Most Wanted Driver

Long time no see, readers… (kek ada yg baca aja nis)

Pernah gak sih kalian naik angkutan yang supirnya ituuu terus? Or at least kalian seringnya ketemu sama supir yang itu. Yep, sejak selalu pulang on time, saya sering ketemu sama supir angkot 01 yang “itu”, sebut saja Abang X. Abang X ini punya pelanggan setia yang yaa sebenernya gak sengaja juga sih naik angkotnya Abang X. Tapi kalo on timers keluar gerbang pas jodohnya ketemu angkot si Abang X terus, kita bisa apaah? Saking seringnya nganterin orang-orang yang sama, si abang sampe hafal Ibu A turun di mana, Bapak B turun di mana, dst.

Bukan angkot Abang X
Bukan angkot Abang X

Jadi, kenapa Abang X bisa dikasih gelar Most Wanted Driver? Satu, karena Abang X nyupirnya uhuy, pinter banget nyari celah di kemacetan Jakarta yang ampun-ampunan ini. Dua, si abang anti ngetem! Ini penting banget, guys. Lha, kok tumben supir angkot gak ngetem? Yaa karena si abang ini senantiasa berjodoh dengan orang-orang yang naik angkot jarak jauh, jadi dari gerbang kantor sampe Kampung Melayu selalu penuh angkotnya. Karena dua alasan di atas, jadilah kita-kita para on timers bisa sampe rumah lebih cepat. Senen-Kampung Melayu, dalam kemacetan yang kayak gitu, kurang lebih ditempuh dalam waktu 30 menit boook. Asa gak macet.

Sayangnya ada masa-masa si abang “menghilang” dari peredaran. Kalo udah gini siap-siap sampe rumah agak telat, soalnya kalo bukan sama Abang X, sampe Kampung Melayu bisa makan waktu 45-60 menit. Dan penumpang langganan pun merindukan kehadiran Abang X. 😀

[Pengingat Diri] Mengadu

Mengadu dan bicara tidak hanya memilih orang yang tepat, tapi juga tempat yang tepat.

Begitulah kalimat yang saya kutipkan dari halaman kedua majalah Tarbawi edisi 305. Hmm, segala yang kita perbuat agar hasilnya efektif memang memiliki requirements tersendiri. Istilahnya, syarat dan ketentuan berlaku. Sejauh mana pengaduan dan pembicaraan kita menuai hasil yang maksimal tentu bisa dilihat dari kepada siapa dan dimana kita melakukannya. Contoh sederhananya, kita ingin membicarakan masalah kantor dengan seseorang yang kompeten, konsultan misalnya. Dari segi kompetensi pribadinya (orangnya) kita tidak salah orang, tapi ketika konsultasi tersebut kita lakukan di bioskop, menuai hasil maksimalkah kita? (contohnya ekstrim ya? :p)

Ah, mungkin bisa ditambahkan lagi dengan waktu yang tepat. Jadi, orang yang tepat, tempat yang tepat, serta waktu yang tepat. Tidak pas kan, seseorang mengadukan masalah di sekolah (misalnya) saat suasana hati orang tuanya sedang tidak baik.

Kemudian saya iseng membuka sebuah situs kamus online untuk mengetahui arti kata “mengadu” dan saya kurang cocok membaca salah satu artinya. Pada poin ketujuh disebutkan bahwa mengadu adalah menyampaikan sesuatu yang memburuk-burukkan orang lain. Saya merasa tidak sepenuhnya setuju dengan arti kata tersebut, perlu ada yang ditambahkan karena mengadu tidak melulu terkait menjelek-jelekkan orang lain. Kalau boleh saya membuat pengertian sendiri, maka artinya akan seperti ini.

Mengadu adalah menyampaikan suatu permasalahan, baik itu terkait orang maupun kondisi.

mengadulah
(Source: click the picture; Edited by me)

Nah, mengadu (kepada orang lain) harus hati-hati, jangan sampai jatuhnya menjadi ghibah, membicarakan orang lain, apalagi kalau sampai menjadi fitnah. Amannya sih mengadunya sama Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah lagi. Begitu kata ustadz Yusuf Mansyur. Tapi apa tidak boleh mengadu kepada manusia? Boleh, apalagi jika itu salah satu ikhtiar (usaha) kita dalam memecahkan suatu masalah. Tapi harus tetap menghindari ghibah ya. ^_^

“Dia (Ya’qub ‘alaihissalam) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

[Sekadar Cerita] Septembernya Hilang

smile-quotes-010_large

Barusan saya iseng mengeklik kalender yang ada di pojok kanan atas (bukan dalam rangka Pemilu) blog saya, dan tahukah kamu apa yang saya temukan? Di tanggalan tersebut sebelum Oktober langsung Agustus. Kemanakah bulan Septembernya? Usut punya usut, pikir punya pikir..ternyata si September menghilang karena saya sama sekali tidak “menghiasi” blog ini dengan ketikan aduhai (woh!) saya di bulan itu.

