Shalat Jenazah

Keutamaan Shalat Jenazah

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qiroth itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari)

dalam riwayat lain,

“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?” “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Hukum Shalat Jenazah

Hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah, sehingga jika sebagian kaum muslimin telah menyolatkan, maka sebagian yang lain tidak wajib ikut menyolatkan, atau gugur kewajibannya. Kecuali bagi yang mati syahid dalam peperangan, jumhur ulama berpendapat bahwa mereka tidak perlu dishalatkan. Namun, menurut madzhab Hanbali, pejuang yang mati syahid tetap dishalatkan, pendapat ini berdasarkan hadits:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw mensholatkan jenazah yang gugur di medan Uhud setelah 8 tahun dari kematian mereka, seperti orang yang hendak mengucapkan perpisahan kepada orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati. Lalu, beliau naik ke atas mimbar dan bersabda, “Sesungguhnya aku berada di hadapan kalian dengan sebuah pahala. Dan aku wajib memberikan kesaksian kepada kalian. Sungguh, tempat kembali kalian adalah telaga. Aku telah menyaksikannya dari tempatku ini, dan aku tidak pernah khawatir kalian akan musyrik. Akan tetapi, yang aku khawatirkan atas kalian adalah berlomba-lomba dalam urusan dunia.” Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Itulah terakhir kali aku menyaksikan Rasulullah saw.”[HR. Imam Bukhari]

Pada dasarnya, jenazah setiap muslim berhak untuk dishalatkan. Namun, menurut madzhab Hanafi, ada pula orang-orang yang tidak perlu dishalatkan jenazahnya, yaitu (1) perampok yang meninggal saat merampok (mengambil dengan kekerasan, bahkan ada yang tidak segan membunuh korbannya), (2) pemberontak yang meninggal saat memberontak, (3) anak yang membunuh orang tuanya (qishash), dan (4) orang yang meninggal karena bunuh diri. Alasannya adalah agar perbuatan-perbuatan ini tidak diikuti oleh orang lain. Untuk mereka yang sudah bertobat, maka tetap dishalatkan.

Menurut madzhab Maliki, golongan yang tidak perlu dishalatkan adalah orang yang telah dihukumi qishash dan ahlul bid’ah dalam hal aqidah. Maksud tidak dishalatkan di sini, hanya berlaku bagi imamnya, jadi jama’ahnya tetap menshalatkan. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan pelajaran.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah tidak ikut menshalatkan orang yang berzina, tetapi tetap memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya untuk menshalatkan si mayit.

Imam Shalat Jenazah

Menurut Hanafiyyah: pemimpin wilayah (sulthan), qadhi (hakim), imam rawatib (imam tetap pada suatu masjid), lalu wali laki-laki sesuai urutan dalam pernikahan. Pemimpin wilayah pada masa itu adalah juga seorang alim, tapi sekarang belum tentu. Dasar penetapan sulthan sebagai orang yang utama menjadi imam adalah: “Dan janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya…”  (HR. Muslim)

Menurut Malikiyyah dan Hanabilah: yang diutamakan menjadi imam adalah orang yang mendapat wasiat. Hal ini didasarkan pada atsar Abu Bakar yang berwasiat agar Umar menjadi imam yang menshalatkan jenazahnya, Umar berwasiat agar Suhaib yang menshalatkan dirinya, ‘Aisyah berwasiat kepada Abu Hurairah, dan Ummu Salamah berwasiat kepada Said bin Zaid. Setelah orang yang diwasiati, barulah pemimpin wilayah lalu wali jenazah yang berhak mengimami.

Menurut Syafi’iyyah: yang paling berhak adalah walinya. Jika ada yang diwasiati selain wali, orang tersebut harus meminta izin kepada wali mayit untuk menjadi imam. Lebih utamanya adalah kerabat si mayit, kecuali jika kesedihan mereka berlebihan, seperti menangis meratap. Adapun atsar yang digunakan sebagai dalil oleh Malikiyyah dan Hanabilah boleh jadi karena telah disetujui oleh wali mayit.

Dalam aturan yang berhak mengimami shalat jenazah, berbeda dengan shalat fardhu. Pada shalat fardhu, yang lebih berhak adalah yang memiliki hafalan Al Qur’an dan lebih memahami hukum Islam.

Allahua’lam

Mushalla Al Mushlihin

28 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s