Sikap Seorang Muslim Kepada Muslim Lainnya

Resume Kajian Mushala Al Mushlihin 3 Desember 2013

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

Bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap muslim lainnya?

1.       Tidak menzalimi

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (H. R. Muslim)

2.       Menghentikan kezaliman

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi”. Mereka bekata, “Ya Rasulullah, orang yang dizalimi ini – yakni kami membelanya dari kezaliman – bagaimana kami menolong orang yang zalim? Lalu beliau bersabda, “Mencegah dia dari berbuat kezaliman, itulah cara menolongnya” (H. R. Bukhari)

3.       Saling menolong

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (H. R. Muslim)

4.       Saling mendoakan

Dari Abu Darda’ radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikkan bagi saudaranya sesama muslim yang berjauhan melainkan malaikat mendoakannya, mudah-mudahan engkau beroleh kebaikkan pula.” (H. R. Muslim)

5.       Saling peduli

Dari Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan kaum muslimin dalam mencintai,berkasih sayang dan berlemah lembut bagaikan satu jasad yang apabila salah satu anggota badannya merasa sakit maka sekujur tubuhpun ikut merintih juga ditambah dengan bergadang dan demam.” (H. R. Muslim)

6.       Saling mendukung dalam berdakwah

Dari Abu Musa radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain.” (H. R. Muslim)

Metode dakwah tiap orang bisa berbeda-beda, ada yang fokus pada aqidah, ada yang fokus pada akhlak, dan sebagainya. Dengan keragaman tersebut terjadilah saling melengkapi satu sama lain.

Allahu a’lam bish shawab..

Advertisements

[Pengingat Diri] Mengadu

Mengadu dan bicara tidak hanya memilih orang yang tepat, tapi juga tempat yang tepat.

Begitulah kalimat yang saya kutipkan dari halaman kedua majalah Tarbawi edisi 305. Hmm, segala yang kita perbuat agar hasilnya efektif memang memiliki requirements tersendiri. Istilahnya, syarat dan ketentuan berlaku. Sejauh mana pengaduan dan pembicaraan kita menuai hasil yang maksimal tentu bisa dilihat dari kepada siapa dan dimana kita melakukannya. Contoh sederhananya, kita ingin membicarakan masalah kantor dengan seseorang yang kompeten, konsultan misalnya. Dari segi kompetensi pribadinya (orangnya) kita tidak salah orang, tapi ketika konsultasi tersebut kita lakukan di bioskop, menuai hasil maksimalkah kita? (contohnya ekstrim ya? :p)

Ah, mungkin bisa ditambahkan lagi dengan waktu yang tepat. Jadi, orang yang tepat, tempat yang tepat, serta waktu yang tepat. Tidak pas kan, seseorang mengadukan masalah di sekolah (misalnya) saat suasana hati orang tuanya sedang tidak baik.

Kemudian saya iseng membuka sebuah situs kamus online untuk mengetahui arti kata “mengadu” dan saya kurang cocok membaca salah satu artinya. Pada poin ketujuh disebutkan bahwa mengadu adalah menyampaikan sesuatu yang memburuk-burukkan orang lain. Saya merasa tidak sepenuhnya setuju dengan arti kata tersebut, perlu ada yang ditambahkan karena mengadu tidak melulu terkait menjelek-jelekkan orang lain. Kalau boleh saya membuat pengertian sendiri, maka artinya akan seperti ini.

Mengadu adalah menyampaikan suatu permasalahan, baik itu terkait orang maupun kondisi.

mengadulah
(Source: click the picture; Edited by me)

Nah, mengadu (kepada orang lain) harus hati-hati, jangan sampai jatuhnya menjadi ghibah, membicarakan orang lain, apalagi kalau sampai menjadi fitnah. Amannya sih mengadunya sama Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah lagi. Begitu kata ustadz Yusuf Mansyur. Tapi apa tidak boleh mengadu kepada manusia? Boleh, apalagi jika itu salah satu ikhtiar (usaha) kita dalam memecahkan suatu masalah. Tapi harus tetap menghindari ghibah ya. ^_^

“Dia (Ya’qub ‘alaihissalam) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

[Sekadar Cerita] Septembernya Hilang

smile-quotes-010_large

Barusan saya iseng mengeklik kalender yang ada di pojok kanan atas (bukan dalam rangka Pemilu) blog saya, dan tahukah kamu apa yang saya temukan? Di tanggalan tersebut sebelum Oktober langsung Agustus. Kemanakah bulan Septembernya? Usut punya usut, pikir punya pikir..ternyata si September menghilang karena saya sama sekali tidak “menghiasi” blog ini dengan ketikan aduhai (woh!) saya di bulan itu.

