Fiqh Shalat Jenazah #2

Menshalatkan Lebih dari Satu Jenazah

Boleh manggabungkan beberapa jenazah dalam sekali shalat. Bila dikerjakan sekaligus, jenazah disusun ke arah kiblat, yang lebih alim diletakkan paling dekat dengan imam. Jika tempat tidak memungkinkan, diperbolehkan menyusunnya dengan berderet, dengan imam berdiri di hadapan jenazah yang lebih alim.

Namun, jika memungkinkan, lebih baik dishalatkan satu per satu, dengan jenazah yang paling alim sebagai urutan pertama.

Masbuk Shalat Jenazah

Jika ada makmum masbuk, ia mengikuti takbir imam, setelah imam salam kemudian menyempurnakan shalatnya. Sedangkan bacaan setelah takbir, disesuaikan dengan urutan takbir makmum, tapi gerakan takbirnya mengikuti imam. Misalnya, ketika masbuk saat imam berada di takbir kedua, maka masbuk ikut gerakan imam, tapi membaca Al Fatihah. Ketika imam salam dan jenazah akan segera dibawa ke pekuburan, makmum masbuk mempercepat shalat jenazahnya dengan tanpa membaca bacaan shalat jenazah.

Waktu Shalat Jenazah

1. Hanafiyah: dilarang di waktu-waktu terlarang shalat, seperti ba’da asar, ba’da subuh, dan saat matahari tepat berada di atas kepala.

2. Malikiyah dan Hanabilah: ketika matahari terbit, saat matahari tenggelam, dan ketika matahari tepat berada di atas kepala. Dasarnya: “Ada tiga waktu di mana Nabi n melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim)

3. Syafi’iyah: tidak mengapa dishalatkan kapan saja karena shalat jenazah termasuk shalat yang ada sebabnya, tetapi bila bisa dihindari, lebih utama. Hukumnya menjadi makruh. Shalat jenazah jangan sampai dikerjakan dalam waktu yang sangat dekat dengan masuknya waktu shalat fardhu, lebih baik menunggu azan terlebih dahulu, lalu shalat fardhu, kemudian barulah melaksanakan shalat jenazah.

Menshalatkan Jenazah Setelah Dikubur

1. Hanafiyah dan Malikiyah: makruh untuk berulang jika shalat yang pertama sudah dilakukan secara berjama’ah.

2. Syafi’iyah dan Hanabilah: tidak mengapa berulang, setelah dikubur, baru dishalatkan. Ini berdasarkan hadits: “Rasulullah sampai ke kubur yang masih basah, maka beliau shalat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat baginya dan bershaf-shaflah para sahabat di belakang beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat diperbolehkan, karena yang tidak diperbolehkan shalat di kuburan adalah shalat yang ada sujud dan ruku’nya. Sedangkan shalat jenazah pada hakikatnya adalah doa untuk mayit.

Jika Jenazah belum Dishalatkan

1. Hanafiyah: Kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, sebaiknya dishalatkan di atas kuburnya.

2. Malikiyah: kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, jenazah dikeluarkan, dishalatkan, lalu dikubur lagi.

3. Syafi’iyah: kalau kira-kira belum rusak tubuhnya, jenazah cukup dishalatkan di atas kuburnya, kecuali jika jenazah belum dimandikan, harus dikeluarkan dulu, dimandikan, baru dishalatkan.

Allahua’lam..🙂

Musholla Al Mushlihin

4 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s