikan mereka ke tempat mereka meninggal, padahal saat itu mereka sudah berada di Madinah. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i)

Berkata Abdullah bin Abi Mulaikah: Abdullah bin Abu Bakar wafat di Hubsyi, lalu beliau dibawa dan dikubur di Mekkah. Saat ‘Aisyah menziarahi kubur, beliau berkata: ‘”Demi Allah, seandainya aku hadir saat penguburanmu, aku tidak akan menguburkanmu, kecuali di tempat kamu wafat. Seandainya aku menyaksikan kamu, maka aku tidak akan menziarahimu.”(HR. Tirmidzi)

Menurut para ulama, diperbolehkan untuk bercita-cita meninggal di suatu tempat.

2. Menurut Hanafiyah dan Malikiyah

Tidak apa-apa mayit dipindahkan ke negeri lain sebelum dikubur. Hanafiyah: tidak mengapa dipindahkan ke tempat lain dengan jarak maksimal 2 mil atau lebih utama dikubur di tempat ia wafat.

3. Menurut Syafi’iyah

Diharamkan untuk memindahkan mayit sebelum dikubur ke negeri lain karena perbuatan ini akan memperpanjang waktu penguburan, padahal seharusnya mayit segera dikubur. Selain itu, dikhawatirkan dapat mengoyak kehormatan mayit. Jika terpaksa dipindahkan, jangan sampai jarak meninggal dan waktu penguburannya memakan waktu berhari-hari dan tidak dengan cara menyakiti mayit.

Tidak ada perbedaan antara para ulama bahwa yang membawa jenazah adalah laki-laki, baik untuk jenazah laki-laki maupun perempuan.

Mengangkat Jenazah

Ketika mengangkat jenazah dan membawanya menuju pemakaman, harus bersegera, tidak boleh berjalan dengan lambat, tapi juga tidak boleh terlalu cepat. Begitupun ketika pemakaman jauh dari tempat jenazah dishalatkan dan untuk mengantar jenazah ke pemakaman menggunakan mobil, juga harus bersegera.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersegaralah kalian ketika membawa jenazah. Apabila dia orang shalih, maka kalian akan segera mendekatkannya kepada kebaikan. Dan apabila bukan orang shalih, maka kalian segera meletakkan kejelekan dari punggung-punggung kalian”. (HR Muslim)

Antara berjalan kaki dan naik kendaraan, yang lebih afdhal adalah berjalan kaki.

Musholla Al Mushlihun, 25 April 2012

Fiqh Shalat Jenazah #2

Menshalatkan Lebih dari Satu Jenazah

Boleh manggabungkan beberapa jenazah dalam sekali shalat. Bila dikerjakan sekaligus, jenazah disusun ke arah kiblat, yang lebih alim diletakkan paling dekat dengan imam. Jika tempat tidak memungkinkan, diperbolehkan menyusunnya dengan berderet, dengan imam berdiri di hadapan jenazah yang lebih alim.

Namun, jika memungkinkan, lebih baik dishalatkan satu per satu, dengan jenazah yang paling alim sebagai urutan pertama.

Masbuk Shalat Jenazah

Jika ada makmum masbuk, ia mengikuti takbir imam, setelah imam salam kemudian menyempurnakan shalatnya. Sedangkan bacaan setelah takbir, disesuaikan dengan urutan takbir makmum, tapi gerakan takbirnya mengikuti imam. Misalnya, ketika masbuk saat imam berada di takbir kedua, maka masbuk ikut gerakan imam, tapi membaca Al Fatihah. Ketika imam salam dan jenazah akan segera dibawa ke pekuburan, makmum masbuk mempercepat shalat jenazahnya dengan tanpa membaca bacaan shalat jenazah.

Waktu Shalat Jenazah

1. Hanafiyah: dilarang di waktu-waktu terlarang shalat, seperti ba’da asar, ba’da subuh, dan saat matahari tepat berada di atas kepala.

2. Malikiyah dan Hanabilah: ketika matahari terbit, saat matahari tenggelam, dan ketika matahari tepat berada di atas kepala. Dasarnya: “Ada tiga waktu di mana Nabi n melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim)

3. Syafi’iyah: tidak mengapa dishalatkan kapan saja karena shalat jenazah termasuk shalat yang ada sebabnya, tetapi bila bisa dihindari, lebih utama. Hukumnya menjadi makruh. Shalat jenazah jangan sampai dikerjakan dalam waktu yang sangat dekat dengan masuknya waktu shalat fardhu, lebih baik menunggu azan terlebih dahulu, lalu shalat fardhu, kemudian barulah melaksanakan shalat jenazah.

Menshalatkan Jenazah Setelah Dikubur

1. Hanafiyah dan Malikiyah: makruh untuk berulang jika shalat yang pertama sudah dilakukan secara berjama’ah.

2. Syafi’iyah dan Hanabilah: tidak mengapa berulang, setelah dikubur, baru dishalatkan. Ini berdasarkan hadits: “Rasulullah sampai ke kubur yang masih basah, maka beliau shalat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat di belakang beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat diperbolehkan, karena yang tidak diperbolehkan shalat di kuburan adalah shalat yang ada sujud dan ruku’nya. Sedangkan shalat jenazah pada hakikatnya adalah doa untuk mayit.