Saya agak merasa bersalah karena terkesan pilih kasih dalam mengurus kedua blog saya. Kesannya anak pertama saya abaikan dan lebih memperhatikan si anak kedua. *maaf ya, Nak* Bulan ini harapannya bisa eksis dua-duanya, blog pribadi dan blog buku.

Oh iya, saya mulai langganan Tarbawi lagi lho. Yang lalu-lalu sempat berhenti karena sesuatu yang membuat saya kurang nyaman dan sudah disampaikan ke pihak Tarbawinya langsung.

Kabar lainnya, akhir pekan lalu suami cek darah lagi, alhamdulillah hasilnya sudah lebih baik. Bilirubin total & direknya sudah banyak turun, tapi masih di atas normal. Anti HAV-nya juga masih di atas normal. Jaundice-nya sudah tak terlihat, nafsu makannya pun jauuuuh lebih baik. Semoga pas cek lab berikutnya sudah normal lagi ya semuamuamuanya. 😀

Berikutnya, di kantor sudah ramai adik-adik kelas. Karena masih baru, mereka masih rajin bergerombol. Saya sebisa mungkin menunggu lift yang tidak ada gerombolannya, gerombolan siapa pun, entah itu pegawai baru atau pegawai lama. Nunggu lift yang agak sepian. I love the quiet one. Karena gedung yang saya tempati tidak terlalu crowded, jadi di lift kedua atau ketiga (atau keempat) biasanya agak sepi. Rela nunggu daripada ikut lift yang ramai. 😛

Terus, ini tanggal 1 Oktober, ya, hari pertama Jakarta Book Fair. Tahun ini JBF tidak diadakan di Istora Senayan, tapi di FX Sudirman. Entah format penyusunan buku-bukunya akan seperti apa, mengingat FX itu kan mall, beda sama Istora. JBF tahun ini diselenggarakan tanggal 1-6 Oktober. Silakan yang mau berkunjung.

*ketikannya fast pace ya.. ^_^

[Isi Kepala] Kanker

Belakangan saya sedang kepikiran tentang sebuah penyakit. Kalian pasti sudah sering mendengar namanya. Saya juga. Namanya penyakit “kanker”. Bukan, ini bukan sebuah singkatan dari Kantong Kering a.k.a bokek. Yah, walaupun efeknya bisa menyebabkan kantong kering betulan karena pengobatannya yang tidak murah.

Wikipedia sendiri punya definisi atas penyakit ini,

Kanker atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk: 1) tumbuh tak terkendali, 2) menyerang jaringan biologis di dekatnya, 3) bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.

Saya telah membaca dua novel yang sedikit bercerita tentang penyakit kanker, kedua tokoh penting yang mengidapnya akhirnya meninggal. Yang satu terkena leukemia mielositik akut. Satu lagi, saya tidak ingat terkena kanker apa. ._.

health(sumber gambar)

Diceritakan di kedua novel kalau depresi adalah efek samping kebanyakan mereka yang menderita kanker ganas. Manusiawi sih. Bagaimana tidak, penderita kanker merasakan sakit akibat kanker itu sendiri dan akibat proses penyembuhannya yang biasanya melalui kemoterapi. Belum lagi vonis kematian dari sang dokter, “Kamu bisa bertahan kira-kira dua sampai lima tahun lagi.” (Kebanyakan, orang yang divonis kek gini langsung jiper nih. Mood-swing? Mungkin banget juga.)

Soal kemo. Kemo sendiri memakan biaya yang tidak sedikit. Entah berapa kali mereka perlu dikemo untuk melemahkan (dan akhirnya menghentikan) perkembangan sel-sel kanker yang ada pada tubuh mereka. Entah berapa lembar uang yang perlu digelontorkan untuk sebuah kesembuhan. Hingga banyak yang tidak kuat menanggung biaya dan berhenti di tengah jalan. 😦

Membaca kedua novel ini membuat saya jadi lebih aware dengan apa yang saya (dan keluarga) makan. Jadi, bagi yang masih diberi kesehatan, yuk kita jaga. Makan makanan yang menyehatkan. Berikut ini nutrisi yang dapat mencegah kanker.

