Fiqh Kelahiran: Pendahuluan

Kajian tanggal 8 Mei 2013 @Mushola Al Mushlihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

dua-anak-perempuanPada masa jahiliyah, orang-orang sangat malu memiliki anak perempuan. Pada masa itu, anak perempuan dianggap merupakan kehinaan bagi keluarga yang memilikinya. Lantas tidak sedikit yang menyembunyikan bahkan membunuh anak-anak perempuannya. Memiliki anak perempuan seolah memiliki anak yang tidak bermasa depan, mengingat betapa kejinya kaum jahiliyah memperlakukan wanita dewasanya.

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An Nahl: 58-59)

Oleh karena itu, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam datang dengan membawa ajaran Islam, diangkatlah kedudukan wanita dengan aturan Allah subhanahu wata’ala. Berikut ini adalah beberapa hadits tentang keutamaan memiliki anak-anak perempuan.

  • Penghalang dari neraka

Dari A’isyah radhiallahu’anha: “Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam datang dan masuk, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata: Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.(HR. Bukhari-Muslim)

  • Salah satu penyebab orang tuanya masuk surga

Dari A’isyah radhiallahu’anha: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yang membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya tiga butir buah kurma. Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma dan yang satu butir lagi ia ambil untuk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah dua dan diberikan kepada mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian beliau bersabda: Allah subhanahu wata’ala mewajibkan atasnya surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

  • Pada hari kiamat, didekatkan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengurus dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” , beliau merapatkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

  • Menumbuhkan kecintaan dalam keluarga

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kamu membenci anak perempuan, karena sesungguhnya mereka merupakan penumbuh kecintaan yang sangat berharga.(HR. Ahmad)

Selain hadits-hadits di atas, ada juga perkataan ‘ulama yang menyebutkan keutamaan memiliki anak perempuan, yaitu:

Shaleh bin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: Bila dikatakan kepada ayahku, telah lahir baginya anak perempuan, beliau akan mengatakan: “Para nabi adalah ayah dari anak-anak perempuan.”

Allahua’lam bish shawwab…

Advertisements

Amalan-Amalan Saat Hamil

Kajian tanggal 2 Mei 2013 @ Mushola Al Mushlihin

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Beberapa amalan yang hendaknya dilakukan saat hamil, baik bagi sang istri maupun suami, yaitu:

Pertama, Memperbanyak Istighfar

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu…” (QS. Nuh: 9-12)

images

(sumber gambar)

Kedua, Perbanyak Syukur atas kenikmatan ini agar Allah subhanahu wata’ala menambah kenikmatan berupa kesehatan dan anak-anak yang shalih/ah, yaitu syukur dalam hati, lisan, dan perbuatan, salah satunya dengan memperbanyak qiyamul lail. Sebaiknya tidak banyak mengeluh ketika hamil, harus senantiasa bersyukur.

Ketiga, Melakukan Proses Tarbiyah Sejak Anak Dalam Kandungan, seperti:

  • Menjaga perilaku dan perkataan
  • Menjaga ibadah fardhu dan sunah
  • Memperbanyak tilawah Al Quran dan berzikir; Nabi Zakaria ‘alaihissalam ketika mendengar kabar kehamilan istrinya:

“Maka ia (Nabi Zakariah alaihissalam) keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, ‘Hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11)

Keempat, Perbanyak Doa

Contoh doa yang dapat diamalkan:

  • Doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami, pasangan-pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam  bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

  • Doa Nabi Zakaria ‘alaihissalam:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء…

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang (keturunan) anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. (QS. Al Imran, 38)

Tentu doa di sini tidak terbatas pada doa-doa di atas. Doa yang dipanjatkan boleh yang ada di Al Quran, hadits, maupun dari ‘ulama.

