Ziarah Kubur

Kajian tanggal 3 Oktober 2012 @Mushola Al Mushlihin.

***

Hukum Ziarah Kubur

Untuk laki-laki, sepakat seluruh ‘ulama memperbolehkan atau men-sunnahkan.

Untuk wanita, terjadi perbedaan pendapat, ada yang memperbolehkan dan ada yang melarang.

Menurut Abu Hanifah (Hanafiah), dianjurkan bagi laki-laki maupun wanita untuk berziarah.

Dalilnya antara lain:

  1. Dari Abu Buraidah ra, Rasulullah bersabda: “Dahulu, aku melarang kalian untuk berziarah, maka ziarahilah sungguh dalam berziarah itu ada pengingat (kematian).” (HR. Abu Daud)
  2. Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda: “Dahulu aku melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka ziarahilah, sungguh dengan berziarah menimbulkan sifat zuhud terhadap dunia dan mengingatkan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)
  3. Dari Buraidah ra, Rasulullah bersabda: “Kami telah melarang kalian untuk menziarahi kubur-kubur, maka ziarahilah…” (HR. Muslim)

Menurut para ‘ulama, ketiga hadits ini menyatakan adanya kedudukan nasikh (yang menghapus) dan mansukh (yang dihapus) antara ketiga hadits tersebut dengan hadits pelarangan ziarah yang pernah diriwayatkan sebelumnya.

Rasul dan Para Sahabat Berziarah

Dari Abu Hurairah ra, jika Rasul mendatangi kubur, beliau mengucapkan “Assalaamu’alaykum daara qaumi mukminiin, wa innaa insyaa Allaahu bikum laahiqun. Aku berharap kita dapat melihat saudara-saudara kita,” Mereka berkata, “Bukankah kami ini saudaramu, wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Kalian adalah para sahabatku dan saudara kita adalah mereka yang akan datang setelah kita.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah berziarah ke kubur ibunya, dan beliau menangis. Lalu menangis juga siapa yang berada di sekitarnya, lalu beliau bersabda: “Aku telah meminta izin kepada Allah untuk memintakan ampunan baginya dan Dia tidak memberikan izin kepadaku. Dan aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya, maka Dia memberikan kepadaku izin, maka ziarahilah kubur-kubur, sungguh dengan berziarah mengingatkan kepada kalian akan kematian.” (HR. An-Nasa’i)

Wanita Berziarah

Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah melewati seorang wanita yang menangis di kuburan, maka beliau berkata: “Ittaqillaaha washbiriy.” Wanita itu berkata: “Pergilah dariku, sungguh kamu tidak tertimpa musibahku dan kamu tidak merasakannya.” Lalu ada yang berkata padanya, “Beliau itu Rasulullah.” Maka wanita itu mendatangi pintu Rasulullah dan ia tidak menemui penjaga di depan pintunya, lalu dia berkata kepada Rasulullah: “Aku tidak mengenalmu.” Maka Rasulullah bersabda, “Sungguh kesabaran itu saat terjadi pertama kali.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa tidak dilarangnya seorang wanita berziarah. Jika dilarang, seharusnya dalam hadits tersebut dinyatakan (melalui perkataan atau perbuatan Rasulullah) pelarangannya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah melaknat para wanita yang berziarah kubur. (HR Tirmidzi, hasan shahih)

Sebagian ‘ulama mengatakan bahwa riwayat hadits ini ada sebelum diperbolehkannya berziarah dari Rasulullah. Namun, setelah munculnya hadits yang memperbolehkan, maka diperbolehkan bagi laki-laki juga wanita.

Sebagian ‘ulama yang lainnya mengatakan bahwa hadits ini maksudnya adalah memakruhkan ziarah bagi wanita karena kekurangsabarannya.

Sedangkan jumhur ‘ulama berpendapat sunnah berziarah untuk laki-laki dan makruh bagi wanita. Selain itu, diperbolehkan berziarah ke kuburan orang kafir, seperti hadits yang menceritakan kunjungan Rasulullah ke makam ibunya di atas.

Dimakruhkan bagi wanita karena sedikit kesabarannya, dan tidak diharamkan berdasarkan hadits dari Ummu Athiyyah ra, “Kami dilarang untuk mengikuti jenazah dan tidak melarang kami dengan azam.” (HR. Muslim)

Tata Cara Berziarah Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i

  1. Ziarah dianjurkan dan tidak ada waktu-waktu tertentunya, tapi hari Jum’at lebih utama karena kemuliaannya dan lebih senggang;
  2. Untuk wanita muda yang cantik dan dapat menimbulkan fitnah, diharamkan;
  3. Makruh makan, minum, dan bercanda saat ziarah;
  4. Makruh membaca Al Qur’an dengan suara keras berlebihan;
  5. Menjadikan suatu keharusan, sehingga menjadi adat di waktu tertentu.

Tata Cara Berziarah Menurut Imam Hanafi

  1. Lebih utama di hari Jum’at, Sabtu, Senin, dan Kamis;
  2. Saat di kuburan, lebih baik berdiri, begitu juga saat membaca doa, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ketika ziarah ke Baqi’;
  3. Bacaan saat berziarah adalah surat Yaasin, atau membaca apa yang mudah dalam Al Qur’an, lalu ditutup dengan bacaan “Allaahumma awshil tsawaaba maa qara’naahu ilaa fulaanin aw ilaihim” ;
  4. Baik jika diiringi sedekah, diniatkan pahalanya untuk saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia;
  5. Dianjurkan membaca shalawat;
  6. Membuka alas kaki;
  7. Disunnahkan mengucapkan salam, membaca Al Qur’an, dan berdoa;
  8. Saat mengucapkan salam, menghadap ke arah wajah mayit;
  9. Banyak menziarahi kubur orang-orang shalih.

***

Allahua’lam~

Download versi powerpoint-nya di sini >> Ziarah Kubur << ya..🙂

*) sumber gambar: click

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s