Saya agak merasa bersalah karena terkesan pilih kasih dalam mengurus kedua blog saya. Kesannya anak pertama saya abaikan dan lebih memperhatikan si anak kedua. *maaf ya, Nak* Bulan ini harapannya bisa eksis dua-duanya, blog pribadi dan blog buku.

Oh iya, saya mulai langganan Tarbawi lagi lho. Yang lalu-lalu sempat berhenti karena sesuatu yang membuat saya kurang nyaman dan sudah disampaikan ke pihak Tarbawinya langsung.

Kabar lainnya, akhir pekan lalu suami cek darah lagi, alhamdulillah hasilnya sudah lebih baik. Bilirubin total & direknya sudah banyak turun, tapi masih di atas normal. Anti HAV-nya juga masih di atas normal. Jaundice-nya sudah tak terlihat, nafsu makannya pun jauuuuh lebih baik. Semoga pas cek lab berikutnya sudah normal lagi ya semuamuamuanya. 😀

Berikutnya, di kantor sudah ramai adik-adik kelas. Karena masih baru, mereka masih rajin bergerombol. Saya sebisa mungkin menunggu lift yang tidak ada gerombolannya, gerombolan siapa pun, entah itu pegawai baru atau pegawai lama. Nunggu lift yang agak sepian. I love the quiet one. Karena gedung yang saya tempati tidak terlalu crowded, jadi di lift kedua atau ketiga (atau keempat) biasanya agak sepi. Rela nunggu daripada ikut lift yang ramai. 😛

Terus, ini tanggal 1 Oktober, ya, hari pertama Jakarta Book Fair. Tahun ini JBF tidak diadakan di Istora Senayan, tapi di FX Sudirman. Entah format penyusunan buku-bukunya akan seperti apa, mengingat FX itu kan mall, beda sama Istora. JBF tahun ini diselenggarakan tanggal 1-6 Oktober. Silakan yang mau berkunjung.

*ketikannya fast pace ya.. ^_^

[Isi Kepala] Kanker

Belakangan saya sedang kepikiran tentang sebuah penyakit. Kalian pasti sudah sering mendengar namanya. Saya juga. Namanya penyakit “kanker”. Bukan, ini bukan sebuah singkatan dari Kantong Kering a.k.a bokek. Yah, walaupun efeknya bisa menyebabkan kantong kering betulan karena pengobatannya yang tidak murah.

Wikipedia sendiri punya definisi atas penyakit ini,

Kanker atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk: 1) tumbuh tak terkendali, 2) menyerang jaringan biologis di dekatnya, 3) bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.

Saya telah membaca dua novel yang sedikit bercerita tentang penyakit kanker, kedua tokoh penting yang mengidapnya akhirnya meninggal. Yang satu terkena leukemia mielositik akut. Satu lagi, saya tidak ingat terkena kanker apa. ._.

health(sumber gambar)

Diceritakan di kedua novel kalau depresi adalah efek samping kebanyakan mereka yang menderita kanker ganas. Manusiawi sih. Bagaimana tidak, penderita kanker merasakan sakit akibat kanker itu sendiri dan akibat proses penyembuhannya yang biasanya melalui kemoterapi. Belum lagi vonis kematian dari sang dokter, “Kamu bisa bertahan kira-kira dua sampai lima tahun lagi.” (Kebanyakan, orang yang divonis kek gini langsung jiper nih. Mood-swing? Mungkin banget juga.)

Soal kemo. Kemo sendiri memakan biaya yang tidak sedikit. Entah berapa kali mereka perlu dikemo untuk melemahkan (dan akhirnya menghentikan) perkembangan sel-sel kanker yang ada pada tubuh mereka. Entah berapa lembar uang yang perlu digelontorkan untuk sebuah kesembuhan. Hingga banyak yang tidak kuat menanggung biaya dan berhenti di tengah jalan. 😦

Membaca kedua novel ini membuat saya jadi lebih aware dengan apa yang saya (dan keluarga) makan. Jadi, bagi yang masih diberi kesehatan, yuk kita jaga. Makan makanan yang menyehatkan. Berikut ini nutrisi yang dapat mencegah kanker.

  • Serat
  • Vitamin (B, C, dan E)
  • Karotenoid (dalam ubi jalar dan talas)
  • Folat (kacang-kacangan)

Bawang putih juga berkhasiat membunuh bakteri yang dapat meningkatkan risiko kanker lho. Selain itu, senyawa yang mengandung sulfur pada bawang putih juga dapat menurunkan pembentukan senyawa karsinogen yang dihasilkan dari pengasapan daging (sate dan ayam bakar, misalnya). Dan, jangan lupa olahraga. #ntms

Allahumma ‘afini fi badani. Allaahuma ‘afini fi sam’i. Allahumma ‘afini fi bashari.