Allahua’lam bish shawab

Tafsir Al Qur’an Surat Nuh: 13-20

مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (١٣
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?
Kata waqaara ditafsirkan sebagai keagungan Allah ta’ala. Ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan Adh Dhahhak.
وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (١٤
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.
Kata athwaaraa di sini ditafsirkan sebagai:
  • Proses penciptaan manusia (Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadah, Yahya bin Rafi, As Suddi, dan Ibnu Zaid)

Pada ayat lain,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu… (QS. Ghafir: 67)

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Nuthfah; Wahai Rabbku! Segumpal darah; wahai Rabbku! Segumpal daging. ” Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?” Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari)
  • Usia manusia: dari bayi, anak-anak, pemuda, orang tua
  • Keadaan manusia: sehat-sakit, kaya-miskin, melihat-tidak melihat.
  • Sifat manusia: perbedaan dalam perilaku mereka, budi pekerti, dan perbuatan

kapalnabi-nuh

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (١٥

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?

Maksudnya satu tingkatan di atas satu tingkatan lainnya.

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (١٦
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita.
Istilah nuur dan siraaj sama-sama berarti cahaya, tetapi keduanya berbeda kadarnya. Nuur diartikan sebagai cahaya yang tidak panas, dalam hal ini dikaitkan dengan cahaya bulan (Al Qamar) yang sifatnya tidak panas. Sedangkan siraaj adalah cahaya yang panas, yaitu cahaya matahari (Asy Syam). Dalam ayat lain, yaitu Surat Yunus: 5, Allah ta’ala menggunakan istilah dhiyaa’ yang semakna dengan kata siraaj.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٥
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus: 5)
وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا    (١٧) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (١٨
Dan Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikanmu ke dalam tanah dan mengeluarkanmu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.
Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, kemudian akan dikembalikan ke tanah ketika meninggal dunia. Dan pada hari kiamat, Dia akan mengembalikan manusia sebagaimana Dia menciptakan pertama kali.
Dalam ayat lain,
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah: 28)
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا (١٩) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا (٢٠
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menempuh jalan-jalan yang luas di bumi itu.
Maksudnya, Allah menghamparkan, membentangkan, meneguhkan, dan mengokohkan bumi dengan gunung-gunung yang tinggi menjulang agar manusia dapat menetap dan melintasi jalanan di sana kemana saja dikehendaki.
*) Kajian tanggal 30 April 2013 @Mushola Al Mushlihin oleh Ust. Abdurrahman Assegaf
*) Tafsir Ibnu Katsir, Penyusun: Dr. Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh

Khitbah #2

Kajian tanggal 2 Januari 2013 @ Mushola Al Mushlihin

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Siapakah Wanita yang Boleh Dikhitbah?

  • Bukan mahram muabbad, yaitu orang yang selamanya tidak boleh dinikahi (cth: ayah/ibu kandung, saudara kandung); maupun mahram ghairu muabbad, yaitu orang yang boleh dinikahi hanya setelah bercerai dari suami/istri (cth: ipar).
  • Tidak dalam masa ‘iddah, kecuali untuk yang cerai karena wafatnya suami, tetapi tidak boleh dinikahi sebelum 4 bulan 10 hari.
  • Tidak dalam lamaran orang lain.

Melihat Wanita yang Akan Dikhitbah

Boleh melihat sendiri atau mengirim orang lain untuk melihat wanita yang akan dikhitbah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, ia berkata, ”Mughirah bin Syu’bah berkeinginan menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Pergilah untuk melihatnya, karena dengan melihat akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua.’ Lalu ia melihatnya, kemudian menikahinya dan ia menceritakan kerukunannya dengan perempuan itu.” (HR. Ibnu Majah)

Batasan melihat:

  • Jumhur ‘ulama: wajah (mewakili kecantikan) dan kedua telapak tangan (mewakili kelembutan)
  • Hanafiyah: wajah, kedua telapak tangan, dan kedua kakinya sampai mata kaki
  • Hanabilah: wajah, tengkuk, kedua telapak tangan, kedua kaki sampai mata kaki, kepala, dan betis
  • Imam Auza’i: anggota tubuh yang ditumbuhi daging
  • Daud Azh Zhahiri: seluruh tubuh, kecuali kemaluan

