Fiqh Mewudhukan, Memandikan, dan Mengkafani Jenazah

Bismillahirrahmanirrahim..

Insya Allah mulai sekarang jika tidak ada halangan saya akan menuliskan materi kajian yang pernah saya ikuti. Berikut ini akan saya tuliskan materi kajian di Musholla Muslihin, Gedung Sutikno Slamet pada hari Rabu, 7 Maret 2012. Sebelumnya, saya sampaikan bahwa tiap hari Selasa dan Rabu pukul 07.30, di musholla ini ada kajian tafsir (Selasa) dan fiqh (Rabu). Bagi yang berkenan hadir, dipersilakan..🙂

***

Mewudhukan Jenazah

Dari Ummu Athiyah radhiallahu’anha, ketika salah seorang putri Rasulullah meninggal, yang memandikan adalah para shahabiyah. Rasulullah berkata, “Mulailah dengan bagian kanan dan anggota wudhunya.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadits ini dapat disimpulkan bahwa mewudhukan jenazah adalah hal yang dianjurkan, kecuali bagi anak kecil.

Dalam mewudhukan ini terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama:

  1. Menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, mewudhukannya tidak perlu kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung.
  2. Menurut Mazhab Malik dan Syafi’i, cukup dimasukkan air sedikit sambil memiringkan badan jenazah agar air keluar lagi.
Memandikan Jenazah

Memandikan jenazah harus seperti mandi junub, meratakan air ke seluruh tubuh setelah membersihkan najis dengan air yang suci. Untuk lebih berhati-hati, agar benar-benar rata, bisa diulang sampai tiga kali.

Jika seseorang meninggal saat berihram tidak perlu diberi minyak wangi dan tidak ditutup kepalanya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas mengenai orang yang jatuh dari hewan tunggangannya kemudian lehernya patah, “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, serta kafankan dia dengan kedua pakaiannya, tapi janganlah kalian mengolesinya dengan wewangian dan menutupi kepalanyam karena pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah.”

Air yang digunakan untuk memandikan, mazhab Syafi’i dan Hanbali  berpendapat menggunakan air hangat ditambah daun bidara. Sedangkan mazhab Hanafi berpendapat menggunakan air yang dimasak terlebih dahulu lebih baik. Para ulama sepakat untuk memandikan jenazah menggunakan air biasa, tapi kalau darurat bisa juga digunakan air hangat.

Mengkafani Jenazah

Mengkafani jenazah hukumnya fardhu kifayah. Uang yang digunakan untuk mengadakan kain kafan bisa dari harta warisan yang ditinggalkan setelah semua utang dibayar. Jika tidak ada atau tidak memenuhi, boleh dari orang yang menafkahi jenazah semasa hidupnya. Jika tidak ada, dari baitul maal (kas negara)/dana kematian. Jika tidak ada, dari muslim yang mampu di sekitarnya. Jika tidak memenuhi, boleh dari sumbangan kaum muslim di lingkungannya. Kalau masih tidak memenuhi, boleh pakai kain  seadanya, yang terpenting adalah aurat jenazah tertutup.

Sunnahnya kain kafan yang digunakan berwarna putih, diberi wewangian, kecuali yang meninggal saat sedang berihram. Jumlah kafan bagi jenazah laki-laki adalah 3 lembar, tetapi para ulama menyepakati 1 lembar pun boleh, asal tebal, dan warna kulit jenazah tidak terlihat. Sedangkan bagi wanita 5 lembar. Namun, untuk jumlah kain bagi jenazah wanita ini terdapat perbedaan pendapat. Ada juga yang berpendapat bahwa jenazah wanita tetap dikafani setebal 3 lembar kain kafan karena dalil yang menjadi dasar ditetapkannya 5 lembar kain bagi wanita dinilai tidak shahih sanadnya oleh Syaikh al Albani.

Namun dalam hal ini, banyak ahlul ilmi yang menyenangi agar seorang wanita dikafani dengan lima lembar kafan, tidak lebih, bila memang dibutuhkan untuk lebih menutupi tubuhnya, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnul Mundzir: “Mayoritas ahlul ilmi yang kami hafal dari mereka berpandangan wanita dikafani dengan lima kain kafan. Hal ini disenangi karena wanita semasa hidupnya harus ekstra dalam menutup tubuhnya daripada lelaki karena auratnya yang lebih dari lelaki.” Lima kain ini berupa kain yang disarungkan ke bagian aurat dan sekitarnya, dira’ (baju) dipakaikan ke tubuhnya, kerudung, dan dua kain yang diselimutkan ke seluruh tubuhnya sebagaimana mayat lelaki. (Al-Mughni, 2/173)

Pilih kain kafan yang bagus, jika mampu. Tidak menggunakan sutera untuk laki-laki, tapi boleh untuk wanita. Kain kafannya harus suci dari najis dan halal cara memperolehnya. Menggunakan kain kafan yang indah, tapi tidak berlebihan.

Allahua’alam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s