[Sekadar Cerita] Lebaran 1434 H versi beta

Lebaran tahun ini banyak hal yang berbeda. Ini kali pertama saya berlebaran di Kulon Progo, naik kereta dari Bandung pula. *Kok dari Bandung, Nis?* Hihihi. Ini karena kami kehabisan tiket mudik kereta dari arah Jakarta menuju Jogjakarta. Alhamdulillah beliau sigap mencari tiket kereta dari kota lain. Dan dua tiket itulah rizki kami. 😉 Jadi, skenarionya, kami harus ke Bandung dulu tanggal 2 Agustus naik travel, menginap di hotel dekat stasiun, baru keesokan paginya berangkat dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Wates.

Edisi bosan istirahat - keluar main bola
Edisi bosan istirahat – keluar ikut main bola (kiri ke kanan: suami, sepupu – Fajrin, adik ipar – Alya)

Sampai di rumah Bapak bertepatan dengan waktu buka puasa, setengah jam naik motor dari Stasiun Wates. Bapak menyambut kami dengan senyum ramahnya, seperti biasa. Ditemani Alya yang malu-malu. (Si bungsu dan anak perempuan Bapak satu-satunya ini memang tiap ketemu saya, awalnya malu-malu. Tapi setelah beberapa saat malu-malunya hilang. Dimulai dengan meminjam HP saya untuk bermain. :D)

Kedua, dari keluarga yang tidak terlalu besar, sekarang saya memiliki keluarga buesssaaarrr. Hehehe. Bapak mertua enam bersaudara, sedangkan Ibu mertua delapan bersaudara. Belum lagi jumlah sepupu dan keponakan. Ah, ditambah dua orang adik ipar. Jadi, salah satu yang saya rasakan dari lebaran ini adalah, RAMAI. Alhamdulillah… 😀

Keramaian suasana Ramadhan dan lebaran saya di Kulon Progo, bukan hanya berasal dari jumlah tambahan keluarga saya. Aktivitas warga di sana juga ramai lho. Di sana ada kegiatan dasawisma, yaitu pengajian yang anggotanya ibu-ibu dari sepuluh rumah. Jadi, dalam satu desa, ada beberapa kelompok dasawisma, yang memiliki jadwal pengajian berbeda-beda. Kemudian, untuk remaja, ada tadarus Quran tiap malam Ahad. Ada lagi yang berbeda, setiap selesai shalat Isya, ada penyampaian kultum oleh remaja masjidnya. Dan yang tidak kalah unik, tahun ini, remaja masjidnya mengadakan agenda “Cuci Motor Murah” bagi warga desa. Wah..Di lingkungan tempat tinggal saya belum ada yang seperti ini.

Karena satu dan lain hal, tahun ini saya absen menghabiskan libur lebaran di Purwodadi dan Wonogiri. Liburan sepenuhnya dihabiskan di Kulon Progo. Ada sedikit perbedaan pada menu lebaran antara Kulon Progo dan Purwodadi. Di Purwodadi tidak pernah ada sajian ketupat pada hari H lebaran. Ketupat baru disajikan pada lebaran kecil, yaitu sepekan setelah hari H lebaran. Kalau di Kulon Progo, ketupat bisa dinikmati sejak hari pertama lebaran, bahkan sore hari sebelumnya (kan masaknya dari siang). Ketupat yang kami makan saat itu karya perdana Bapak lho. 😉

Hari H lebaran, selain sibuk silaturrahim dengan sanak keluarga. Beberapa orang, termasuk saya, siaga di rumah simbah untuk membantu menyajikan minum ke tamu-tamu yang datang. Kalau lebaran, tamu di rumah simbah memang selalu membludak, bahkan sampai keesokan harinya. Bagusnya, tamu-tamu itu banyak datang hanya sejak sekitar pukul 9 pagi sampai menjelang zuhur saja. Simbah seolah punya jam kunjungan sendiri, hehe.

Nah, hari terakhir saya berada di Kulon Progo, ada acara silaturrahim trah mbah buyut. Artinya ada agenda masak-memasak lagi untuk ini. Bedanya, dalam agenda kali ini, sepupu-sepupu dari keluarga Bapak turun tangan semua, baik yang perempuan, maupun laki-laki. Silaturrahim seperti ini juga baru saya temui di sini. Di keluarga Ayah atau Mama tidak pernah ada acara semacam itu. Kalau ingin silaturrahim, ya berkunjung langsung ke rumah yang bersangkutan.

Yang saya suka dan selalu saya rindukan dari suasana di sana adalah nuansa kekeluargaan dan gotong royongnya masih sangat kental.

I am Happy

happy

(Salah satu) Katanya, mungkin karena aku terlalu bahagia…Entahlah, tapi yang pasti, ini karena kehendak-Nya… 😀

Salah Paham

menyampaikan pemahaman yang salah kepada orang lain, sehingga orang lain ikut salah paham, dan orang lain itu menyampaikan ke orang lain lagi hingga bertambah banyak yang salah paham…sungguh salah paham yang berdampak “sistemik”…

lucu