Jika Jenazah belum Dishalatkan

1. Hanafiyah: Kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, sebaiknya dishalatkan di atas kuburnya.

2. Malikiyah: kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, jenazah dikeluarkan, dishalatkan, lalu dikubur lagi.

3. Syafi’iyah: kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, jenazah cukup dishalatkan di atas kuburnya, kecuali jika jenazah belum dimandikan, harus dikeluarkan dulu, dimandikan, baru dishalatkan.

Allahua’lam.. 🙂

Musholla Al Mushlihin

4 April 2012

Shalat Jenazah

Keutamaan Shalat Jenazah

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari)

dalam riwayat lain,

“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Hukum Shalat Jenazah

Hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah, sehingga jika sebagian kaum muslimin telah menyolatkan, maka sebagian yang lain tidak wajib ikut menyolatkan, atau gugur kewajibannya. Kecuali bagi yang mati syahid dalam peperangan, jumhur ulama berpendapat bahwa mereka tidak perlu dishalatkan. Namun, menurut madzhab Hanbali, pejuang yang mati syahid tetap dishalatkan, pendapat ini berdasarkan hadits:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw mensholatkan jenazah yang gugur di medan Uhud setelah 8 tahun dari kematian mereka, seperti orang yang hendak mengucapkan perpisahan kepada orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati. Lalu, beliau naik ke atas mimbar dan bersabda, “Sesungguhnya aku berada di hadapan kalian dengan sebuah pahala. Dan aku wajib memberikan kesaksian kepada kalian. Sungguh, tempat kembali kalian adalah telaga. Aku telah menyaksikannya dari tempatku ini, dan aku tidak pernah khawatir kalian akan musyrik. Akan tetapi, yang aku khawatirkan atas kalian adalah berlomba-lomba dalam urusan dunia.” Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Itulah terakhir kali aku menyaksikan Rasulullah saw.”[HR. Imam Bukhari]

Pada dasarnya, jenazah setiap muslim berhak untuk dishalatkan. Namun, menurut madzhab Hanafi, ada pula orang-orang yang tidak perlu dishalatkan jenazahnya, yaitu (1) perampok yang meninggal saat merampok (mengambil dengan kekerasan, bahkan ada yang tidak segan membunuh korbannya), (2) pemberontak yang meninggal saat memberontak, (3) anak yang membunuh orang tuanya (qishash), dan (4) orang yang meninggal karena bunuh diri. Alasannya adalah agar perbuatan-perbuatan ini tidak diikuti oleh orang lain. Untuk mereka yang sudah bertobat, maka tetap dishalatkan.

Menurut madzhab Maliki, golongan yang tidak perlu dishalatkan adalah orang yang telah dihukumi qishash dan ahlul bid’ah dalam hal aqidah. Maksud tidak dishalatkan di sini, hanya berlaku bagi imamnya, jadi jama’ahnya tetap menshalatkan. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan pelajaran.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah tidak ikut menshalatkan orang yang berzina, tetapi tetap memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya untuk menshalatkan si mayit.

Imam Shalat Jenazah

Menurut Hanafiyyah: pemimpin wilayah (sulthan), qadhi (hakim), imam rawatib (imam tetap pada suatu masjid), lalu wali laki-laki sesuai urutan dalam pernikahan. Pemimpin wilayah pada masa itu adalah juga seorang alim, tapi sekarang belum tentu. Dasar penetapan sulthan sebagai orang yang utama menjadi imam adalah: “Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya…”  (HR. Muslim)

Menurut Malikiyyah dan Hanabilah: yang diutamakan menjadi imam adalah orang yang mendapat wasiat. Hal ini didasarkan pada atsar Abu Bakar yang berwasiat agar Umar menjadi imam yang menshalatkan jenazahnya, Umar berwasiat agar Suhaib yang menshalatkan dirinya, ‘Aisyah berwasiat kepada Abu Hurairah, dan Ummu Salamah berwasiat kepada Said bin Zaid. Setelah orang yang diwasiati, barulah pemimpin wilayah lalu wali jenazah yang berhak mengimami.

Menurut Syafi’iyyah: yang paling berhak adalah walinya. Jika ada yang diwasiati selain wali, orang tersebut harus meminta izin kepada wali mayit untuk menjadi imam. Lebih utamanya adalah kerabat si mayit, kecuali jika kesedihan mereka berlebihan, seperti menangis meratap. Adapun atsar yang digunakan sebagai dalil oleh Malikiyyah dan Hanabilah boleh jadi karena telah disetujui oleh wali mayit.

Dalam aturan yang berhak mengimami shalat jenazah, berbeda dengan shalat fardhu. Pada shalat fardhu, yang lebih berhak adalah yang memiliki hafalan Al Qur’an dan lebih memahami hukum Islam.

Allahua’lam

Mushalla Al Mushlihin

28 Maret 2012