  • Serat
  • Vitamin (B, C, dan E)
  • Karotenoid (dalam ubi jalar dan talas)
  • Folat (kacang-kacangan)

Bawang putih juga berkhasiat membunuh bakteri yang dapat meningkatkan risiko kanker lho. Selain itu, senyawa yang mengandung sulfur pada bawang putih juga dapat menurunkan pembentukan senyawa karsinogen yang dihasilkan dari pengasapan daging (sate dan ayam bakar, misalnya). Dan, jangan lupa olahraga. #ntms

Allahumma ‘afini fi badani. Allaahuma ‘afini fi sam’i. Allahumma ‘afini fi bashari.

[Sekadar Cerita] Lebaran 1434 H versi beta

Lebaran tahun ini banyak hal yang berbeda. Ini kali pertama saya berlebaran di Kulon Progo, naik kereta dari Bandung pula. *Kok dari Bandung, Nis?* Hihihi. Ini karena kami kehabisan tiket mudik kereta dari arah Jakarta menuju Jogjakarta. Alhamdulillah beliau sigap mencari tiket kereta dari kota lain. Dan dua tiket itulah rizki kami. 😉 Jadi, skenarionya, kami harus ke Bandung dulu tanggal 2 Agustus naik travel, menginap di hotel dekat stasiun, baru keesokan paginya berangkat dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Wates.

Edisi bosan istirahat - keluar main bola
Edisi bosan istirahat – keluar ikut main bola (kiri ke kanan: suami, sepupu – Fajrin, adik ipar – Alya)

Sampai di rumah Bapak bertepatan dengan waktu buka puasa, setengah jam naik motor dari Stasiun Wates. Bapak menyambut kami dengan senyum ramahnya, seperti biasa. Ditemani Alya yang malu-malu. (Si bungsu dan anak perempuan Bapak satu-satunya ini memang tiap ketemu saya, awalnya malu-malu. Tapi setelah beberapa saat malu-malunya hilang. Dimulai dengan meminjam HP saya untuk bermain. :D)

Kedua, dari keluarga yang tidak terlalu besar, sekarang saya memiliki keluarga buesssaaarrr. Hehehe. Bapak mertua enam bersaudara, sedangkan Ibu mertua delapan bersaudara. Belum lagi jumlah sepupu dan keponakan. Ah, ditambah dua orang adik ipar. Jadi, salah satu yang saya rasakan dari lebaran ini adalah, RAMAI. Alhamdulillah… 😀

Keramaian suasana Ramadhan dan lebaran saya di Kulon Progo, bukan hanya berasal dari jumlah tambahan keluarga saya. Aktivitas warga di sana juga ramai lho. Di sana ada kegiatan dasawisma, yaitu pengajian yang anggotanya ibu-ibu dari sepuluh rumah. Jadi, dalam satu desa, ada beberapa kelompok dasawisma, yang memiliki jadwal pengajian berbeda-beda. Kemudian, untuk remaja, ada tadarus Quran tiap malam Ahad. Ada lagi yang berbeda, setiap selesai shalat Isya, ada penyampaian kultum oleh remaja masjidnya. Dan yang tidak kalah unik, tahun ini, remaja masjidnya mengadakan agenda “Cuci Motor Murah” bagi warga desa. Wah..Di lingkungan tempat tinggal saya belum ada yang seperti ini.

Karena satu dan lain hal, tahun ini saya absen menghabiskan libur lebaran di Purwodadi dan Wonogiri. Liburan sepenuhnya dihabiskan di Kulon Progo. Ada sedikit perbedaan pada menu lebaran antara Kulon Progo dan Purwodadi. Di Purwodadi tidak pernah ada sajian ketupat pada hari H lebaran. Ketupat baru disajikan pada lebaran kecil, yaitu sepekan setelah hari H lebaran. Kalau di Kulon Progo, ketupat bisa dinikmati sejak hari pertama lebaran, bahkan sore hari sebelumnya (kan masaknya dari siang). Ketupat yang kami makan saat itu karya perdana Bapak lho. 😉

Hari H lebaran, selain sibuk silaturrahim dengan sanak keluarga. Beberapa orang, termasuk saya, siaga di rumah simbah untuk membantu menyajikan minum ke tamu-tamu yang datang. Kalau lebaran, tamu di rumah simbah memang selalu membludak, bahkan sampai keesokan harinya. Bagusnya, tamu-tamu itu banyak datang hanya sejak sekitar pukul 9 pagi sampai menjelang zuhur saja. Simbah seolah punya jam kunjungan sendiri, hehe.

