Resensi: Rumah Cokelat (Sitta Karina)

Bismillahirrahmanirrahim…

Kali ini saya ingin mencoba membuat sebuah resensi dari buku yang pernah saya pinjam dari teman kosan, Rumah Cokelat. Pertama kali mendengar judulnya, saya berpikir bahwa buku ini bercerita tentang bisnis makanan Cokelat atau sejenisnya, tapi ternyata bukan. Buku ini belabel Mom-lit di halaman mukanya. Namun, bukan berarti buku ini hanya boleh dibaca oleh kaum ibu, para remaja atau yang belum menikah pun tetap saya rekomendasikan untuk membacanya. Belajar boleh dong?!πŸ˜€

Judul: Rumah Cokelat

Penulis: Sitta Karina

Penerbit: Buah Hati

Tebal buku: 226 halaman

Ukuran: 13 x 19 cm

Harga: Rp 38.000,00

Novel ini bercerita mengenai kehidupan rumah tangga Hannah Andhito, seorang ibu muda, menyukai kegiatan melukis dengan cat air, dan memiliki karir yang cemerlang di Jakarta. Awalnya ia berpikir bahwa kehidupan rumah tangganya bersama Wigra -yang bekerja sebagai konsultan IT- baik-baik saja. Namun, ketika pada suatu pagi ia mendengar anak semata wayangnya menyebut nama pengasuhnya dalam tidur, mulailah ia gelisah. Ia mulai takut tidak memiliki tempat di hati sang anak, cemburu pada sang pengasuh. Sejak saat itu ia benar-benar bertekad untuk menjadi ibu yang baik bagi anaknya, bagi keluarganya.

Usaha Hannah untuk menjadi ibu sejati tidaklah mudah. Banyak aral melintang di depan, mulai dari Eyang Ti yang terlalu memanjakan Razsya, sampai pada perubahan drastis yang harus ia jalani karena kepergian Upik, pengasuh anaknya. Sukseskah ia menjalani kehidupan barunya? Jawabannya dapat ditemukan setelah membaca buku ini sampai habis.

Rumah Cokelat memberikan pengajaran kepada pembacanya mengenai hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh seorang ibu dan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh mereka dengan cara yang menyenangkan, tidak kaku dan membosankan. Pengajaran ini dapat pembaca temukan dalam alur cerita novel dengan mudah, contohnya saja Hannah yang selalu berusaha untuk tidak berbohong pada si kecil Razsya, meskipun itu sebuah white-lie.

Bahasa yang digunakan oleh penulis campuran, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Cukup menunjukkan bahwa pasangan tokoh dalam cerita adalah orang yang berpendidikan tinggi. Namun, yang kurang saya sukai adalah adanya umpatan-umpatan dalam bahasa Inggris di dalamnya.

Menurut teman saya yang mengikuti perkembangan novel-novel karya Sitta Karina, novel Rumah Cokelat ini tidak se-complicated novel-novelnya yang sebelumnya. Overall, novel ini saya kategorikan sebagai a should-read book, meskipun saya kurang suka endingnya karena melenceng dari harapan saya ketika membaca buku ini. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s