Bulan Syawwal

Kajian tanggal 4 September 2012 @Musholla Al Mushlihun. Sekalian memenuhi request-nya mbak Ziy..😀

——————————————————–

Di masa jahiliyah, bulan Syawwal adalah bulan yang sial untuk mengadakan pernikahan. Tapi, kemudian ditepis oleh Rasulullah melalui pernikahannya dengan ‘Aisyah pada bulan ini, seperti diriwayatkan dari ‘Aisyah, “Rasulullah menikahiku pada bulan Syawwal…” (HR. Muslim)

Ada amalan yang sangat ditekankan oleh Rasulullah pada bulan Syawwal, yaitu puasa 6 hari di bulan ini.

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengikutinya dengan 6 hari di bulan Syawwal, maka seakan-akan berpuasa 1 tahun.” (HR. Muslim)

Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi ada kalanya ia tidak berpuasa karena suatu uzur syar’i, insya Allah tetap akan mendapatkan keutamaannya jika ia mengamalkan puasa 6 hari ini.

Kedudukan Hadits

Hadits serupa juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah, Thabrani, dan lain-lain dari beberapa sahabat yang berbeda, seperti Abu Hurairah, ‘Aisyah, Tsauban, Jabir bin Abdullah al Anshari. Oleh karena itu, sebagian besar ulama mengatakan bahwa hadits ini shahih. Namun, ada juga yang men-dhaif-kan, seperti Sufyan ibnu Uyainah, yaitu guru Imam Bukhari.

Menurut Imam Ahmad, hadits ini masih diperselisihkan, tetapi para ulama telah mengamalkan isinya.

Hukum Puasa 6 Hari di Bulan Syawwal

  1. Menurut Imam Syafi’i , Imam Ahmad, dan Daud al Dhahiri: hukumnya sunnah, berpegang pada hadits riwayat Muslim di atas. Kalaupun ada ulama yang tidak melaksanakan hadits Imam Muslim tersebut, ini tetap tidak menghilangkan ke-sunnah-annya. Ini menurut Imam Syafi’i.
  2. Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik (gurunya Imam Syafi’i), dan Tsuri: hukumnya makruh karena dalilnya masih dalam perselisihan.
  3. Menurut Imam Malik, dalam kitabnya Al Muwattha’: “Saya tidak melihat seorang pun golongan ahli ilmu berpuasa di bulan Syawwal, maka hukumnya makruh…”
  4. Dalam riwayat lain, Imam Malik pernah berpuasa 6 hari di bulan Syawwal. Imam Ibnu Rajab mengatakan: Imam Malik melarang berpuasa (makruh)6 hari di bulan Syawwal jika orang itu beranggapan bahwa puasa itu wajib. Bagi yang beranggapan bahwa puasa itu tidak wajib, maka tidak mengapa melaksanakannya. Begitupula  para ulama tidak baik jika tidak menyebutkan hukum puasa tersebut kepada kaumnya.

Hukumnya yang paling kuat adalah sunnah.

Cara Melakukan

  1. Imam Syafi’i dan Ibnu Mubarak: lebih afdhal mengerjakannya dengan cara berurutan dimulai dari hari kedua di bulan Syawwal.
  2. Imam Waqi’ dan Imam Ahmad: tidak ada afdhaliyah, silakan, boleh dilakukan dengan cara terpisah selama bulan Syawwal, boleh juga berurutan.
  3. Ma’mar dan Abdurrazak: sebaiknya tidak dilakukan setelah ied karena di hari-hari itu adalah hari makan dan minum, tetapi hendaknya dilakukan 3 hari sebelum/sesudah ayyamul bidh.
  4. Ada yang mengatakan dilakukan kapan saja selama bulan Syawwal, tetapi dilarang di hari kedua karena seperti mencampur antara yang wajib dan sunnah. Akan tetapi, pendapat ini lemah.
  5. Sedangkan Usamah bin Zaid, setelah ied, puasa selama 1 bulan penuh. “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi dari Yazid bin Abdullah bin Usamah bin Al Had dari Muhammad bin Ibrahim bahwa Usamah bin Zaid melakukan puasa pada bulan-bulan haram. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Berpuasalah di bulan Syawal. ” Maka kemudian, ia tidak lagi berpuasa di bulan-bulan haram dan tidak pernah berhenti puasa Syawal hingga meninggal. ” (HR. Ibnu Majah)

Sebaiknya tidak dilakukan mepet akhir Syawwal, karena dikhawatirkan ada halangan, sehingga puasa Syawwal tidak sempurna 6 hari. Kalaupun terjadi, maka tidak dihitung puasa Syawwal, tetapi puasa sunnah mutlak.

Bagi yang Berhutang Puasa Ramadhan

Diutamakan untuk membayar hutangnya dulu, baru kemudian puasa Syawwal. Akan tetapi, jika waktunya tidak mencukupi, boleh puasa Syawwal dulu. Hal ini karena membayar hutang waktunya lebih panjang daripada puasa Syawwal. Ini berpegang pada hadits:

Aisyah berkata: “Aku memiliki hutang puasa bulan Ramadan. Aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah SAW.” (HR. Muslim)

Niat keduanya tidak boleh digabung. Kalaupun terjadi, maka jatuhnya puasa tersebut terhitung sebagai qadha, bukan puasa Syawwal.

Hikmahnya

  1. Seakan-akan berpuasa selama 1 tahun karena kebaikan dilipatgandakan hingga 10 kali lipat. “Barangsiapa berpuasa 6 hari setelah idul fitri maka ia seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (HR. Ibnu Majah)
  2. Syawwal dan Sya’ban kedudukannya seperti shalat rawatib.
  3. “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Ibnu Katsir) Begitupula hubungan antara puasa Syawwal dan puasa Ramadhan. Semoga dengan berpuasa Syawwal, merupakan tanda diterimanya puasa Ramadhan kita.
  4. Sebagai tanda syukur atas karunia Allah.
  5. Ibadah yang biasa dilakukan selama Ramadhan tidak terhenti setelah berakhirnya Ramadhan.
  6. Menyegerakan qadha Ramadhan.

Allahua’lam bish shawab..🙂

*) Gambar dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s