Nah, hari terakhir saya berada di Kulon Progo, ada acara silaturrahim trah mbah buyut. Artinya ada agenda masak-memasak lagi untuk ini. Bedanya, dalam agenda kali ini, sepupu-sepupu dari keluarga Bapak turun tangan semua, baik yang perempuan, maupun laki-laki. Silaturrahim seperti ini juga baru saya temui di sini. Di keluarga Ayah atau Mama tidak pernah ada acara semacam itu. Kalau ingin silaturrahim, ya berkunjung langsung ke rumah yang bersangkutan.

Yang saya suka dan selalu saya rindukan dari suasana di sana adalah nuansa kekeluargaan dan gotong royongnya masih sangat kental.

Tingkatan Usia Manusia

Kajian tanggal 17 Juli 2013 @Mushola Al Muslihin

oleh Ustadz Abdurrahman Assegaf

  • Fase Mahdi (bayi): usia 0 s.d. 2 tahun

Ketika berbicara tentang Nabi Isa ‘alaihissalam yang lahir di bawah pohon kurma (QS. Maryam: 23), Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian (الْمَهْدِ) dan ketika sudah dewasa dia adalah termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Al Imran: 46)

Pada masa inilah seorang anak hendaknya disusui ibunya.

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…” (QS. Al Baqarah: 233)

  • Fase Shabiy (anak-anak)
  1. Fase anak-anak pertama: 2 s.d. 6 tahun
  2. Fase anak-anak kedua: 6 s.d. 12 tahun

Dari Abu Qatadah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mendirikan sholat dan hendak memanjangkannya, aku mendengar tangisan anak kecil (الصَّبِيّ)  maka aku mempercepat sholatku karena aku tidak ingin menyulitkan ibunya.” (HR. Bukhari)

Pada fase ini, orang tua harus mulai memerintahkan anak untuk sholat dan mulai memisahkan tempat tidur anak-anak mereka, meskipun sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan.

pendidikan-anak-usia-dini(sumber)

Dari Amr bin Syuaib dari ayah dari kakeknya, Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah kepada anak-anak kalian untuk mendirikan sholat dan mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka dengannya (bila tidak mendirikan sholat) sedang mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah antara mereka di tempat tidur.” (HR. Abu Daud, shahih)

  • Fase Baligh (dewasa pertama): usia 12 s.d. 15 tahun.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Diangkat pena dari tiga; Orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga baligh dan orang gila hingga tersadar.” (HR. Abu Daud, shahih)

  • Fase Dewasa Kedua: usia 15 s.d. 18 tahun
  • Fase Dewasa Terakhir: usia 18 s.d. 21 tahun
  • Fase setelah dewasa & fase kemantapan: usia 21 s.d. 40 tahun

Allah ta’ala berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda (فِتْيَة) yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13)

Pada fase ini pula muncul anjuran untuk menikah.

Dari Abdullah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wahai para pemuda (مَعْشَرَ الشَّبَابِ), siapa yang telah ‘mampu’ maka hendaknya dia menikah, sungguh (pernikahan itu) lebih dapat menjaga pandangan dan menjaga kemaluan, dan siapa yang belum maka hendaknya dia berpuasa sungguh dia itu dapat menjadi pembendung.” (HR. Bukhari)

  • Fase Puncak: usia 40 s.d. 60 tahun

Pada fase inilah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam diangkat menjadi seorang nabi dan rasul.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu: “Diturunkan atas Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan beliau berusia 40 tahun, tinggal di Mekkah 13 tahun dan diperintahkan untuk Hijrah ke Madinah serta tinggal di dalamnya 10 tahun kemudian beliau shallallahu’alaihi wasallam wafat.” (HR. Bukhari)