Kelima pendapat tersebut didasarkan pada hadits berikut.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ الْمَرْأَةَ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَا يَدْعُوهُ إِلَى نِكَاحِهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika salah seorang dari kalian melamar seorang wanita, apabila ia dapat melihat darinya sesuatu yang membuat ia tertarik untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya” (HR. Abu Dawud)

khitbah1

(sumber gambar)

Pembatalan Khitbah (terkait hadiah yang diserahkan kepada calon istri)

  • Hanafiyah: semua barang yang diserahkan, wajib dikembalikan, kecuali yang sudah habis, semisal buah atau makanan.
  • Malikiyah: jika yang membatalkan pihak laki-laki, tidak perlu dikembalikan. Jika yang membatalkan pihak perempuan, semua pemberian harus dikembalikan, termasuk yang sudah habis, diganti dengan yang sejenis.
  • Syafi’iyah & Hanabilah: tidak wajib mengembalikan.

Allahua’lam bishshawwab..

Khitbah #1

Kajian tanggal 12 & 19 Desember 2012 @Mushola Al Mushlihin.

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Khitbah artinya menampakkan keinginan untuk menikahi seorang wanita, baik kepada wanita tersebut atau kepada walinya. Oleh karena itu, setelah khitbah tidak lama kemudian akan terlaksana pernikahan.

Hikmah khitbah (ketika sudah diterima): supaya saling mengetahui keinginan antara laki-laki dan perempuan untuk segera memasuki jenjang pernikahan.

Kalau belum dikhitbah (belum diterima khitbahnya), tidak ada larangan bagi laki-laki lain untuk mengkhitbah wanita tersebut.

Hukum khitbah adalah sunnah.

Dianjurkan bagi wali untuk memberikan motivasi (tarhib) kepada si wanita untuk menerima jika laki-laki tersebut beragama dan berakhlak baik dan memberikan ancaman (targhib) agar tidak menikahinya jika tidak baik agama dan akhlaknya.

khitbah

Syarat wanita yang dikhitbah:

  • Pastikan baik agama dan akhlaknya
  • Pastikan orang tuanya juga baik agamanya

Seperti yang dikatakan para ‘ulama, siapa yang mencari seorang gadis dengan orang tuanya yang tidak baik, seperti mengambil bunga yang indah & wangi dari tumpukan sampah. Memang bagus bunganya, tapi orang tersebut tetap akan terkena baunya dan kotornya sampah.

  • Lebih baik bukan dari kerabat dekat

Karena salah satu hikmah dari pernikahan adalah memperbanyak hubungan persaudaraan. Kalau dari kerabat dekat, tanpa pernikahan pun sudah dekat. Tapi kalau dari dengan orang yang jauh keluarga kita jadi bertambah, yaitu dari pihak suami atau istri. Dari dua keluarga yang awalnya tidak saling mengenal menjadi satu keluarga besar. Walaupun boleh menikah dengan kerabat dekat, tapi hikmah pernikahan tersebut jadi tidak didapat.

Ada riwayat mengatakan, “Janganlah kalian menikah dengan kerabat yang dekat, sungguh anak diciptakan (dilahirkan) dalam keadaan lemah.”  Mengenai riwayat ini, masih terjadi perbedaan pendapat antara ulama. Menurut Ibnu Shalah rahimahullah, riwayat ini tidak diketahui asalnya. Begitupula Ibnu Atsir rahimahullah, yang telah memasukkan perkataan ini pada kitabnya yang berjudul An-Nihayah Fi Ghorib al-Hadits wal Atsar (kitab yang menerangkan tentang hadits-hadits gharib). Meski demikian, menurut beberapa ‘ulama, hal ini tetap perlu dipertimbangkan. Menurut Ibnu Katsir, orang yang menikah dengan kerabat dekat dapat melemahkan syahwatnya karena ada rasa malu dan segan.

