Khitbah #1

Kajian tanggal 12 & 19 Desember 2012 @Mushola Al Mushlihin.

oleh Ust. Abdurrahman Assegaf

Khitbah artinya menampakkan keinginan untuk menikahi seorang wanita, baik kepada wanita tersebut atau kepada walinya. Oleh karena itu, setelah khitbah tidak lama kemudian akan terlaksana pernikahan.

Hikmah khitbah (ketika sudah diterima): supaya saling mengetahui keinginan antara laki-laki dan perempuan untuk segera memasuki jenjang pernikahan.

Kalau belum dikhitbah (belum diterima khitbahnya), tidak ada larangan bagi laki-laki lain untuk mengkhitbah wanita tersebut.

Hukum khitbah adalah sunnah.

Dianjurkan bagi wali untuk memberikan motivasi (tarhib) kepada si wanita untuk menerima jika laki-laki tersebut beragama dan berakhlak baik dan memberikan ancaman (targhib) agar tidak menikahinya jika tidak baik agama dan akhlaknya.

khitbah

Syarat wanita yang dikhitbah:

  • Pastikan baik agama dan akhlaknya
  • Pastikan orang tuanya juga baik agamanya

Seperti yang dikatakan para ‘ulama, siapa yang mencari seorang gadis dengan orang tuanya yang tidak baik, seperti mengambil bunga yang indah & wangi dari tumpukan sampah. Memang bagus bunganya, tapi orang tersebut tetap akan terkena baunya dan kotornya sampah.

  • Lebih baik bukan dari kerabat dekat

Karena salah satu hikmah dari pernikahan adalah memperbanyak hubungan persaudaraan. Kalau dari kerabat dekat, tanpa pernikahan pun sudah dekat. Tapi kalau dari dengan orang yang jauh keluarga kita jadi bertambah, yaitu dari pihak suami atau istri. Dari dua keluarga yang awalnya tidak saling mengenal menjadi satu keluarga besar. Walaupun boleh menikah dengan kerabat dekat, tapi hikmah pernikahan tersebut jadi tidak didapat.

Ada riwayat mengatakan, “Janganlah kalian menikah dengan kerabat yang dekat, sungguh anak diciptakan (dilahirkan) dalam keadaan lemah.”  Mengenai riwayat ini, masih terjadi perbedaan pendapat antara ulama. Menurut Ibnu Shalah rahimahullah, riwayat ini tidak diketahui asalnya. Begitupula Ibnu Atsir rahimahullah, yang telah memasukkan perkataan ini pada kitabnya yang berjudul An-Nihayah Fi Ghorib al-Hadits wal Atsar (kitab yang menerangkan tentang hadits-hadits gharib). Meski demikian, menurut beberapa ‘ulama, hal ini tetap perlu dipertimbangkan. Menurut Ibnu Katsir, orang yang menikah dengan kerabat dekat dapat melemahkan syahwatnya karena ada rasa malu dan segan.

Lalu bagaimana dengan pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Azzahra?

Menurut para ‘ulama ini menunjukkan diperbolehkannya menikah dengan kerabat.

Bagaimana hubungannya dengan riwayat di atas?

Sebenarnya pernikahan Ali-Fatimah tidak termasuk kepada yang disebut hubungan kerabat dekat. Kerabat dekat itu maksudnya adalah sepupu.

  • Kafa’ah, seimbang dalam banyak hal.

Kafa’ah ini ditentukan oleh pihak wanita yang bisa saja diabaikan kalau pihaknya ridha dan lelaki tersebut baik agamanya. Kafa’ah perlu dipertimbangkan walaupun sifatnya tidak mutlak. Pertimbangan ini dimaksudkan agar nanti ke depannya tidak terdapat masalah menyangkut perbedaan akan sesuatu yang tidak seimbang ini.

Tapi kalau ada laki-laki yang ‘alim, agamanya sangat baik tapi dia miskin, maka itu sudah mencukupi. Hal ini dikarenakan kebaikan agamanya akan menutup kemiskinannya.

  • Selamat dari sesuatu yang dapat mengganggu hidup keluarganya.

Sesuatu di sini biasanya dari segi kesehatan. Diperbolehkan mencari tahu atau memberi tahu sesuatu yang dimaksud pada diri wanita yang akan dilamar maupun lelaki yang akan melamar tanpa menghinakan keduanya.

  • Tidak sedang dalam khitbah orang lain

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah bersabda, “Tidak boleh menjual salah seorang di antara kalian dalam penjualan orang lain dan tidak boleh melamar salah seorang di antara kalian dalam lamaran saudaranya, kecuali telah diberikan izin kepadanya.” (HR. Muslim)

Mengenai hal ini, ada penjelasan lebih rincinya di blog Kak PKJ.  Sila disimak.

Khitbah dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:

Pertama, secara langsung, laki-laki yang berniat mengkhitbah datang untuk mengkhitbah seorang wanita.

Kedua, melalui perantara, contohnya:

  • Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaaihi wasallam dengan Khadijah radhiallahu’anha diperantarai oleh Nafisah bin Munayyah.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi perantara dalam pernikahan Julaibib radhiallahu’anhu.
  • Utsman bin Affan radhiallahu’anhu menjadi perantara dalam pernikahan Abdullah radhiallahu’anhu.

Allahua’lam.

***

Slide powerpoint >> Khitbah-1 <<

7 thoughts on “Khitbah #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s