  • Fase Syaikhukhah: usia 60 tahun s.d. wafat

Inilah rata-rata panjang usia umat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Umur (dalam riwayat lain: Umur-umur) ummatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Ketika kita diberikan umur bisa sampai di fase ini, seharusnya kita lebih banyak bersyukur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Allah subhanahu wata’ala mencabut udzur dari seseorang yang diakhirkan umurnya hingga mencapai enam puluh tahun.” (HR. Bukhari)

Maksudnya, jika sudah sampai fase ini, sudah tidak ada alasan untuk tidak memaksimalkan ibadah. Tapi bukan berarti semasa muda kita boleh mengesampingkan ibadah.

Menurut Imam Qurthubi rahimahullah, usia ini seharusnya digunakan untuk kembali kepada Allah ta’ala, khusyu’, dan berserah diri secara penuh kepada Allah karena merupakan usia yang mendekati untuk bertemu dengan-Nya.

Bahkan menurut Sufyan rahimahullah, siapa yang sudah mencapai seperti usianya Rasul shallallahu’alaihi wasallam,  maka hendaknya dia mengambil kain kafan untuk dirinya sendiri.

Allahua’lam bish shawwab. Slide kajian bisa didownload di sini.

Sebuah Episode Cinta

Pada bulan Shafar tahun 4 Hijriah, beberapa orang dari bani ‘Adhal dan Qarah datang menghadap Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan meminta beliau untuk mengutus sahabatnya agar mengajari mereka tentang agama dan Al Quran. Maka diutuslah enam orang sahabat menuju kediaman bani ‘Adhal dan Qarah di bawah pimpinan Martsad bin Abu Martsad Al Ghanawi. Menurut pendapat Ibnu Ishaq, berdasarkan riwayat dari Bukhari, yang diutus adalah sepuluh orang dan pemimpinnya ‘Ashim bin Tsabit.

khubaib1Sesampainya di Raji’, seratus orang pemanah mengepung utusan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Pemanah tersebut meminta para utusan turun dari tunggangan mereka. Namun, permintaan ini ditolak oleh ‘Ashim karena menurutnya ini adalah jebakan. Utusan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para pemanah bertempur hingga ‘Ashim dan keenam utusan itu terbunuh.

Khubaib dan Zaid bin Datsinah beserta seorang sahabat lainnya ditangkap dan djanjikan akan dilepaskan. Namun, para pemanah tersebut ingkar dan justru menawan ketiganya. Karena memberontak, orang ketiga akhirnya dibunuh. Sisanya dijual di Mekkah. Khubaib dibeli oleh Hujair bin Abu Lahab At Tamimy. Dia dibawa ke Tan’im untuk disalib. Sebelum disalib, Khubaib meminta izin untuk shalat dua raka’at dan dikabulkan.

khubaibSetelah shalat, Abu Sufyan bertanya, “Apakah engkau mau, jika posisimu ditukar, engkau kembali kepada keluargamu dengan selamat, dan Muhammad menggantikanmu di sini?”

Khubaib menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan membiarkan diriku selamat berada di tengah keluargaku, sementara Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam disakiti sepotong duri pun oleh kalian.”

Akhirnya, Khubaib disalib dan dibunuh oleh Uqbah bin Al Harits yang ayahnya dibununuh Khubaib pada Perang Badar. Dalam kitab Ash Shahih, disebutkan bahwa Khubaib adalah  orang pertama yang mendirikan shalat dua raka’at sebelum dihukum mati.

Sementara itu, Zaid bin Datsniah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah lalu dibunuh karena telah membunuh ayah Shafwan.

Orang-orang Quraisy mencari jasad ‘Ashim untuk dipotong bagian tubuhnya sebagai bukti bahwa dia benar-benar telah mati. Hal ini dikarenakan ‘Ashim adalah orang yang telah banyak membunuh para pemuka Quraisy di Perang Badar. Namun, Allah subhahanu wata’ala mengirimkan sekelompok lebah untuk menutupi jasad ‘Ashim. Berkaitan dengan hal ini, ‘Umar bin Khaththab berkata, “Allah telah menjaga jasadnya, sebagaimana Dia telah menjaganya sewaktu dia masih hidup.”

Sumber: Shirah Nabawiyah – Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury