Ibuku Bermata Satu

Sebuah renungan..yang saya dapat dari majalah Media Keuangan No. 52/ Minggu IV November – Minggu III Desember 2011..

IBUKU BERMATA SATU

Ini adalah kisah tentang aku dan ibuku. Waktu itu aku masih berumur 8 tahun saat ayah meninggal karena sakit keras. Ibu dan aku anaknya satu-satunya hidup dalam kemiskinan. Untuk membiayai hidup kami, Ibu menerima pesanan katering.

Suatu hari, Ibu membuatkan pesanan katering untuk guru-guruku di sekolah. Tentu saja ia datang menemuiku tepat saat aku sedang bermain dengan teman-teman. Ini akan jadi cerita biasa jika ibuku normal. Sejak saat itu, teman-teman pun mulai mengejek Ibu. Dan aku, bukannya membela Ibu, aku malah marah-marah.

“Ma…kenapa engkau hanya memiliki satu mata?! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang, kenapa engkau tidak segera mati saja?!” Begitulah, kekesalanku pada Ibu meluap-luap, sampai-sampai aku berharap Ibuku segera lenyap dari muka bumi. Saat itu entah mengapa ibu tidak menanggapi kemarahanku. Ia hanya diam. Aku merasa tidak enak, namun di saat yang sama, aku merasa harus mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini. Mungkin karena ibuku tidak pernah menghukumku, akan tetapi aku tidak berpikir kalau aku telah sangat melukai perasaannya.

Semenjak saat itu, aku bertekad untuk segera lepas dari ibu. Menjadi orang dewasa dan sukses. Untuk itu, aku belajar dengan sangat keras. Yah, akhirnya aku berhasil meninggalkan Ibu. Aku lulus beasiswa di luar negeri.

Aku sukses dalam banyak hal, kuliahku lancar, bahkan setelah lulus aku menikah, punya rumah dan anak yang lucu. Aku menyukai tempat tinggal ini karena tempat ini dapat membantuku melupakan ibu. Kebahagiaan ini bertambah besar dan besar, sampai suatu ketika Ibuku berdiri tepat di halaman rumahku, masih dengan mata satunya. Seolah-olah langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku lari ketakutan melihat ibuku yang bermata satu.

“Berani sekali kamu datang ke rumahku dan menakut-nakuti anak-anakku! Keluar dari sini! Sekarang juga!” Aku memaki ibu seolah-olah aku tak mengenalnya. Ibuku hanya menjawab lirih.

“Oh, maafkan aku. Aku mungkin salah alamat?” Kemudian Ibu berlalu dan menghilang dari pandanganku.

Entah mengapa saat itu aku merasa lega karena ia tak mengenaliku dan memilih pergi daripada meyakinkanku bahwa dia adalah Ibuku. Kukatakan pada diriku kalau aku tidak akan khawatir, aku tidak akan memikirkannya lagi.

Beberapa hari kemudian, sebuah undangan untuk menghadiri reuni sekolah dikirim ke alamat rumahku. Dan untuk bisa pergi ke sana, aku pun berbohong pada istriku bahwa aku pergi untuk urusan kantor.

Setelah reuni sekolah usai, naluriku membawa langkah kakiku ke sebuah gubuk tua di depan sekolah. Ya, itu rumahku. Kulihat Ibu tergeletak di lantai tanah yang dingin sambil menggenggam selembar kertas. Sebuah surat untukku.

Anakku… Aku rasa hidupku cukup sudah kini. Dan… aku tidak akan pergi mengunjungimu lagi… Tapi apakah terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang datang mengunjungiku sekali-sekali? Aku sungguh sangat merindukanmu… Dan aku gembira saat kudengar engkau datang pada reuni sekolah. Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Demi engkau… Dan aku sangat menyesal karena aku hanya memiliki satu mata. Aku telah sangat mempermalukan dirimu. Kau tahu, ketika engkau masih kecil, engkau mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan hanya memiliki satu mata. Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu… Aku sangat bangga akan dirimu yang telah dapat melihat sebuah dunia yang baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut. Aku tidak pernah marah dengan apa yang pernah kau lakukan.

Belum habis kubaca surat dari Ibu, tenggorokanku tercekat, pikiranku berkecamuk. Jadi, selama ini Ibu yang kubenci adalah penyelamatku? Ibu yang bahkan tak kuanggap adalah orang yang matanya didonorkan untukku?

Sumber: http://www.setjen.depkeu.go.id/data/mkeuangan/desember2011/index.html

***

Ketika membaca cerita ini, saya teringat dengan status kawan saya, “Jika orang tua punya harta, anak jadi raja. Jika anak punya harta, orang tua jadi pekerja.”

Mungkin ada beberapa dari kita sekarang ini sedang dalam posisi menjadi raja. Disayang oleh orang tua, dimanja, tiap apa yang kita minta/butuhkan langsung difasilitasi. Banyaaaak sekali yang telah orang tua berikan untuk kita.

Akan tetapi, di tempat lain. Tahukah kawan? Di panti-panti jompo itu, banyak orang tua yang ditelantarkan oleh anak-anak mereka. Setelah pengorbanan para orang tua itu untuk anak-anaknya, tak jua tersentuh hati sang anak untuk membalas, merawat orang tua mereka.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan anak-anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua kita. Allahumma aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s