Lalu bagaimana dengan pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Azzahra?

Menurut para ‘ulama ini menunjukkan diperbolehkannya menikah dengan kerabat.

Bagaimana hubungannya dengan riwayat di atas?

Sebenarnya pernikahan Ali-Fatimah tidak termasuk kepada yang disebut hubungan kerabat dekat. Kerabat dekat itu maksudnya adalah sepupu.

  • Kafa’ah, seimbang dalam banyak hal.

Kafa’ah ini ditentukan oleh pihak wanita yang bisa saja diabaikan kalau pihaknya ridha dan lelaki tersebut baik agamanya. Kafa’ah perlu dipertimbangkan walaupun sifatnya tidak mutlak. Pertimbangan ini dimaksudkan agar nanti ke depannya tidak terdapat masalah menyangkut perbedaan akan sesuatu yang tidak seimbang ini.

Tapi kalau ada laki-laki yang ‘alim, agamanya sangat baik tapi dia miskin, maka itu sudah mencukupi. Hal ini dikarenakan kebaikan agamanya akan menutup kemiskinannya.

  • Selamat dari sesuatu yang dapat mengganggu hidup keluarganya.

Sesuatu di sini biasanya dari segi kesehatan. Diperbolehkan mencari tahu atau memberi tahu sesuatu yang dimaksud pada diri wanita yang akan dilamar maupun lelaki yang akan melamar tanpa menghinakan keduanya.

  • Tidak sedang dalam khitbah orang lain

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah bersabda, “Tidak boleh menjual salah seorang di antara kalian dalam penjualan orang lain dan tidak boleh melamar salah seorang di antara kalian dalam lamaran saudaranya, kecuali telah diberikan izin kepadanya.” (HR. Muslim)

Mengenai hal ini, ada penjelasan lebih rincinya di blog Kak PKJ.  Sila disimak.

Khitbah dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:

Pertama, secara langsung, laki-laki yang berniat mengkhitbah datang untuk mengkhitbah seorang wanita.

Kedua, melalui perantara, contohnya:

  • Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaaihi wasallam dengan Khadijah radhiallahu’anha diperantarai oleh Nafisah bin Munayyah.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi perantara dalam pernikahan Julaibib radhiallahu’anhu.
  • Utsman bin Affan radhiallahu’anhu menjadi perantara dalam pernikahan Abdullah radhiallahu’anhu.

Allahua’lam.

***

Slide powerpoint >> Khitbah-1 <<

Al Qur’an The Healing Book

al-quran-the-healing-bookJudul: Al Qur’an The Healing Book
Penulis: Ir. Abduldaem Al Kaheel
Penerjemah: M. Lili Nur Aulia
Penerbit: Tarbawi Press
Tebal: 200 halaman
Cetakan pertama November 2010
Harga: Rp 37.000 (beli di Toko Gunung Agung Tamini Square)

Al Qur’an memiliki beberapa nama lain. Nama ini tentu sesuai dengan fungsinya diturunkan ke muka bumi. Misalnya saja Al Huda, Al Quran berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang beriman. Nah, dalam buku ini dikupas salah satu fungsi Al Quran sebagai penyembuh atau Asy Syifa.

“Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra: 82)

Terapi Al Qur’an adalah membacakan ayat-ayat Al Qur’an kepada pasien selain doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. (halaman 13)
Terapi ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu pasien mendengarkan bacaan Al Qur’an atau pasien yang membacanya sendiri.

Berdasarkan penelitian, sel-sel dalam tubuh manusia bergetar sesuai frekuensi tertentu dan dipengaruhi oleh getaran yang dikirim dari luar tubuh. Nah, seseorang yang mengidap penyakit berarti telah terjadi ketidakseimbangan dalam getaran sel-selnya. Dengan diperdengarkan sesuatu, maka gelombang suaranya akan mempengaruhi getaran sel, sehingga getaran sel-sel menjadi harmonis dan kembali seimbang.

Selain mengupas tentang pengobatan dengan Al Qur’an, di dalam buku ini juga dijelaskan beberapa pengobatan nonkimiawi lainnya, misalnya dengan puasa, dengan asmaul husna, dengan istighfar, tafakkur, dengan madu dan zaitun, dengan obat-obat herbal, dan sebagainya meskipun kesemuanya itu tidak dibahas dengan sangat rinci karena untuk membahas pengobatan-pengobatan tersebut secara rinci sebaiknya dituangkan dalam buku lainnya, hehe.

Overall, buku ini sarat akan pengetahuan. Karena dibumbui penelitian-penelitian medis, buku ini insyaAllah mampu menguatkan keyakinan pembaca akan mukjizat Al Qur’an tersebut. Oh iya, meskipun penulis mempropagandakan pengobatan-pengobatan di atas, beliau tetap tidak melarang penggunaan obat-obat dari dokter karena hal tersebut juga merupakan bentuk usaha manusia dalam mencapai kesembuhan. Namun, beliau menekankan bahwa sebagai seorang muslim, tidak boleh melupakan Al Qur’an yang diturunkan sebagai Asy Syifa.

Happy reading. ^^

Zina: Hukum, Tingkatan, dan Hikmah Pelarangannya

Kajian tanggal 14 (part. 2) & 21 Nopember 2012. Saat ini kita memasuki sub-bab berikutnya, yaitu tentang zina.

***

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS.Al-Isra’ :32)

Dari ayat di atas dapat kita petik, bahwa bukan hanya zina yang dilarang, melainkan juga mendekati zina, misalnya saja soal pandangan.

Apa Pengertian Zina?

Zina adalah menggauli wanita tanpa aqad yang syar’i.

Hukum Berzina

Seluruh ‘ulama sepakat bahwa hukum zina adalah dosa besar. Bahkan pada ayat berikut, zina disebutkan bersamaan dengan musyrik dan membunuh.

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat dosa(nya). (QS. Al Furgan: 68)

Hukumannya disebutkan dalam QS. An Nur: 2

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat dan hendaklah hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

stop-zina

(sumber)

Tingkatan Zina

Orang yang berzina memiliki tingkat dosa yang berbeda-beda.

  • Dari segi objek

Pertama, zina dengan kerabat.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Siapa yang berzina dengan kerabatnya (muhrim), maka bunuhlah.” (HR. Ahmad)

Zina dengan kerabat adalah tingkatan dosa tertinggi dari segi objeknya. Namun, terjadi perbedaan, dibunuh jika pelaku sudah berkeluarga atau dibunuh bagi siapa saja yang melakukan, baik itu sudah berkeluarga maupun belum.

Kedua, zina dengan tetangga.

Abdullah bertanya kepada Rasulullah: “Dosa apakah yang terbesar di sisi Allah?” Rasul: “Engkau menjadikan untuk Allah sekutu padahal Dia yang telah menciptakanmu”, aku katakan: “Sungguh itu adalah besar, kemudian apa?” Rasul: “Engkau membunuh anakmu karena khawatir makan bersamamu”, aku katakan: “Kemudian apa?”, Rasul: “Engkau melakukan zina dengan istri tetanggamu”. (HR. Bukhari)

Zina dengan tetangga adalah dosa besar, terlebih jika tetangga tersebut sudah berkeluarga. Berlipat lagi jika ternyata masih ada hubungan kerabat.

Ketiga, liwath.

Menurut para ‘ulama, zina lawan jenis lebih besar dosanya daripada liwath (hubungan sesama jenis). Walaupun tidak ada risiko hamil, tetap dianggap zina, tapi tingkatan dosanya di bawah zina antara lawan jenis.

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang didapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah oleh kalian, yang melakukan, pelaku dan objeknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah; hadits hasan)

Hukum liwath:

  • Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishak: hukumnya dirajam, baik sudah menikah maupun belum. Untuk menghindarkan bala, karena dikhawatirkan akan terjadi azab seperti kaum Luth.
  • Menurut Hasan Al Basri, Ibrahim An Nakhai, dan Atha’ bin Abi Rabah, hukumannya sama dengan berzina, yaitu dirajam untuk yang sudah menikah, atau diasingkan dan dicambuk seratus kali bagi yang belum menikah.

Allah watching u

(sumber)

Kalau hal ini dilegalkan, maka atas izin Allah akan timbul musibah, terlebih di negara yang mayoritas muslim seperti Indonesia. Kalau di negara yang mayoritas orang kafir, tidak segera diazab karena dari awal mereka tidak memiliki aturan tentang ini, sedangkan dalam Islam ada.

Keempat, dengan hewan.

Terlaknatlah siapa yang mendatangi hewan.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Perbuatan ini tetap dihukumi zina, walaupun tidak sebesar dosa tingkatan zina di atasnya.

  • Dari keadaan pelakunya

Yang sudah menikah dosanya lebih besar dari yang belum menikah.

Orang tua yang berakal dosanya lebih besar dari anak muda.

Orang alim dosanya lebih besar dosanya dari orang bodoh.

Orang yang sudah merdeka lebih besar dosanya dari budak.

dst..

  • Dari sisi tempat dan waktunya

Semakin besar dosanya jika berzina di wilayah haram atau di bulan haram.

Hikmah Larangan Berzina

  • Sesuai dengan fitrah manusia

Fitrahnya manusia tidak rela jika ibu yang dicintainya, atau istri yang dikasihinya, atau putri yang disayanginya, atau saudara perempuan yang juga dicintainya dizinahi. Karena bisa jadi wanita yang dizinahi berstatus salah satu dari peran tadi. Bisa jadi sebenarnya dia adalah ibu dari seorang anak yang tidak akan rela bila ibunya berzina. Begitu seterusnya, seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya juga tidak akan rela istrinya berzina. Demikian pula sebaliknya untuk lelaki, bisa jadi ia adalah seorang ayah, seorang suami, seorang anak, atau seorang saudara yang orang-orang dekatnya tidak akan rela ia berzina.

  • Mencegah tercampurnya nasab

Dengan adanya zina dan terlahir anak, maka saat itulah tercampur nasabnya, antara yang sah dan yang tidak sah. Anak yang berasal dari hubungan perzinaan, bisa jadi dia mendapatkan waris, padahal seharusnya tidak. Dan bisa jadi dia bergaul dengan keluarganya yang lain seolah mereka muhrim, padahal bukan muhrim. Hal ini akan membingungkan, sehingga nasab menjadi tercampur aduk. Anak dari zina disebut sebagai waladul umm, bukan waladul ab.

  • Menjaga keutuhan rumah tangga

Dalam hubungan suami-istri salah satunya berzina, sudah jelas akan menghancurkan keutuhan rumah tangga. Dalam Islam, jika salah satu berzina, berarti sudah tidak bisa menjaga kehormatan, wajib dicerai. Tidak ada tempat untuk perasaan iba, karena syariat memerintahkan untuk langsung ditalak tiga. Jika suami yang berzina, istri bisa mengajukan ke hakim untuk bercerai.

  • Menjaga dari berbagai penyakit

Munculnya penyakit dalam diri pezina merupakan azab yang ditimpakan oleh Allah subhanahu wata’ala.

  • Menjaga kemuliaan wanita

Larangan berzina adalah suatu bentuk penghormatan bagi wanita. Sejak kedatangan Islam wanita begitu dijaga kemuliaannya, mengingat pada zaman jahiliyah justru wanita diperlakukan tidak manusiawi, dianggap sebagai benda dan pemuas laki-laki. Bahkan dulu anak perempuan dianggap sebagai aib.

  • Menjaga dari terjadinya kriminalitas

Dari zina, bisa memacu kriminalitas, contohnya pembunuhan bayi-bayi hasil zina.

Allahua’lam bish shawab

***

Versi powerpoint >> Zina << 🙂